Gus Ifin Buka Turnamen Mancing Mania di Watulimo dan Festival Banyu Sekoro di Panggul

Kefaspelita
IMG 20220320 WA0121

TRENGGALEK – Sembari menikmati liburan minggu  Bupati Trenggalek, Gus Ifin membuka Turnamen Mancing Mania, di Pantai prigi yang digelar oleh PPN (pelabuhan perikanan nusantara) dan menghadiri Festival Banyu Sekoro di Desa Terbis, Kecamatan Panggul, Minggu 20/3/2022.

Gus Ifin menuturkan, agenda Turnamen Mancing Mania yang digelar oleh PPN (pelabuhan perikanan nusantara) yang diikuti puluhan pemancing dari berbagai daerah tersebut, selain sebagai bentuk promosi wisata Teluk Prigi, juga dalam rangka pengalangan dana pembangunan masjid.

“Patut disyukuri karena kalau di pesisir yang lain mungkin tidak ada yang berkahnya sebesar di Teluk Prigi, karena biasanya kalau ada kampung nelayan atau aktivitas nelayan biasanya pariwisatanya kurang bagus,” ungkap Gus Ifin.

“Prigi merupakan salah satu kampung nelayan, pesisirnya masih tetap bersih, kemudian pariwisatanya juga sangat cantik, sangat bagus, jadi ini yang perlu kita syukuri, dan ini juga pertanda bahwa masyarakat di pesisir Prigi pendapatannya tidak hanya sekedar dari mencari ikan sebagai nelayan tetapi juga bisa ikut terlibat dalam sektor pariwisata,” sambung Gus Ifin.

Usai dari Watulimo, Gus Ifin kemudian bergeser ke Panggul sekaligus mencoba rute yang rencananya akan tersambung menjadi Jalur Lintas Selatan (JLS), untuk menghadiri Festival Banyu Sekoro di Desa Terbis. Festival tersebut merupakan ritual adat dengan tujuan menjaga sumber mata air agar tetap terjaga. Festival Banyu Sekoro juga digelar untuk memperingati hari air sedunia.

Menurut Gus Ifin, terkadang formalitas atau aturan tidak akan bisa begitu kuat mengakar di masyarakat. Berbeda halnya jika dilakukan dengan pendekatan budaya. Hal itu sebagaimana ritual yang dilakukan pada Festival Banyu Sekoro. Bagaimana menyikapi isu perubahan iklim dengan pendekatan kebudayaan.

“Orang tua bilang air sumber, itu adalah air kehidupan dan harus ada yang menjaga, bahkan disakralkan, namun tidak semua orang bisa memahami. Bahkan dibilang di sini tempatnya ada yang menunggu dan bisa marah kalau dirusak, sebenarnya itu merupakan cara Nenek moyang kita dalam menjaga sumber air agar tidak dirusak oleh orang orang yang nakal, agar ada rasa takut,” terang Gus Ifin.

Termasuk prosesi Nyadran, dengan istilah persembahan hewan ternak yang disembelih lalu dikuburkan, yang namanya makhluk hidup dikubur dalam tanah kemudian terurai pastinya akan menambah unsur hara dalam tanah.

“Kalau unsur haranya baik ya nanti ditanami apapun akan baik, akar-akarnya kuat sehingga kemampuan menyimpan air juga baik, sehingga sebenarnya secara scientific (pembelajaran mengunakan kaidah keilmuaan) pun yang dilakukan nenek moyang kita dulu juga beralasan,” jelas Gus Ifin.

(mj pelitanusantara.com)

Sumber : Dokpim Tgalek