Indonesia Kalah Gugatan, Jokowi Makin Bernyali, Malah Stop Ekspor Bauksit

Kefaspelita
IMG 20221226

 Jakarta, 24/12/2022  – PN NEWS Presiden Jokowi memang tidak ada takut-takutnya. Setelah Jokowi memutuskan melarang ekspor nikel, negara-negara Uni Eropa kelabakan. Bahan mentah yang sekiranya dipakai untuk diolah jadi barang lain akhirnya distop Indonesia. Indonesia adalah salah satu penghasil nikel terbesar di dunia. Dengan dihentikan ekspor nikel, bayangkan berapa banyak pabrik yang kelimpungan dan dilanda panik luar biasa.

Karena itulah, Uni Eropa menggugat Indonesia ke WTO. Dan ternyata Indonesia kalah. Tapi Indonesia tidak mau menyerah langsung, sehingga memilih jalur banding dan menyiapkan kuasa hukum terbaik di bidangnya.

Proses banding ini masih lama dan kadang butuh waktu bertahun-tahun.

Tapi itu tidak membuat Jokowi kapok, melainkan malah makin menjadi-jadi dan menantang balik.

Jokowi bahkan menantang semua negara yang merasa dirugikan atas kebijakan larangan ekspor bahan mentah RI, agar melakukan gugatan ke WTO. Jokowi menegaskan tidak akan gentar terhadap gugatan tersebut. Itu tidak akan menyurutkan langkahnya sebagai pemimpin Indonesia.

“Meskipun kita digugat, tidak apa-apa. Nikel digugat, ini nanti yang kita umumkan hari ini digugat lagi, tidak apa-apa. Suruh gugat terus. Yang kedua digugat belum rampung, ketiga kita setop lagi. Digugat, tidak apa-apa,” katanya dalam Outlook Perekonomian Indonesia 2023 di Jakarta.

Malah Jokowi kemarin secara resmi mensahkan pelarangan ekspor bauksit yang akan berlaku efektif pada Juni 2023. Tujuannya semata demi menciptakan hilirisasi sehingga dapat menambah nilai tambah bagi Indonesia.

“Hari ini akan kita tambah lagi. Kalau kemarin stop nikel. Hari ini nanti akan kita umumkan lagi satu komoditas yang kita miliki. Setelah dari sini, saya akan umumkan lagi stop (ekspor). Tidak bisa kita biarkan lagi ekspor bahan baku mentah ” kata Jokowi.

Larangan ekspor bahan mentah memberikan keuntungan berkali lipat buat Indonesia. Jokowi menyebut nilai ekspor nikel dalam bentuk bahan baku mentah sebelumnya hanya US$ 1,1 miliar. Tahun ini, setelah larangan ekspor diberlakukan dan nikel diolah di dalam negeri, nilai itu bisa melonjak jadi US$ 30 miliar. Sekitar 30 kali lipat peningkatannya.

Bayangkan kerugian yang terjadi saat Indonesia hanya mengekspor bahan mentah. Dan ini terjadi selama berpuluh-puluh tahun sejak merdeka hingga sekarang. Indonesia selama ini dirugikan selama berpuluh-puluh tahun karena mengekspor bahan baku mentah.

“Kita ikut memiliki dividen enggak dapat, royalti enggak dapat, bukaan lapangan kerja enggak dapat, gak dapat apa-apa. Ini lah yang harus dihentikan,” katanya.

Jokowi tetap tegas pada pendiriannya. Hilirisasi akan terus dilanjutkan meskipun Indonesia kalah dalam gugatan larangan ekspor nikel. Jokowi mengatakan Indonesia harus berani mengambil keputusan dan tidak takut terhadap negara manapun.

“Saat kita mensetop ekspor bahan mentah nikel, kita dibawa ke WTO (World Trade Organization), baru dua bulan yang lalu kita kalah, tapi keberanian kita menghilirisasi bahan bahan mentah, itu lah yang akan terus kita lanjutkan, meskipun kita kalah di WTO,” kata Jokowi.

Jokowi memang hanya berlatar belakang warga biasa, pengusaha mebel, tapi nyalinya kadang melebihi para petinggi militer di negara ini. Jokowi tidak takut ditekan, dipaksa, diintimidasi, dikeroyok dan diserang negara lain.

Jokowi ingin negara ini mandiri dalam mengolah bahan mentahnya. Jokowi ingin memberikan devisa yang lebih besar dari sekadar ekspor bahan mentah. Dari sekian banyak presiden, hanya Jokowi lah yang berani merebut pengelolaan migas dari asing dan nekat menghentikan ekspor bahan mentah yang berakibat banyak negara benci setengah mati.

Saya sungguh salut dengan keberanian Jokowi. Keberanian seperti ini sulit didapatkan oleh pejabat manapun. Kebanyakan pejabat hanya main aman dan tidak mau ambil pusing mendapatkan tekanan dari pihak lain. Lebih baik ikut arus dan tidak direcoki. Jokowi memilih melawan arus dan dilawan dari segala arah.

Kalau dari dulu pemimpin Indonesia berpikiran seperti Jokowi, mungkin sudah dari dulu negara ini makmur, sejahtera dan maju. Apa mau dikata, ada mantan presiden yang katanya paling diktator, memberikan kebebasan kepada asing untuk mengelola SDA kita, bahkan setelah itu, tidak ada yang berani memaksa negara lain untuk investasi di sini.

Ini baru the best president.( Ferdinal ).