GAMKI Menggali Energi dari Budaya Nusantara untuk Menghadapi Tantangan Masa Depan

IMG 20250531 WA0101

Surakarta, 30 Mei 2025 – Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) baru-baru ini menggelar Rapimnas dan Rakernas di Hotel Sahid Kusuma Prince Solo, dengan mengusung tema “Ora Et Labora” yang berarti bekerja sambil berdoa. Acara ini dimeriahkan dengan pertunjukan tarian dan wayang yang menggambarkan kesatuan dan kekuatan budaya Nusantara.

Dalam pembukaan yang dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk pejabat di lingkungan Surakarta, ditampilkan beberapa tarian yang memberi pesan adanya kesatuan bumi nusantara yang terdiri dari berbagai pulau dan suku bangsa. Selain itu, seorang sindhen, usai menyanyikan lagu hidup ini adalah kesempatan dengan iringan gamelan pelog, maka sindhen tersebut menembangkan tembang macapat Asmaradana “Aja turu sore kaki.”

Tembang macapat Asmaradana yang memiliki petuah supaya generasi muda tidak leha-leha melainkan perlu bekerja keras dalam mencapai tujuan hidupnya tersebut memiliki lirik utuh sebagai berikut: Aja turu sore kaki (Jangan tidur sore-sore anakku) Ana dewa nglanglang jagad (Ada dewa mengitari dunia) Nyangking bokor kencanane (Membawa guci kencana) Isine donga tetulak (Isinya doa tolak bala) Sandang kalawan pangan (Pakaian dan makanan) Ya iku bageyan ipun (Itu adalah haknya) Wong melek sabar narima (Orang yang berprihatin dan sabar)

Dalam bahasan Studi Meeting Rapimnas-Rakernas, GAMKI memperbincangkan topik ‘Pekerja Migran Berdaya Indonesia Berjaya’ dengan sub topik ‘Peran Organisasi Pemuda dan Gereja dalam Meningkatkan Kapasitas Pekerja Migran’. Menurut Timboel Siregar, aktivis tenaga kerja yang juga Koordinator BPJS Watch, “Saya sangat senang GAMKI mengangkat isu ini, karena soal pekerja migran ini bukan hanya menjadi isu internasional, tapi juga isu kemanusiaan dan isu keadilan.”

Timboel menjelaskan lebih lanjut bahwa di Hongkong misalnya, aktivis-aktivis yang menjadi penggerak perjuangan para pekerja migran berasal dari kalangan gereja. Demikian pula di dalam negeri, GKI Indramayu menaruh perhatian pada isu ini dengan memiliki program pemberdayaan pekerja migran. “GAMKI mesti di depan bicarakan persoalan ini, agar ada migrasi berperikemanusiaan sehingga rakyat bisa bekerja untuk kemajuan bangsa ini, sesuai Pasal 27 UUD 1945 untuk kesejahteraan bangsa kita, ’tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan’,” jelasnya.

Dalam ibadah pembukaan, Pendeta GKJ Manahan Retno Ratih Suryaning Handayani menyebutkan bahwa ada lima krisis kebangsaan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini. “Lima krisis itu diawali dengan Krisis kebangsaan, ditandai korupsi makin bombastis, kurangnya negarawan yang jadi teladan, serta masih banyak kelompok radikal dan premanisasi di mana-mana.”

Masalah kedua, yakni krisis ekologi, berupa eksploitasi sumber daya alam, lahan tanah rakyat maupun milik komunitas adat yang dirampas dan dialihfungsikan, serta terancamnya keanekaragaman hayati. Ketiga yakni krisis keluarga, ditandai maraknya kekerasan dalam rumah tangga, fenomena fatherless, motherless, maraknya judi online dan pinjaman online. Keempat, krisis pendidikan. Hal ini nampak dengan semakin menurunnya lembaga pendidikan Kristen, berkurangnya dukungan jemaat terhadap lembaga pendidikan Kristen, dan rendahnya minat generasi muda menjadi guru. Kelima, perkembangan artificial Intelegence (AI). Kehadiran AI mengotomasi tugas-tugas rutin, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, tapi juga melahirkan deep fake serta bisa manipulasi perilaku manusia.

Dengan semangat budaya dan kerja keras, GAMKI diharapkan dapat menjadi contoh bagi generasi muda lainnya dalam menghadapi tantangan masa depan dan memperjuangkan kepentingan pekerja migran Indonesia.

Oleh: Suyito Basuki