“GARAM DAN GENOSE”

Pelitanusantara.com | KETERBATASAN dan kekurangan tidak melulu berbanding lurus dengan jalan buntu. Bahkan, kondisi serba kekurangan kerap melahirkan terebosan, memunculkan jalan keluar.

Begitulah, setidaknya, yang di temukan ‘Muhammad Sarwani’, warga Purworejo, Jawa tengah. Keterbatasan pasokan listrik di sejumlah titik di Tanah Air menginspirasi Sarjana Fakultas Tehnik mesin Universitas Pamulang Tangerang Selatan. Banten, itu untuk melahirkan lampu ‘air garam’. Produk itu kini digunakan untuk menerangi sejumlah titik penampungan pengungsi korban gempa Kabupaten Mejene dan Mamuju, Sulawesi Barat.

Awalnya, sejak 2012, Sarwani menggeluti teori reduksi-oksidasi (Redoks). Ia terlecut oleh kegelisahan orang-orang yang belum terjamah oleh penerangan lampu listrik karena lokasi mereka yang sulit di jangkau instalasi listrik negara. Karena itu, tergeraklah ia melakukan uji coba, mewujudkan pergelutannya dengan teori ‘redoks’ selama beberapa bulan.

Hasilnya 100 lampu air garam yang ia temukan mampu menerangi titik-titik tempat pengungsi korban musibah gempa Sulawesi Barat. Aliran listrik yang putus membuat warga Mamuju melewati malam dengan gelap gulita tanpa penerangan, kecuali lampu penerangan darurat yang tampak sebagai titik-titik sinar redup dari kejauhan.

Namun, kehadiran Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo ke lokasi musibah membawa secercah cahaya terang.

Tak kurang dari seratus lampu air garam Terbang bersamanya dengan pesawat Hercules TNI – AU pada Jumat (15/1) siang.

“Lampu-lampu ini benar-benar terobosan. Ide brilian anak bangsa. Jadi, cepat kami sambar karena sangat cocok untuk daerah yang tertimpa bencana seperti di Mamuju ini.

Berkat ketekunan sang penemu, Sarwani, dalam mengutak-atik energi alternatif dari air garam itu, kini ia sudah berhasil menggapai mimpinya : menghadirkan cahaya di lokasi bencana. Caranya sangat sederhana, yakni garam dapur yang dilarutkan ke dalam air dan diubah menjadi penyulut cahaya lampu.

Butuh empat tahun bagi Sarwani untuk mewujudkan mimpinya itu. Pada 2016, produk lampu air garam pun siap diproduksi massal. Pengoperasian ‘lampu ajaib’ ini cukup mudah. Hanya perlu air bersih dan garam. Garam apa saja. Jika tidak ada garam, air laut pun bisa. Karena itu, lampu ini juga sangat cocok dipakai para nelayan.

Bukan hanya memberi cahaya di tengah kegelapan, lampu air garam yang bisa dimanfaatkan sebagai charger atau pengecas poncel Anda. Kalau sedang dipakai untuk menyalakan lampu, fungsi pengecas off. Sebaliknya, kalau sedang digunakan sebagai pengecas, lampu LEP tidak bisa dinyalakan.

Kedaruratan dan keterbatasan juga melahirkan GeNose, alat pendeteksi paparan Covid-19 temuan Universitas Gajahmada (UGM). Alat pendeteksi virus korona penyebab Covid-19 yang dikembangkan para peneliti UGM tersebut sudah mengantongi izin edar dari kementerian kesehatan pada kamis (24/12/2020.

Dalam laman resmi UGM, ketua tim pengembang GeNose C19, Prof Kuwat Triyana, mengatakan perangkat tersebut di patok dengan harga Rp 15000 – Rp25000. Hasil tes yang dapat langsung diketahui hanya dalam waktu 2 menit dan tidak memerlukan reagen atau bahkan kimia lainnya. Pengambilan sempel tes berupa embusan napas juga dirasakan lebih nyaman jika dibandingkan dengan usap atau swab.

Begitu kiranya, bangsa ini tak kering oleh “rekacipta”. Dalam serba kekurangan, ada sekelompok orang yang menghadirkan tanda penting bahwa kita ‘bangsa besar’. Tinggal bagaimana negara memosisikan para inovator itu : serius memfasilitasinya, setengah-setengah, atau membiarkan semua berjalan apa adanya.

Setidaknya saya telah menemukan harapan akan itu dari ‘Media Indonesia’. Kemarin, harian ini berulang tahun ke 51.
Tema yang diusung ialah “Menuju Rekacipta Indonesia”. Itu sebuah resolusi, tekat kuat, untuk mendorong agar generasi ini meninggikan derajat para inovator.
Dengan bagitu, cita-cita Indonesia maju bukan tekat semu.
Saya yakin, pengurus negara ini akan mendengarkannya lalu — mewujudkannya!

P. Sirait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *