“Gereja Dimana Dan Kemanakah Kau?”

Opini, Pelitanusantara.com | Bekasi, 4 April 2020 Dulu ada satu film yang terkenal dengan judul “Dimanakah kau Palupi?” Judulnya sangat menarik dan sempat menjadi film favorit. Hal ini juga mengingatkan kita dengan judul lagu Group “Armada?” “Mau kemana dibawa hubungan kita…”
Kedua judul film dan lagu ini seakan akan diajak kita bertualang. Menanyakan dan mencari alamat atau tujuan? Mencari titik fokus yang pasti.

Saat Wabah Covid 19 terjadi, banyak hal yang terjadi ditengah dunia, dan semua terguncang oleh ancaman penyebaran rantai resiko Covid 19. Bahkan istilah istilah medis semakin banyak kita kenal sampai istilah gaya hidup yang anti tesis dengan budaya sosial kita akhirnya menjadi protokol pola hidup kita baik di luar maupun di keluarga. Dulu sebagai keluarga kita harus dekat tetapi kini kita harus menjauh, dulu kita ngak peduli cuci tangan sekarang menjadi suatu gerakan agar setiap keluar rumah selalu mencari tempat cuci tangan. Bekerja untuk sementara harus dari rumah. Dan yang tak kalah sulitnya harus dirumah saja. Tentulah keadaan ini sangat sulit dari hari-hari sebelumnya. Terlebih lagi bagi keluarga yang hidup dari penghasilan setiap hari. Dulu istilah Sakit itu mahal, kini lain sehat itu repot dan ribet. Nah… EMANG apa hubunganya itu semua dengan gereja saat ini dalam situasi Covid 19?

Keadaan Gereja dan situasi saat ini, sangat mirip dengan lagu yang dinyanyikan oleh Bimbo “Aku jauh engkau jauh, Aku dekat engkau dekat ” . Atau lagu “Alamat Palsu” yang repot mencari tujuan?
Gereja apa sih maknanya? Gedungkah atau “Keluar dari kegelapan – Eksklesia”? Apakah maksudnya ya? Jika di analogikan dengan bentuk tubuh – Obesitaskah atau keluar dari ukuran tubuh ideal. Atau istilah bank menabung terus sehingga likuiditasnya sehat?.

Hebat juga ya Gereja bisa lakukan anjuran Dinas kesehatan untuk makan 4 sehat 5 sempurna. Loh? Apa sih hubungannya antara Gereja dengan situasi Wabah Covid 19 ini?

Menarik sekali dalam sebuah kotbah di “Wake up Call” dari 1-4 ada hikmah Covid 18 semakin bersatunya keluarga dengan istilah “dirumah saja”, selain itu ada hadirnya hamba-hamba Tuhan dari beberapa Aras menyatakan kesatuan gereja (Unity). Tentu saja hal itu penting, seperti kehidupan gereja mula mula unity sangat terbangun.

Tekanan dalam gelombang besar biasanya dapat menyatukan beberapa kelompok masyarakat atau gereja sekalipun. Seperti hal ya di saat pesta demokrasi keperbedaan bisa bersatu. Khususnya gereja Tuhan untuk satu tujuan yg mulia. Tetapi apakah kesatuan itu, berbedakah artinya dengan kepedulian? Nah itu masalahnya, kesatuan belum tentu mewakili Kepedulian. Kepedulian seharusnya juga menjadi dasar terwujudnya Kesatuan itu. Pertanyaannya sekarang, apakah kepeduliaan itu masih ada? Atau kesatuan itu telah pudar dan gereja mulai mengarahkan focusnya pada Egosentris dan Euforia kepemimpinan yang meracuni gerejaNya?

Saat Wabah Covid 19 ini melanda di Kota Bekasi, apakah yang telah dilakukan Gereja Tuhan? Apakah yang kau cari Gereja Tuhan? Mau kemanakah kau bawa Gereja Tuhan. Obesitaskah gereja saat ini atau sudah Terlalu Sehat Likuiditas Gereja Tuhan kah, sehingga berada di Zona Nyaman?

Atau demikian dalamkah Aras Gereja, Organisasi keagamaan tenggelam dengan Euforia kepemimpinan dan Egosentris? Atau yang lebih ekstrim ikut menjadi paranoid akibat Wabah Covid? Hanya Tuhanlah yang tahu keadaan gereja saat ini. Sungguh menarik melihat banyaknya aksi meringankan beban baik para medis, para suspect sampai yang akhirnya harus kehilangan keluarga akibat Covid 19. Tentu saja semua kegiatan sosial akan berdampak kepada kehidupan ekonomi informal dan formal. Semuanya itu untuk dapat menunjukkan peran sesuai dengan panggilan gereja.

Abraham Lincoln pernah sampaikan Quote yang sangat terkenal “Ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country,”. Tak ubahnya pernyataan rohani Doakan apa yang kau kerjakan dan kerjakan apa yang kau doakan. Keduanya sangat bermakna. Jadi penontonkah anda atau pemain dalam situasi sekarang ini? Penonton yang bisa berteriak sekeras kerasnya dan bahkan seolah-olah sebagai pemain menurut kehendak kita atau pemain menjadi pemenang?

Berpegang pada pola 4W1H (Where, When, What, Who, How) sebuah metodologi dalam mengembangkan satu narasi. Saat ini dengan metode 4W1H disaat wabah Covid 19 ini dimanakah dan kemankah Gereja Tuhan?

Apakah kita ini sekarang ini menjadi Atlit Sprinter 100 m atau Marathon atau atlit pelari Estafet dalam narasi LB3 (Langit Baru Bumi Baru)? Semoga gereja Tuhan semakin membuka mata dan melangkah keluar mrmberikan kepedulian dan bukan menjadi orator ulung di mimbar saja.

“Unitasin Vinculo Pacis”, Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh. Ada begitu banyak Kebutuhan Pemerintah dalam memutus mata rantai Covid-19, dalam hal ini kepedulian sosial bagi pengadaan Alkes, khususnya APD. Dan masih banyak lagi yang bisa kita buat bagi kebaikan selain dari pada “#dirumahsaja”. Mari gereja berbuat.   (BenHart/Pelitanusantara.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *