Indramayu- Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia melakukan kunjungan silaturahmi serta penyampaian hasil polling dari Panitia Apresiasi Pewarna Indonesia (API) kepada Buya Syakur di kediamannya di Padepokan Majelis Kholwat Buya Syakur, Cikawung, Indramayu, Selasa (27/9/2022).
Buya Syakur dikenal sebagai salah satu tokoh agama yang kerap menyuarakan pentingnya persatuan diantara seluruh umat beragama terkhususnya di Indonesia. Salah satu pemikiran yang beliau sampaikan kepada kepada Tim Panitia Apresiasi Pewarna Indonesia (API) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pewarna Indonesia tahun 2022 yaitu “Sebagai sesama ciptaan Tuhan wajib pelihara kesetaraan”.

Dalam kunjungan yang dipimpin secara langsung oleh Ketua Umum Pewarna Indonesia ini sekalugus menyampaikan hasil polling yang dilakukan oleh API yang menobatkan Buya Syakur sebagai Tokoh yang menjaga keberagaman.
“Konsistensi dan pemikiran-pemikiran yang Buya Syakur sampaikan terpilih sebagai penjaga keberagaman, ungkap Yusuf Mujiono Ketua Umum Pewarna Indonesia.
Yusuf menyatakan bahwa API Pewarna Indonesia ini ditujukan sebagai penghargaan wartawan bagi tokoh-tokoh yang membawa perubahan baik di masyarakat. “Harapan kami, API pewarna Indonesia bisa menjadi inspirasi banyak orang untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara”.
Sementara itu, Anna Kezia selaku Ketua Panitia, berharap Buya Syakur bisa hadir untuk menerima penghargaan pada 28 November 2022 nanti di Jogja Nasional Museum, Jogjakarta. “Kehadiran Buya Syakur membawa pesan kesetaraan” tandasnya.
Buya Syakur menyambut gembira atas kedatangan dan penghargaan yang dilakukan oleh Pewarna Indonesia, serta terbuka untuk bekerjasama demi untuk terus menjaga kesetaraan seluruh warga masyarakat Indonesia.
Pertemuan yang berlangsung kurang lebih 2 jam tersebut, Buya Syakur mengungkapkan pengalamannya 20 tahun dinegeri orang. Untuk itu, Buya Syakur mengharapkan Pewarna Indonesia terus menjaga kesetaraan bersamanya. Sebab, menurutnya sebagai bentuk cinta kita kepada Tuhan.
“Kita setara sebagai manusia ciptaan Tuhan, dan ini bukti cinta kita pada Tuhan”, ungkapnya.
Buya Syakur yang memiliki nama asli K. H. Abdul Syakur Yasin, MA., yang lahir pada tanggal 12 November 1960 merupakan seorang ulama Indonesia dan pendiri Pondok Pesantern Cadangpinggan.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren di Babakan, pada tahun 1971, Buya Syakur melanjutkan pendidikan S1 di Kairo dan selesai pada tahun 1977. Ketika Buya Syakur menjadi mahasiswa di sana, beliau diangkat menjadi ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Kairo. Kemudian pada tahun 1979 melanjutkan pendidikan S2 bidang sastra linguistic di Tunisia dan selesai pada tahun 1981. Setelah itu, kemudian beliau diangkat menjadi staf ahli di kedutaan besar Tunisia. Setelah itu, Buya Syakur melanjutkan pendidikan doktoralnya di London dengan konsentrasi dialog teater dan lulus pada tahun 1985
Kurang lebih sekitar 20 tahun lamanya beliau habiskan untuk belajar di Timur Tengah dan Eropa. Dengan pengalaman yang begitu lama dan menjumpai banyak perbedaan ketika berada di Timur Tengah dan Eropa, tidak mengherankan jika beliau kemudian memiliki pemikiran yang luas tentang keberagaman dan pentingnya menjaga kesetaraan dalam bermasyarakat dan bernegara.
(A. L. Malo)
