“CURIGA MELULU PROVOKASI KEMUDIAN

IMG 20210115
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com | “PANDEMI cenderung menghasilkan perilaku aneh. Guru besar bidang sejarah di Universitas Harvard, AS, Niall Campbell Forguson menuliskan opininya itu dalam artikel berjudul Amerika Will Achieve Hard Immunity to Trumpism. I hope di portal berita Bloomberg.

Kata Ferguson, “Ingat, Pandemi terkait dengan ekstremisme agama dan politik. Ketakutan akan penyakit, saling curiga, teori dukun, hipokendria, hiperskeptisisme, dan dislokasi mental umum yang disebabkan oleh jarak sosial, penguncian, dan penganggaran cenderung menghasilkan perilaku yang aneh.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Ia sebetulnya tidak sedang menulis tentang Pandemi Covid-19 di AS. Ia fokus mengutuk Presiden AS Donald Trump yang ‘memprokasi’ pendukungnya untuk menolak sertifikasi Kemenangan Joe Biden dalam pemilihan Presiden AS yang dilakukan senat di Gedung Capitol, tengah pekan lalu.

Namun, Ferguson mengingatkan bahaya provokasi di saat Pandemi korona tengah mendaki di AS. Ia menyebut Trump sebagai demagog yang ‘mencambuk’ massa ke dalam semangat revolusioner sehingga menyerbu Capitol. Trump, tulus Ferguson, tidak hanya mengobrak-abrik massa. “Trump kemudian berkata bahwa dia ‘mencintai’ mereka atas apa yang telah mereka lakukan. Ini jelas melanggar sumpah jabatannya untuk memelihara, melindungi, dan membela konstitusi Amerika Serikat, “kata Ferguson.

Trump, lanjut mahaguru di Universitas New York itu ialah seorang demagog dan calon tirian yang mengabaikan supremasi hukum serta mendorong hasutan dan pemberontak. Ia mengajak pengikutnya untuk curiga, lalu ‘melecutnya’ sehingga bergerak untuk merusak demokrasi. Langkah seperti itu menunjukkan hilangnya kompas moral.

Kemarin, saat negeri ini memulai penyuntikan vaksin, sikap curiga dan provokasi juga mengiringi. Ada seorang yang mengaku berprofesi dokter mengunggah pernyataan menolak di vaksin kalau bukan vaksin merah-putih. Padahal, vaksin produksi dalam negeri itu ditargetkan baru siap uji klinis tahap pertama pada akhir 2021.

Dalam tulisan panjang dimedia sosial ia mengaku mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari tenaga kesehatan soal bagaimana caranya menolak divaksin. Sang ‘dokter’ pun menyebut bahwa dirinya tak bisa memberikan saran untuk untuk para penanya. Sembari menyatakan, ‘saya tak mau memprovokasi orang lain’, ia menyebutkan bahwa ia sendiri menolak divaksin (bahwa dengan todongan pistol sekalipun) kalau bukan vaksin merah-putih.

Bahkan, seperti ‘seruan Donald Trump’, demi vaksin merah putih itu bila nanti ada, ia rela berisiko apa pun termasuk mati. Dia menyebut tidak memprovokasi, tetapi dengan sadar menyatakan melalui tulisan yang memprovokasi dan mengunggah tulisan itu diruang publik lewat medsos. Buat apa ia mengumbar pernyataan itu di Facebook kalau bukan untuk memengaruhi pengikutnya?
Pleace deh….

Pas dengan tulisan Ferguson bahwa Pandemi dengan segala tindakan turunan akibat itu cenderung membuat orang berperilaku aneh. Terhadap Pandemi Covid-19 yang lintas negara pun, ada yang menyikapinya dengan gaya sok patriot sejati, atas nama bangsa. Mengibarkan ‘bendera bangsa’. Padahal, korona tidak mengenal suku bangsa, apalagi bendera.

Ada lagi politikus di DPR, Ribka Tjiptaning, dengan gaya provokatif didepan rapat kerja dengan menteri kesehatan mengatakan menolak untuk divaksin dan memilih membayar denda. ‘Saya tetap tidak mau divaksin, kendati (vaksin itu sampai yang 63 tahun bisa divaksin. Saya udah 63(tahun) nih, mau semua usia boleh, tetap misalnya pun hidup di DKI semua anak cucu saya dapat sanksi lima juta, mending gue bayar, menjual mobil kek, “kata Ribka kemarin…

Ia lalu memungut sejumlah kasus yang sangat-sangat spesifik, satu-dua kasus pula, tanpa penjelasan sains pula, soal adanya orang-orang yang terkena risiko setelah divaksin, model mencomot tanpa menyertakan penjelasan detail, dengan argumentasi rapuh pula, untuk menarik kesimpulan secara general jelas lebih bernuansa provokasi ketimbang anjuran hati hati. Ia tak ubahnya mereka yang membagi-bagikan video lawas anak santri yang panas dan kejang setelah disuntik vaksin difteri.

Pada saat seperti ini, akal sehat tak boleh dikeluhkan, apa lagi dikalahkan. Akal sehat kita mengatakan tak mungkin Badan Pengawas Obat dan Makanan merilis izin penggunaan darurat tanpa alur yang jelas, teruji, juga terbukti. Akal sehat kita menuntun agar tubuh kita sehat, dengan salah satu pintunya vaksinasi.

Sekarang pilihan ada di tangan kita : mengikuti akal sehat atau menuruti syahwat para demagog yang menghasut kita untuk curiga tanpa ikhtiar apa-apa lalu menyangkal apa saja yang datangnya dari negara. Kalau saya, pilih yang pertama. Saya yakin Anda juga.

P. Sirait.