Dunia Kerja Semakin Luas, Prodi Perlu Diperluas

Han_up2000
Ashiong

Pelitanusantara.com Setelah selesai Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021 ada banyak mahasiswa yang berhasil lolos masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Program Studi (Prodi) yang diidam-idamkan, namun tidak sedikit pula yang harus mengurungkan niatnya untuk bisa mengecap pendidikan di PTN yang diharapkan karena tidak lolos.

Calon mahasiswa baru yang hendak masuk PTN lewat selesksi bersama dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri (LTMPTN) dipandang belum ada perubahan yang signifikan. Hal ini terlihat jelas dari Prodi yang disediakan oleh penyelenggara pendidikan tinggi, yaitu belum banyak menyediakan Prodi baru yang sesuai dengan tantangan dunia kerja saat ini. Jikalau disandingkan dengan tantangan baru di dunia industri saat ini, ada banyak perkembangan yang sangat pesat di dunia kerja dan mengeser pola kerja lama.

Dengan ketersediaan Prodi yang ada, tentunya menjadi pendorong bagi calon mahasiswa hanya berlomba untuk memilih prodi “konvensional” tersebut. Misalnya, dalam kelompok sains, yaitu kedokteran, teknologi informasi, teknik mesin dan dalam kelompok humaniora, yaitu manajemen, akuntansi, hukum, hubungan internasional. Prodi-prodi konvensional ini dipilih, atas dugaan untuk memberi jaminan untuk bisa bekerja di lembaga-lembaga pemerintahan maupun perusahaan-perusahaan yang sudah mapan.

Ada satu Prodi yang paling menarik dari 12 PTN yang dianalisis jumlah peminatnya, yaitu Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Daya tampung Prodi pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2021 ini hanya 1.927 orang dari 12 PTN yang menyediakannya. Namun, jikalau dibandingkan dengan peminat calon mahasiswa pada tahun 2020 ada sekitar 24.326 orang. Salah satu Prodi dibidang humaniora ini sangat banyak peminatnya, meskipun di sisi yang lain, daerah-daerah tertentu masih banyak kekurangan gurunya.

Kembali pada dunia kerja saat ini, bahwa tidak bisa dipungkiri wajah dunia kerja telah banyak mengalami perubahan. Khususnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yaitu telah terjadi disrupsi digital. Ditambah masa pandemi yang terus mengakselerasi penggunaan digital sehingga mengubah banyak hal, baik dalam pendidikan dan dunia kerja dan ada banyak juga lapangan kerja baru yang bermunculan.

Tidak salah dengan kehadiran prodi-prodi konvensional tersebut, namun penyebaran bidang keahlian sudah semakin luas, sehingga pihak penyelenggara pendidikan perlu mengimbangi dengan perluasan prodi. Tentunya hal ini menjadi tantangan baru bukan sebagai hambatan bagi pertumbuhan dunia pendidikan Indonesia. Namun, memiliki tujuan agar pendidikan Indonesia mampu menjawab tantangan zaman, sehingga Indonesia tidak tertinggal dibanding dengan negara-negara lainnya.

Ada harapan besar dengan Program Merdeka Belajar yang digagas oleh Menteri Nadiem Makarim ini, agar mampu mengakselerasi bertumbuhnya pola pikir yang inovatif, kreatif, dan mandiri dalam menjawab setiap tantangan perubahan zaman tersebut. Program Merdeka Belajar juga harus disikapi oleh penyelenggara pendidikan, tidak hanya sekedar gagasan pemerintah, namun hal ini harus disambut secara implementatif, yaitu dengan mengadaptasi perubahan manajemen pengelolaan kampus. Menyediakan berbagai prodi baru yang sesuai dengan tuntutan dunia industri.

Untuk itu, pihak kampus butuh kerja keras untuk menghadirkan prodi baru. Dan butuk kerja keras juga untuk menyakinkan pihak orang tua, pemerintah dan calon mahasiswa baru yang menjadi sasaran penerimaan calon mahasiswa berikutnya, bahwa prodi baru yang dihadirkan cukup visioner dan mampu menjawab tantangan zaman. Perlu diyaikinkan juga, bahwa prodi baru tersebut punya lapangan kerja yang akan digeluti oleh mahasiswa.

Semoga dengan Program Merdeka Belajar ini, pendidikan Indonesia semakin terakselerasi untuk mengejar ketertinggalanya. Semoga Program Merdeka Belajar ini juga bukan hanya jargon semata dengan pepatah lama mengatkan “ganti menteri ganti kebijakan”.

Oleh: Ashiong P. Munthe, dosen tetap Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan