Apa Itu Angpau dan Bagaimana Sejarahnya?

Pelitanusantara.com | Salah satu tradisi Hari Raya Imlek adalah pemberian angpau atau uang. Namun, pada Imlek kali ini, pemberian angpau akan berbeda dengan tahun sebelumnya akibat COVID-19. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahkan mengimbau masyarakat agar pemberian angpau bisa dilakukan secara virtual. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kemenkes, Siti Nadiatarmizi juga mengimbau agar masyarakat merayakan Imlek secara sederhana dan bisa dilakukan secara daring.

“Merayakan Hari Raya Imlek secara sederhana demi tetap mematuhi protokol kesehatan tidak akan mengurangi makna dari Imlek,” Ungkap Siti Nadiatarmizi kepada Antara News.

Imbauan masyarakat terkait perayaan Imlek secara sederhana penting karena, lonjakan kasus COVID-19 seringkali terjadi setelah libur panjang. Klaster yang paling banyak terjadi adalah klaster keluarga.

Apa itu Angpau? Seperti layaknya perayaan Idul Fitri, Imlek, perayaan pernikahan, kegiatan melayat, dan lain sebagainya masyarakat di Indonesia akan memberi uang sebagai perayaan hadiah. Pemberian uang pada hari raya adalah hal yang lumrah. Khususnya pada hari raya seperti Imlek, pemberian uang dikenal dengan istilah angpau. Istilah angpau dipahami sebagai kegiatan menyambut tahun baru Imlek. Bagaimana Sejarah Angpau? Warna merah pada angpao melambangkan kegembiraan dan harapan nasib baik bagi penerimanya. Angpau pertama kali ditemukan oleh Dinasti Han di Cina. Pada masanya, sebagian besar angpau menggunakan uang tembaga dengan lubang bundar dan lubang segi empat di bagian tengah. Biasanya pada bagian depan, tertulis kalimat keberuntungan “fu shan shou hai”.

Kalimat keberuntungan itu berarti semoga berbahagia dan panjang usia. Tidak hanya “fu shan shou hai”, ada juga angpo yang bertuliskan “qiang shen jian ti”. Ungkapan tersebut berarti semoga sehat selalu. Sementara di bagian belakang terdapat lambang keberuntungan seperti harimau, kura-kura, dan sebagainya. Menurut tradisi orang Tionghoa, seseorang yang wajib memberikan angpao adalah mereka yang sudah menikah. Pernikahan dimaknai sebagai batas antara masa anak-anak dengan usia dewasa.

Harapannya pemberian angpau dari orang yang telah menikah dapat memberikan nasib baik kepada orang yang menerima. Tidak hanya masyarakat Tionghoa tradisi ini juga berlaku untuk masyarakat Malaysia, Brunei, dan Singapura. Tradisi memberi angpau juga sering disebut green envelope, karena uang sebagai hadiah tersimpan dalam amplop berwarna hijau. Warna hijau melambangkan warna yang melekat bagi umat Muslim. Tradisi ini merupakan bagian dari konsep zakat. Nantinya, kaum muslim akan menyisihkan sebanyak 2,5 persen dari kekayaan. Uang yang disisihkan diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Selain di Indonesia, tradisi semacam ini juga berlangsung di Jepang, Cina, Nigeria, dan Polandia. Tradisi memberi uang sebagai hadiah kepada anak-anak setiap tahun disebut sebagai tradisi “Otoshidama”. Semula tradisi tersebut menggunakan kue beras sebagai lambang.

Arti penggunaan lambang kue beras yaitu semangat. Kemudian, sejak periode Edo–sekitar 410 tahun lalu pemberian kue beras digantikan dengan uang. Setiap tahun nilai uang yang diberikan sebanyak 5.000 yen sampai dengan 10.000 yen. Anak-anak juga akan mendapat kesempatan untuk memberikan “Otoshidama” ketika mereka sudah dewasa. (PN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *