Hubungan Diplomatik dan Kultural antara Kerajaan Champa dan Majapahit: Studi tentang Raja Jaya Simhavarman III dan Peran Sunan Ampel

IMG 20250527 WA0090
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Kerajaan Champa, yang terletak di wilayah Vietnam saat ini, memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, terutama Kerajaan Majapahit. Salah satu raja Champa yang paling terkenal dalam sejarah adalah Jaya Simhavarman III, yang naik tahta pada tahun 1288 hingga 1307 Masehi.

Menurut sejarah Vietnam, pada tahun 1282, Kubilai Khan melakukan invasi ke Champa, karena kerajaan itu menolak tunduk di bawah Kekaisaran Mongol. Pada saat itu, Champa dipimpin oleh Raja Indravarman V. Meskipun Champa dapat ditaklukkan, Pangeran Harijit, yang kemudian menjadi Raja Jaya Simhavarman III, berhasil lolos dan melarikan diri ke pegunungan bersama pengikutnya (Sejarah Vietnam).

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Kondisi Champa yang carut marut karena invasi Mongol membuat Raja Kertanegara dari Singasari simpati, sehingga ia mengirimkan bantuan kepada Pangeran Harijit. Bantuan Singasari dapat membebaskan Champa dari cengkraman Mongol, sehingga pada tahun 1288 pasukan Mongol betul-betul telah terusir dari Champa. Menurut Po Dharma dalam bukunya “Sejarah Champa”, Champa memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, terutama Majapahit.

Menurut Agus Sunyoto dalam bukunya “Sunan Ampel: Biografi dan Perannya dalam Sejarah Islam di Jawa”, perkawinan Jaya Simhavarman III dengan Ratu Tapasi berkaitan dengan Ekspedisi “Nusantara” yang pernah dijalankan oleh Raja Kertanegara dari Singasari. Ratu Tapasi merupakan adik kandung Raja Kertanegara. Dengan demikian, perkawinan antara Raja Jaya Simhavarman III dan Ratu Tapasi merupakan bentuk hubungan baik antara kedua kerajaan.

Slamet Muljana dalam bukunya “Majapahit dan Champa: Hubungan Diplomatik dan Kultural” menyebutkan bahwa hubungan diplomatik antara Majapahit dan Champa sangat erat, sehingga kedua kerajaan saling mengirimkan utusan dan hadiah. Setelah Singasari runtuh pada tahun 1292 akibat pemberontakan Jaya Katwang, hubungan baik antara Champa dan Jawa tidak putus, terutama hubungan dengan Kerajaan Majapahit yang dianggap sebagai penerus Kerajaan Singasari.

Kedua kerajaan saling mengirimkan putri raja mereka masing-masing untuk dikawinkan dengan putra mahkota di kedua kerajaan. Menurut H.J. de Graaf dalam bukunya “Wali Songo: Studi tentang Penyebaran Islam di Jawa”, Sunan Ampel memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa, terutama di daerah Jawa Timur.

Sunan Ampel juga merupakan keturunan dari Ratu Tapasi, sehingga ketika ia menuju ke Majapahit, dianggap sebagai keluarga. Karenanya, tidaklah mengherankan jika dalam sejarah Wali Songo disebutkan bahwa Sunan Ampel dianugerahi tanah bebas pajak di Ampel Denta oleh Raja Majapahit ketika ia memutuskan tinggal di Jawa.

D.G.E. Hall dalam bukunya “Kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara” menyebutkan bahwa Champa dan Majapahit merupakan dua kerajaan yang sangat berpengaruh di Asia Tenggara pada masa lampau. Dalam keseluruhan, hubungan antara Kerajaan Champa dan Kerajaan Majapahit merupakan contoh dari hubungan diplomatik dan kultural yang erat antara kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara pada masa lampau. [÷]