GITJ Warisan yang di tinggalkan oleh Rasul Ibrahim Tunggul Wulung

Download
Spread the love

Pelitanusantara.com . Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) adalah salah satu denominasi gereja di Indonesia yang berakar pada gerakan Anabaptis-Mennonite yang merupakan bagian dari gerakan reformasi Gereja pada abad ke-16 di Eropa. GITJ lahir dari usaha Penginjil pribumi yang bernama Kyai Ibrahim Tunggul Wulung, Pasrah Karso, Noeriman dan Penginjil dari Misi Mennonite Belanda (DZV) Pieter Jansz yang datang di Jepara. Tunggul Wulung dan Pieter Jansz berjumpa pada 11 Januari 1854 di daerah Jepara Jawa Tengah. Gereja-gereja yang telah dirintis oleh mereka yakni gereja di Margorejo (Dukuhsekti), Kudus, Pati, Kayuapu, Kedungpenjalin, Bondo, Margokerto, Mrican (sekarang Bandungharjo), Kelet, Tayu, Donorojo dan Banyutowo pada 30 Mei 1940 mengadakan persidangan pertama di Kelet Kab. Jepara. Mereka membentuk persekutuan dengan nama “Patunggilan Pasamuan Kristen Tata Injil ing Karesidenan Pati, Kudus, lan Jepara.” Pada Sidang ketiga di Pati, tanggal 20 Oktober 1945 berubah nama menjadi “Patunggilan Pasamuan Kristen Sekitar Muria” (PPKSM). Kemudian pada Sidang keempat di Pati tanggal 17-18 Mei 1948 berubah menjadi “Gereja Kristen Jawa Sekitar Muria” (GKJSM). Dalam Sidang kelima di Pati, tanggal 28-30 Juni 1949 berubah menjadi “Gereja Injili di Tanah Djawa” (GITD) yang dipakai sampai sekarang dengan menyesuaikan ejaan yang disempurnakan yaitu Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ).

Keyakinan Iman. Sebagai gereja reformasi, GITJ mengakui bahwa keselamatan adalah oleh anugerah Allah yang diterima melalui iman, dengan Alkitab sebagai sumber tertinggi dalam kehidupan gereja. Sebagai Gereja Menonite, GITJ memiliki kekhususan bahwa anugerah keselamatan Allah dalam Kristus harus ditanggapi orang percaya dalam kepatuhan-iman sampai pada akhir sebagai murid Kristus. Gereja merupakan persekutuan orang-orang percaya yang lahir baru dari Roh Kudus dan berpusatkan pada Kristus. Oleh karena itulah, maka GITJ memberlakukan baptisan orang percaya dan penegakan disiplin untuk kehidupan yang suci. Di sini, baptisan orang percaya dan disiplin gerejawi menjadi prasyarat untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Suci. GITJ juga memisahkan urusan Gereja dan negara, memperjuangkan hidup dalam persaudaraan, tidak melakukan sumpah, menolak kekerasan, mengusahakan hidup dalam perdamaian dengan semua orang berdasarkan kasih, kebenaran dan keadilan seperti teladan Tuhan Yesus Kristus.

Relasi. Dengan denominasi lainnya, Sinode Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) juga berhimpun, bersekutu, bekerja sama, bersaksi, dan berperan dalam pelayanan. Misalnya melalui Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Badan Musyawarah Gereja Jawa (BMGJ), dan lain-lain. Sinode GITJ bergabung di Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada 25 Mei 1950. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Sinode GITJ berazaskan Pancasila dan UUD 1945.

Perkembangan Saat ini. Saat ini Sinode GITJ tersebar di sekitar Gunung Muria, hingga Semarang, Salatiga, Yogyakarta, sampai Sumatera. Bahkan warga GITJ pun tersebar di berbagai pulau di Indonesia sekalipun mereka bergereja di denominasi lainnya. Sinode GITJ menyelenggarakan Sidang Raya 5 tahun sekali untuk pergantian kepengurusan serta menetapkan visi dan misinya. (dari berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

error: Coba Copy Paste ni Ye!!