Pelitanusantara.com Dalam epik Mahabharata karya Resi Wyasa dan Serat Pustakaraja Purwa karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, kisah Bisma Dewabrata menjadi salah satu yang paling tragis dan penuh pengorbanan. Sebagai seorang kesatria yang gagah dan setia, Bisma Dewabrata rela mengorbankan kebahagiaan dan kehidupannya demi memenuhi sumpah dan kewajiban kepada ayahnya, Prabu Santanu.
Sumpah itu dimulai ketika Bisma Dewabrata harus meninggalkan kehidupan normalnya sebagai seorang pangeran dan memilih hidup selibat demi loyalitas kepada ayahnya dan ibu tirinya, Satyawati. Dengan sumpahnya itu, Bisma Dewabrata berharap dapat memenuhi keinginan ayahnya dan memastikan bahwa tahta Hastina akan jatuh ke tangan keturunan Satyawati.
Namun, sumpah itu membawa konsekuensi yang sangat besar bagi kehidupan Bisma Dewabrata. Ia menjadi manusia yang ciranjiwi (berumur panjang/abadi), tetapi juga terjebak dalam situasi yang sulit dan tragis. Ketika ia harus mencarikan jodoh anak-anak Satyawati melalui sayembara putri Negeri Kasindra, ia kembali harus menyerah pada sumpah yang berupa kutukan dari Dewi Amba yang secara tragis mati di tangan Bisma dan akan menjadi jalan kematiannya kelak.
Di akhir perannya dalam perang Bharatayudha, Bisma Dewabrata masih bergumul dengan sumpahnya ketika ia harus berhadapan dengan Srikandi, sebagai titisan sang dewi. Ia kembali bersumpah tidak akan menyerang Srikandi dalam perang tanding itu, tetapi akhirnya menemui ajalnya dalam keadaan yang sangat tragis.
Kematian Bisma Dewabrata adalah sebuah tragedi yang tak terlupakan. Ia meninggal dalam keadaan yang sangat heroik, tetapi juga sangat menyedihkan. Ia meninggal dengan penuh kesadaran bahwa ia telah menebus kesalahannya kepada Dewi Amba, tetapi juga dengan penyesalan bahwa ia tidak dapat memenuhi keinginan sang dewi untuk bersama-sama di alam baka.
Kisah Bisma Dewabrata adalah sebuah pengingat bahwa pengorbanan dan kesetiaan dapat membawa kebanggaan dan kehormatan yang tak terlupakan, tetapi juga dapat membawa tragedi dan kehilangan yang sangat besar. Dalam kisah ini, kita dapat melihat bagaimana Bisma Dewabrata rela mengorbankan segalanya demi memenuhi sumpah dan kewajiban kepada ayahnya, dan bagaimana akhirnya ia harus menanggung konsekuensi dari keputusannya itu. [÷]
