Jakarta – PN NEWS Peristiwa Natal bukan hanya dirayakan di Indonesia, tetapi di hampir di seluruh belahan dunia, bahkan di negara yang berfaham komunis dan atau yang penduduknya ada yang atheis sekalipun tidak melarang rayakan Natal tentu saja bagi pemeluk-pemeluknya.
Kenapa Natal dirayakan umat Kristen, karena merupakan hari peringatan kelahiran Yesus Kristus yang adalah Tuhan yang menjadi manusia untuk menebus umat manusia dari segala dosa. Kata Natal adalah serapan dari bahasa Portugal yang berarti kelahiran. Natal adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tanggal 25 Desember.
Natal dirayakan dalam bentuk ibadah atau kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; kebaktian pagi dan kebaktian malam pada tanggal 25 Desember. Dalam tradisi peringatan natal mengandung juga aspek-aspek sosial diantaranya adanya pohon natal, lampu kerlap-kerlip, kartu natal, bertukar hadiah dan juga kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas.
Injil Yohanes 3:16 menulis; “Bahwa begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, sehingga setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal”. Kutipan firman Injil Yohanes ini menjelaskan kepada kita bahwa Natal adalah kehadiran Tuhan di dunia yang menjadi manusia, dan bagi umat Kristen merupakan peristiwa sejarah yang diyakini dan diperingati tiap tahunnya. Tidak terkecuali umat Kristen yang ada di Indonesia juga memperingati Natal dalam berbagai bentuk diantaranya ibadah atau kebaktian tentu dengan kegembiraan dan sukacita.
Sukacita di hari Natal adalah sesuatu yang wajar, sewajar sukacita umat agama lain jika mereka merayakan hari besar keagamaannya sendiri. Sukacita ini tentu ditandai dengan perbuatan baik dankegiatan lainnya yang mencerminkan nilai budaya yang tinggi secara universal, juga diikuti dengan kearifan lokal disetiap tempat dimana komunitas manusia ada dan berelasi.
Tetapi ada yang unik dalam menanggapi parayaan Natal, lebih khusus di Indonesia yaitu adanya sebagian orang yang merasa dirinya terganggu kalau ada ibadah perayaan Natal yang hanya dilakukan sekali dalam setahun. Bahkan ada sekelompok orang yang bertindak sebagai hakim menentukan sah atau tidak sahnya ibadah atau kebaktian Natal yang dilakukan umat Kristen seperti yang terjadi di desa Cilebut Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat yang viral di medsos, sekelompok orang bertindak intoleran dan mempersekusi serta upaya melarang umat Kristen beribadah merayakan hari besar agamanya. Perdebatan yang viral ini sangat jelas terlihat arogansi dari sekelompok orang yang menjadi polisi surga menetukan sah tidaknya ibadah umat agama lain.
Kisah nyata dari sekelompok orang di desa Cilebut Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat bukanlah satu-satunya peristiwa pelarangan itu sendiri, masih ada pelarangan lainnya yang dilakukan diberbagai daerah malah ada yang melibatkan pejabat Negara seperti yang sudah viral juga berupa penolakan izin ibadah Natal di daerah Maja Kabupaten Lebak Provinsi Banten dan Bupati Lebak meminta agar warga Maja untuk pergi merayakan Natal ke daerah lain ke kota Rangkas Bitung jauh dari tempat tinggal umat Kristen itu sendiri di Maja.
Sikap yang diperlihatkan Bupati Lebak adalah cerminan dari pejabat Negara yang tidak memiliki atau setidaknya tidak mau tahu atau memang tidak ingin agama lainnya dapat menjalankan dan merayakan ibadahnya den gan sukacita. Tidak memiliki kearifan lokal dalam mengemban amanah sebagai pemimpin bagi semua umat yang ada diwilayahnya.
Kejadianseperti ini bukanlah hal yang baru di republik ini, pelarangan umat Kristen untuk melaksanakan ibadah Natal baik di rumah sebagai keluarga atau ditempat lainnya sebagai komunitas sudah menjadi acara rutin setiap Natal tiba. Sebut saja adanya larangan menggunakan asesoris Natal oleh umat selain Kristen, mengharamkan untuk menyampaikan ucapan selamat Natal dan juga persekusi dan sikap intoleransi yang dipamerkan di ruang publik, ada yang melalui spanduk dan ada yang melalui petisi dan bahkan mendatangi langsung sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran dan menjadi agenda di setiap tahun jelang hari Natal.
Memang berlaku adil masih merupakan barang langkah di negeri ini, keadilan terkadang muncul terbalik dihadapan kita dan banyak diantara kita menganggap semua itu sesuatu yang wajar dan kita lalu diam tanpa pernah mengajukan keberatan apalagi untuk melawan karena kita bersembunyi di balik jubah yang namanya kasih.
Semoga Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dapat dengan bijak mengsikapi kejadian ini agar tidak menjadi duka rutin di tiap hari Natal tiba yang seharusnya menjadi sukacita.
Penulis : Drs. Mawardin Zega, MTh (pemerhati social, tim redaksi Pelitanusantara.com)













