Geliat Bisnis BUMDes di Nganjuk dan Kutai Kartanegara

Jakarta, Pelitanusantara.com – Pandemi Covid–19 dalam dua tahun terakhir ini telah meluluhluntahkan perekonomian Indonesia dan dunia. Namun demikian, ditengah berbagai keterbatasan akibat pandemi tersebut, masih banyak berbagai kelompok masyarakat yang terus bekerja dan berinovasi demi menghidupkan nadi kehidupan ekonominya.  Salah satunya adalah sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Di Kabupaten Nganjuk, tepatnya di Kecamatan Kertosono, ada BUMDes yang bernama Pandanwangi yang dikelola Desa Pandantoyo dan tengah siap bersaing dengan pisang cavendish yang beredar di berbagai supermarket. Di tengah pandemi ini, Pisang Cavendish menjadi produk unggulan BUMDes Pandanwangi yang mampu menyedot banyak peminat.

Menurut Kepala Desa Pandantoyo, Khoiril Anwar, budidaya pisang cavendish sendiri merupakan satu dari beberapa unit usaha lain yang dikelola oleh BUMDes Pandanwangi. Adapun unit usaha lain yang tengah dikembangkan yakni perdagangan sembako, wisata agropark, wisata outbound, dan wisata kolam renang.

Khoiril mengakui, dari semua unit usaha tersebut, budidaya pisang cavendish masih menjadi produk utama yang paling banyak diminati.

“Pisang cavendish kita sudah mampu menjadi distributor di berbagai kabupaten dan kota. Pisang cavendish kita bahkan sudah siap bersaing dengan produk supermarket,” ujar Khoiril.

Khoiril menambahkan, pengembangan BUMDes yang baru berdiri sejak tahun 2019 tersebut, sepenuhnya menggunakan anggaran dari dana desa. Ia berharap, pengembangan BUMDes di desanya dapat membantu meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat setempat.

“Kita ingin dengan berkembangnya BUMDes ini, dapat meningkatkan ekonomi di Pandantoyo biar lebih efektif. Mengangkat masyarakat miskin supaya ekonominya lebih meningkat,” ujar Khoiril.

BUMDes Pandanwangi telah mendapat apresiasi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar. Gus Menteri, sapaan akkrabnya, menyebutkan budidaya pisang cavendish yang menjadi salah satu unit usaha BUMDes Pandanwangi ini telah mendapatkan pasar yang cukup baik. Menurutnya, usaha pisang cavendish tersebut perlu dikembangkan untuk dapat meningkatkan nilai tambah.

“Pasar sudah ada, tapi produktifitas perlu ditingkatkan untuk memberikan nilai tambah. Pohonnya mau diapain, apakah bisa diolah untuk pakan ternak misalnya,” ujarnya saat meninjau BUMDes Pandanwangi, minggu lalu (24/4).

Terkait hal tersebut, Gus Menteri, sapaan akrabnya, mengajak berbagai stakeholder terkait untuk dapat membantu peningkatan produktifitas budidaya pisang cavendish BUMDes tersebut. Bantuan tersebut, lanjutnya, dapat berupa biaya pengembangan atau teknologi  tepat guna.

“Pasarnya sudah bagus. Tinggal pengembangan. Saya ajak semuanya yang menjadi bagian dari pengembangan produktifitas masyarakat untuk turut membantu. Atau bantuan teknologi tepat guna agar lebih bermanfaat,” ujarnya.

Masih di Kabupaten Nganjuk, yaitu di Desa Balongasem, Kecamatan Lengkong, terdapat BUMDes bernama Sejahtera di desa tersebut. BUMDes Sejahtera ini bergerak dibidang usaha produksi sepatu.

Produksi sepatu dengan merk Baker’s ini baru berjalan sekitar dua tahun terakhir. Dengan memberdayakan tiga pekerja, BUMDes Sejahtera mampu memproduksi sekitar 20 pasang sepatu per hari. Meski belum mampu memproduksi dalam jumlah besar, sepatu Baker’s telah memiliki konsumen hingga Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya.

“Ini (sepatu Baker’s) asli produk sini (Desa Balongasem) Kualitasnya tidak kalah dengan sepatu impor. Jangan khawatir. Beli ya,” ujar Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar saat mengenakan sepatu Baker’s sambil mempromosikan sepatu hasil produksi BUMDes Sejahtera ini pada minggu (24/4) lalu.

Geliat bisnis BUMDes di Kabupaten Nganjuk juga dirasakan oleh BUMDes di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Di Kabupaten yang akan menjadi Ibu Kota Negara (IKN) baru ini, ada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bernama Payang Sejahtera di Desa Sungai Payang.

Geliat bisnis BUMDes ini luar biasa prestasinya. BUMDes Payang sejahtera telah berhasil memiliki pendapatan diatas rata-rata dan setara BUMDes beromzet besar level nasional dengan omzet tahun 2020 sebesar Rp 7,8 miliar dengan unit usaha jasa pengangkutan Tandan Buah Sawit (TBS), jasa pengangkutan CPO, usaha catering karyawan dan berbagai usaha lainnya.

Menanggapi tingginya geliat bisnis BUMDes di Kutai Kartanegara, Bupati Kukar Edi Damansyah mengatakan, bahwa hingga saat ini sudah terbentuk 188 BUMDes di Kutai Kartanegara. Keberadaan BUMDes menurutnya tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak.

“Kami berkomitmen, keberadaan BUMDes ini terus kami dorong, terus kami fasilitasi. Kami juga mempersiapkan kebijakan bagi desa-desa yang memang berkinerja baik khususnya dalam mengelola BUMDes, maka akan ada intensif melalui bantuan kewenangan khusus ke desa,” kata Edi saat mendampingi Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar yang melakukan kunjungan kerja ke Desa Sungai Payang pada minggu lalu (1/5).

BUMDes Berbadan Hukum

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi kini telah menyelesaikan Peraturan Menteri (Permen) terkait BUMDes. Permen tersebut merupakan tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 tahun 2021 tentang BUMDes, yang dikeluarkan seiring disahkannya BUMDes sebagai badan hukum dalam Undang-Undang Cipta Kerja.

Permendes (Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi) sudah selesai, kini tinggal menunggu pengesahan dari Kemenkumham (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia). Kalau sudah selesai semua, nanti BUMDes bisa usaha apa saja, sudah seperti PT.

Dikutip dari rilis yang diterima oleh desapedia.id, Abdul Halim Iskandar menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya agar BUMDes menjadi pemicu ekonomi desa. Apalagi status BUMDes yang sudah berbadan hukum.

Dengan status berbadan hukum, kata Abdul Halim,  sudah jelas bahwa diberbagai regulasi, BUMDes sudah setara dengan BUMN untuk nasional dan BUMD untuk daerah.

“Cuma levelnya saja di desa. Misalnya bicara pemanfaatan pengolahan sumber air itu untuk nasional BUMN, untuk daerah BUMD, untuk desa BUMDes. Jadi, BUMDes bisa mengolah sumber daya air yang ada di desa dan keberadaan BUMDes sangat kuat dalam sisi hukum. BUMDes ini tentunya saya yakin akan terjadi percepatan dalam upaya peningkatan ekonomi didesa,” katanya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *