Pelitanusantara.com Bekasi, 24 Maret 2020. Persoalan virus corona (covid 19), telah membuat kita terbagi dalam menyikapinya. Penerapan ‘social distancing’ dan anjuran pemerintah untuk menghindari keramaian dan tidak mengadakan kegiatan yang menghimpun banyak orang termasuk kegiatan keagamaan (Ibadah) sebagai upaya meredam penyebaran covid 19, ditanggapi dengan beragam.
Banyak gereja dan pemimpin gereja merespon positif anjuran pemerintah dengan meniadakan ibadah minggu, termasuk pertemuan ibadah sepanjang minggu dan menggantinya dengan ibadah online (live streaming). Namun ada juga yang tidak sependapat. Yang tidak sependapat merasa Tuhan berkuasa untuk menjaga umatNya dalam meghadapi virus corona di segala situasi, terlebih khusus dalam hal beribadah. Berbagai ayat pun bermunculan sebagai argumentasi ‘membenarkan’ sikap tersebut. Yang melakukan ibadah online dianggap bersembunyi dibalik ‘berhikmat’, karena sebenarnya cenderung takut dan tidak mempercayai ‘kuasa’ Tuhan.
Apakah memang demikian? TENTU TIDAK. Sebenarnya, IMAN dan TANGGUNG JAWAB adalah dua hal yang harus berjalan beriringan, tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, apalagi dipertentangkan. Salah memahami keduanya dengan tepat, dapat membawa kepada ketidaktepatan dan ketidak-bijaksanaan dalam bersikap dan bertindak.
IMAN tanpa TANGGUNG JAWAB dapat menjadi ‘mantera dan jimat’ yang bisa menghilangkan akal sehat. Sebaliknya, TANGGUNG JAWAB tanpa IMAN yang tidak proporsional, cenderung membawa kepada rasionalisme tak berTuhan. Itulah mengapa keduanya harus diletakan pada tempatnya masing-masing yang tentunya memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Tugas kita adalah menghubungkan kedua wilayah ini dengan penerapan yang tepat sesuai konteks.
Alkitab tidaklah bertentangan antara ayat yang satu dan ayat yang lainnya. Alkitab merupakan kesatuan. Yang ada adalah pertentangan cara berpikir kita dalam menafsir/memahami ayat tersebut dan cara penerapan terhadap ayat Alkitab. Karena itu tidaklah perlu terjadi ‘perang ayat’, hanya untuk mempertahankan sebuah pendapat. Menghadapi pandemi virus corona (covid 19) ini, sudah seharusnya kita bersatu, mendukung program pemerintah, sebagai ‘wakil Allah’ bagi kita. Karena kenyataannya, virus corona tidak mengenal status sosial, suku, agama dan ras dalam ‘menyerang’. Ternyata, warga gereja dan pemimpin gereja telah turut menjadi korban.
Bertanggung jawablah untuk segala sesuatu yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Ora et Labora, demikian yang sering kita dengar. Disamping kita berdoa dan mempercayai Tuhan dalam hidup kita yang berkuasa atas apapun, kita juga harus bertanggung jawab atas hidup kita tanpa berpikir dan merasa bahwa ‘semua adalah tanggung jawab Tuhan’. Kita juga tidak boleh bersembunyi dibalik pemahaman ‘Kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan’ dengan bersikap ‘ngeyel’, yang sebenarnya adalah tanda kita tidak bertanggung jawab.
Bertanggung jawab dengan mendukung anjuran pemerintah untuk menghindari keramaian, dan tidak mengadakan kegiatan yang menghimpun banyak orang serta melakukan ‘social distancing’ sebagai upaya meredam penyebaran covid 19, adalah bentuk kepedulian kita kepada diri sendiri, keluarga, gereja, masyarakat bahkan bangsa dan negara kita. Dan yang terpenting, ini adalah bukti kita beriman, bukti kita mengasihi Tuhan dan sesama. Karena iman yang sejati adalah waktu kita mampu menterjemahkan Yesus dalam perilaku kita.
(Pdt. Dr. Steven Palilingan, M.Th. Wapemred Pelitanusantara)
#Bersatumenghadapipandemicovid19
#Doakandokterdanperawatgardaterdepan
#ItsallaboutJesus













