“CALON TUNGGAL KAPOLRI SEORANG NASRANI”

Kefaspelita
IMG 20210112
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com | LISTYO Sigit Prabowo, Jenderal Nasrani kedua yang ditunjuk jadi Kapolri. Begitu judul berita Fajar. Co.id yang saya baca. Terus terang judul tulisan ini terinspirasi dari berita tersebut.

Ramai diberitakan Presiden Jokowi mengajukan nama Listyo Sigit Prabowo sebagai calon Tunggal Kapolri kepada DPR. Terdapat lima calon Kapolri. Mereka ialah Gatot Eddy Pramono, Boy Rafli Amar, Listyo Sigit Prabowo, Agus Andrianto, dan Arief Sulistyanto. Tak perlu disebut pangkat dan jabatan mereka, meski itu menunjukkan prestasi dan kemampuan mereka karena yang lebih penting jangan-jangan agama daripada prestasi dan kemampuan.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Judul berita yang saya kutip, juga judul tulisan ini, yang harus repot-repot menyebut agama sang kandidat Kapolri seakan menunjukkan identitas lebih penting daripada kualitas. Sebelumnya, beredar di berbagai grup aplikasi pertukaran pesan nama-nama Jendral Polisi beragama Nasrani.

Aksi unjuk rasa bertubi-tubi menolak Ahok yang Tionghoa dan Nasrani menjadi Gubernur DKI Jakarta juga menunjukkan identitas lebih utama daripada kualitas. Kapolda Jawa timur Noco Afinta sempat ditolak pemuda Madura karena identitas nasraninya bukan karena rendah kualitasnya. Listyo Sigit Prabowo sempat ditolak Ulama Banten ketika menjadi Kapolda Banten karena identitas nasraninya bukan karena jeblok prestasinya.

Bila saja yang jadi Kapolri muslim, agamanya tidak disebutkan dalam judul berita. Teruhlah Boy Rafli Amar jadi Kapolri, judul berita kiranya tidak akan seperti ini: Boy Rafli Amar Jenderal muslim sekian yang ditunjuk jadi Kapolri.

Di masa Order Baru tidak ada yang berani membicarakan agama pejabat secara terbuka. Orang membicarakan agama pejabat diam-diam. Orang bisa dituduh subversif bila membicarakan agama pejabat secara terbuka.

Banyak Menteri dikabinet pak Harto Nasrani. Presiden Soeharto mengangkat LB Moerdani yang katolik sebagai Panglima ABRI. Pak Harto mengangkat Widodo Budidarmo yang Nasrani sebagai Kapolri. Serupa berita yang saya kutip, bila Presiden Jokowi mengajukan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri, dia menjadi Kapolri Nasrani kedua setelah Widodo Budidarmo.

Di penghujung Pemerintah Orde baru, umat menuntut apa yang disebut Robert W Hefner dan Martin Van Bruinessen sebagai proporsionalitas. Umat menuntut proporsiolitas. Umat menuntut proporsiolitas tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga dalam jabatan publik dipolitik, militer, dan birokrasi. Umat merasa orang Kristen dan Muslim nominal alias KTP menduduki, bahkan menguasai posisi kunci di Politik, birokrasi, dan militer.

Presiden Soeharto kiranya mengakomodasi tuntutan akan proporsionalitas itu. Pak Harto mengangkat banyak menteri dari kalangan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia. Pak Harto mengangkat Feisal Tanjung sebagai Panglima ABRI. Feisal kemudian diindentifikasi sebagai ABRI hijau atau ABRI Islam sebagai antiteis ABRI merah putih atau ABRI nasionalis. Pak Harto mengakomodasi tuntutan proporsionalitas itu untuk mendapat sokongan umat Islam demi mempertahankan kekuasaannya yang sudah berurat-berakar.

Para Presiden di masa reformasi yang lebih demokratis jika dibandingkan dengan masa Orde Baru mengangkat sejumlah menteri dari kalangan minoritas, baik minoritas agama, etnik, maupun gender. Presiden-presiden kita dimasa reformasi itu melakoni proporsionalitas sesungguhnya. Itulah demokrasi. Bukankah kalangan minoritas yang menempati posisi kunci di Pemerintahan, birokrasi, militer, dan kepolisian, bisa di hitung dengan jari.

Boleh dikatakan tidak ada protes kelika para Presiden era Reformasi mengangkat pejabat dari kalangan minoritas. Tidak ada kiranya yang mempersoalkan apalagi menolak pejabat dari kalangan minoritas.

Mempersoalkan identitas mulai terjadi pada pemilu Presiden 2014. Di bikin hoaks bahwa calon presiden Joko Widodo beragama Nasrani keturunan Tionghoa Singapura. Di baliknya terkandung pesan untuk tidak memilih atau menolak Jokowi sebagai Presiden karena dia Nasrani dan Tionghoa.

Berawal dari situ kita doyan mempersoalkan identitas pejabat atau calon pejabat. Penolakan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Nico Afinta sebagai Kapolda Jatim, dan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolda Banten terjadi pasca – Pilpres 2014.

Akhirul kalam, siapapun yang kelak jadi Kapolri, apakah dia Muslim atau Nasrani, Presiden Jokowi pastilah menunjukkan bukan karena identitas agamanya, melainkan karena kualitas kinerjanya. Kita harus menghormati pilihan Presiden karena mengangkat Kapolri hak prerogatif presiden dengan persetujuan DPR. “Itulah Demokrasi………?”

Pardamean sirait