Fenomena Budaya Merantau dan Hilangnya Potensi Pemuda Membangun Daerahnya

Images (27)

“Karatang madang di hulu, babuah babungo balun. Karantau bujang dahulu, di rumah paguno balun” (ke rantau anak laki-laki dahulu, di rumah belum berguna).

Sumatera Barat – Ini adalah sebuah falsafah yang melatari anak muda Minang banyak yang merantau jelas Seorang Pemuda yang mengaku bernama Andrezal Mahasiswa semester akhir Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional kepada awak media.

Lebih lanjut andre menjelaskan, Kebiasaan merantau ini, seperti panggilan jiwa, setiap tahun selalu ada anak muda yang merantau. Puncaknya setelah lebaran, mereka akan ikut rombongan perantau yang balik ke perantauan.

Dahulu, orang merantau untuk memperbaiki kehidupan, juga didukung oleh kemampuan alat transportasi. Selain daerah luhak nan tigo atau wilayah darek terdapat kawasan yang bernama daerah rantau dan pasisia (pesisir). Kemudian setelah transportasi semakin maju daerah yang menjadi tujuan perantau juga semakin jauh. Umunya mereka akan pergi ke kota-kota besar di pulau Jawa. Jelasnya

Akan tetapi Perkembangan budaya merantau juga dipengaruhi oleh pendidikan formal, faktor ini menimbulkan tradisi budaya merantau yang baru. Para pemuda dari Sumatera Barat mulai melanjutkan pendidikan ke Jawa bahkan ke Belanda. Diantaranya seperti Tan Malaka, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Mohammad Natsir dan Sutan Syahrir serta banyak lagi.

Perkembangan pendidikan terus berlanjut, jika dahulu hanya bujang yang merantau sekarang karena alasan pendidikan gadih juga bisa. Maka ada dua alasan besar anak muda Minang merantau, pertama sebagai upaya mengubah nasib dan mencari pengalaman, kedua melanjutkan pendidikan untuk membuka peluang dalam mengembangkan diri.imbuhnya kepada awak media

Menurut pengalamannya sama dirinya Ber KKN mengatakan Perubahan budaya merantau ini kian terasa saat saya mencoba memperhatikan masyarakat dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nagari Tabek Panjang. Nagari ini memiliki empat Jorong yang terdiri dari Jorong Baso, Jorong Tabek Panjang, Jorong Sungai Cubadak dan Jorong Sungai Janiah. Sebuah nagari yang memiliki wilayah administratif luas yaitu 19.19 Km2 dengan jumlah penduduk 9.966 jiwa. Ungkapnya

Terdapat perbedaan mencolok antara Jorong Baso dan Jorong Sungai Janiah. Jorong Baso memiliki jumlah penduduk terbanyak yaitu 3.445 jiwa karena berada di daerah yang strategis, yaitu di pertemuan jalan utama Bukittinggi, Payakumbuah dan Batu Sangka. Memiliki pasar dan dekat dengan fasilitas umum seperti Puskemas, Bank dan Koperasi serta Kantor Wali Nagari. Penduduk di Jorong ini telah menjadi masyarakat heterogen.imbuhnya lagi

Sedangkan Jorong Sungai Janiah menjadi Jorong dengan jumlah penduduk paling sedikit yaitu 1.082 jiwa. Berada jauh dari jalan utama, jauh dari fasilitas umum tetapi memiliki potensi wilayah berupa objek wisata yang cukup terkenal yaitu Wisata Ikan Sakti dan Bukik Batanjua serta menjadi wilayah yang menyediakan padi untuk Nagari Tabek Panjang karena pengairan di Sungai Janiah terbilang memadai dan cocok untuk pesawahan. Penduduk di Sungai Janiah masih bersifat homogen, oleh karena itu budaya di Sungai Janiah masih sangat kental.

Saat kedua daerah dihadapkan pada perkembangan tradisi merantau, seperti yang kita ketahui anak muda dituntut untuk keluar daerah guna memperbaiki hidup atau melanjutkan pendidikan. Dampak yang dihasilkan juga berbeda, saat anak muda di Jorong Baso merantau, daerah ini tidak dihadapkan pada keadaan yang sulit karena wilayah yang strategis banyak orang lain yang berdatangan untuk bekerja di sana.

Di lain sisi, saat anak muda Jorong Sungai Janiah merantau, daerah ini mengalami keadaan yang sulit dan itu kemudian menjadi sebuah masalah. Fakta ini saya dapatkan saat menyempatkan diri bersama teman saya melakukan wawancara dengan Pengurus Mesjid Sungai Janiah sekaligus Sejarawan dan tokoh penting daerah. Beliau bernama Abdul Aziz atau lebih dikenal sebagai Angku nan Basa.

Jorong Sungai Janiah yang didukung oleh pariwisata, pertanian serta budaya terancam karena kekurangan pemuda. Pariwisata harus dikembangkan agar menyesuaikan dengan zaman dan juga mampu mencari peluang untuk kembali naik, maka dibutuhkan peran aktif pemuda. Pertanian mengalami regenerasi petani muda yang lambat, akibatnya banyak lahan terbengkalai. Budaya kehilangan penerus, karena anak muda akan merantau setelah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Potensi yang besar ini harusnya bisa dikembangkan untuk modal pembangunan nagari.

Kita perlu merenungkan kembali falsafah “karatang madang di hulu, babuah babungo balun. Karantau bujang dahulu, di rumah paguno balun”. Falsafah tersebut menekankan bahwa bujang boleh merantau selagi belum berguna di rumah. Berdasarkan keadaan yang terjadi di Sungai Janiah apakah si bujang masih belum diperlukan di kampung? Jawabannya jelas, bujang diperlukan!

Menyadari hal ini, Wali Nagari Tabek Panjang yaitu Bapak Dony Suhendri S.E memiliki visi dan misi menghidupkan semua perangkat nagari. Langkah nyata beliau adalah dengan menghidupkan kembali Karang Taruna sekaligus mengadakan acara “Nagari Tabek Panjang Art Show” pada 24 Agustus 2022, lengkap dengan pawai kebudayaan, pentas seni yang menampilkan seni budaya daerah, tidak lupa pameran produk UMKM. Dalam menyukseskan acara ini beliau juga mengajak anak KKN Universitas Andalas untuk berkolaborasi bersama.

Dengan demikian potensi nagari bisa dipetakan dan menjadi fokus kedepan untuk dikembangkan. Jika berhasil, lapangan pekerjaan baru akan muncul, anak muda tidak perlu merantau, mereka bisa bekerja di kampung sekaligus membangun nagari. Para pelajar yang melanjutkan pendidikan tetap bisa membangun nagari dengan aktif menulis perkembangan nagari di media-media, baik promosi atau menjadi pelaku budaya di rantau.

Pada akhirnya, perlu kita sepakati bahwa peran anak muda sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Ditengah perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat di seluruh dunia, apakah budaya merantau masih seurgensi dulu? Sebab internet bisa menyediakan bahan bacaan dan juga berjuta pengalaman yang bisa kita jadikan bahan pelajaran dan modal untuk mencari ide pengembangan potensi nagari. Meminjam istilah teman saya, di zaman ini “kita bisa kemana saja tanpa harus kemana-mana”, asal teknologi digunakan dengan sadar dan kritis.pungkasnya kepada awak media pelitanusantara…..(red)

Note
Bujang : panggilan anak laki-laki minang (pemuda)
Gadih : panggilan anak perempuan minang (pemudi)