
Pelitanusantara.com Bekasi, 21 Maret 2020 Adanya perkembangan teknologi informasi saat ini menjadi.kebutuhan primer. Awalnya untuk menyampaikan pesan atau menerima pesan tetapu kini Teknologi Informasi berkembang pesat. Terlihat perkembangan fitur di Gadget menjadi keunggulan produk baru dalam persaingan pasar.
Saat ini Gereja ternyata dituntut untuk mengadaptasi perkembangan Teknologi Informasi. Hal uni dilakukan bukan merubah pakem gereja dalam.pelayanan kepada umat atau pembinaan Iman. Namun Gereja harus merubah pola atau manajemen pelayanan Gereja. Selama ini kita lakukan secara konvensional sebagai suatu tradisi. Bahkan kita dituntut ikut sesuai sistematika yg tersusun seperti liturgis. Gereja tanpa tembok menjadi solusi keadaan sekarang. Gereja tanpa tembok bukan diartikan tidak ada persekutuan jemaat dengan gembala, bahkan tidak persembahan jemaat yang banyak dikuatirkan gembala karena disebabkan semakin meningkatnya operasional gereja dan kebutuhan pelayanan.
Saat ini kecanggihan Teknologi Informasi menjadi perubah perilaku manusia yg sangat revolusioner. Apakah saat ini Gereja siap menerima atau melakukan Gereja tanpa tembok? Ini menjadi evaluasi gembala terhadap pola pembinaan Gembala atau Sinode terhadap umatnya. Sejauh mana Gembala dan sinode membangun kecintaan umat kepada Tuhan bukan ke orgnisasi Gereja atau Gembala sekalipun. Kasih Tuhan Yesus bukanlah sekedar kita deklarasikan setiap minggu di mimbar, tapi kita nyatakan haruslah dikecap dan dirasakan oleh umat dalam hari hari hidupnya dengan mengalami dan menghidupinya setiap waktu. Iman adalah Life Style bukan “Pasport to Heaven”.
Adanya kreativitas Gereja saat ini dituntut tanpa melepaskan pakemnya sebagai Gereja. Orientasi Gereja sebagai Rumah Tuhan bukan diartikan Gereja Tembok. Kedewasaan umat menjadi ukuran Gereja yang bertumbuh.
Saat ini banyak gembala kuatir dengan kebijakan Pemerintah merumahkan jemaat beribadah. Banyak tafsir terjadi atas kebijakan ini. Seakan kembali kepada perintisan Gereja saat membangun jemaat dari awal. Berlutut, menangis atas belas kasih Tuhan agar Tuhan memberkati gereja yg dirintis banyak jiwa untuk berbakti bahkan jiwa dimenangkan. Saat pertumbuhan terjadi, Gereja sdh menjadi Gereja Tembok doa dan pergumulan berubah seperti gembala yang harus menjaga domba dipadang yang harus awas terhadap serigala. Gembala awalnya memberi ‘feeding’ sekarang jadi “watchman” terhadap dombanya.
Bagaimana sikap kita dan cara kita mensiasati kondisi sekarang. Satu hal kita dituntut hormat dan tunduk kepada kebijaksn Pemerintah sebagai Wakil Tuhan. Satu hal kita memiliki tanggung jawab terhadap Gereja terhadap umat Tuhan dan Kebutuhan operasional gereja.
Apakah saat ini gereja dapat mengubah manajemen gereja dengan mengaplikasikan Teknologi Informasi.? Baik dalam pelayanan penggembalaan dan penerimaan persemahan “be mature in faith” menjadi kunci visi pelayanan gereja.
Siapkah Gereja mengubahnya? “Keep in fire” itu menjadi semangat kita saat dalam guncangan semoga kita melihat sisi indahnya rencana Tuhan saat Wabah Covid 19 merasuki dan mencekam Kota kita. Tuhan tidak pernah tertidur dan terlelap itu menjadi pengharapan kita.Kita berdoa Wabah ini cepat berlalu “Amazing Grace.” GBU.(BenT)
