Cara yang Produktif dan Kreatif Mendapatkan Uang Dimasa Pandemi COVID-19.

Kefaspelita
IMG 20210807 WA0064

BANYUWANGI,PELITANUSANTARA.COM Ditengah Pandemi COVID-19 banyak warga Banyuwangi yang memutar otak untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Namun warga Banyuwangi bisa mendapatkan uang dari sampah rumah tangga. Kok bisa?

Adalah Edy Supriyanto (40) warga Kelurahan Klatak, Kalipuro, Banyuwangi. Per bulan dirinya mendapatkan uang sekitar Rp 900 ribu dari sampah rumah tangga yang dikelolanya sendiri.

“Alhamdulillah per bulan saya bisa mendapatkan uang dari sampah rumah yang saya kelola sendiri. Jadi tidak memulung sampah ditempat sampah orang, tapi sampah saya sendiri saya kumpulkan,” ujarnya kepada Pelitanusantara.com, Jumat (6/8/2021).

Sampah itu dipilahnya menjadi dua, organik dan anorganik. Kemudian dirinya menyetorkan sampah-sampah itu ke Bank sampah. Dulu, dirinya rutin menyetorkan sampah ke depo sampah di Jalan Jaksa Agung Suprapto, di belakang Stadion Diponegoro. Namun saat ini, petugas bank sampah datang ke rumahnya.

“Saat ini tinggal tunggu dirumah. Karena petugas Bank Sampah datang dan mengambil sampah yang saya kumpulkan,” pungkasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Uni Zuraida (39) warga Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi. Dimasa pandemi ini, bank sampah sangat membantu dirinya mendapatkan uang tambahan.

“Per bulan dapat Rp 600 ribu. Dari sampah yang biasa saya kumpulkan. Alhamdulillah dimasa sulit gini sangat bermanfaat bagi keluarga,” ujarnya.

Sebelumnya, dirinya selalu membakar sampah miliknya. Namun setelah ada penjelasan dari petugas bank sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi, dirinya mulai mengumpulkan sampah-sampah tersebut.

“Sudah 6 bulan ini saya kumpulkan. Saya juga ada sampah popok bekas. Per kilo kering (popok bayi) saya dapat seribu. Lumayan lah,” pungkasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Chusnul Khotimah mengatakan, bank sampah menjadi manfaat bagi masyarakat Banyuwangi ditengah Pandemi COVID-19 ini. Masing masing keluarga bisa mendapatkan uang tambahan dari hanya mengumpulkan sampah.

“Ini menjadi jawaban bagi masyarakat. Masyarakat dapat uang, sementara kita bisa mengendalikan sampah di perkotaan,” ujarnya.

Opsi Pengelolaan sampah rumah tangga yaitu pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan sampah anorganik bisa dikelola di Bank Sampah. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas pemilahan sampah dari sumber dan meningkatkan minat masyarakat dalam pengelolaan sampah maka diciptakan inovasi BAGIAK.

“BAGIAK adalah Bank Sampah Banyuwangi Giat Keliling yang merupakan usaha menjemput bola hasil pemilahan sampah anorganik dari masyarakat berupa tabungan sampah yang bisa diambil dalam bentuk uang sehingga menjadi keuntungan bagi para nasabah,” tambahnya.

Inovasi BAGIAK ini mempermudah nasabah untuk ikut serta dalam pengelolaan sampah dan bermanfaat berupa keuntungan dari hasil menabung sampah, sehingga sampah bisa terkelola dengan baik dan lingkungan menjadi lebih bersih. Kesadaran dan minat masyarakat dalam pengelolaan persampahan juga semakin meningkat.

Awalnya nasabah yang akan menabung harus datang langsung ke Bank Sampah Banyuwangi, seiring berjalannya waktu untuk meningkatkan pelayanan, maka petugas dari Bank Sampah Banyuwangi berkeliling untuk menjemput hasil pemilahan sampah dari para nasabah.

“Sekarang pun sudah kita buatan aplikasi Menabung Sampah yaitu KERTASPEDIA yang merupakan layanan menabung sampah berbasis digital,” pungkasnya.
(Kang Bandri/PelitaNusantara.com)*