Trenggalek – Penjabat Sekda Trenggalek Dr. Andriyanto, SH., M.Kes., buka Musyawarah Perencanaan Perempuan, Anak, Disabilitas dan Kelompok Rentan (Musrena Keren) Kecamatan Munjungan, Senin 7 Februari 2022.
Melihat dan mendampingi langsung kegiatan Musrena Keren itu, Andriyanto yang merupakan salah satu Staf Ahli Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa itu takjub. Selama ini dirinya hanya mendengar inovasi yang menjadi terbaik pertama Kovablik Jatim itu. Kemudian hadir dan membuka kegiatan ini secara langsung, pria yang juga pernah menjabat Kadinsos Jatim ini semakin dibuat takjub, karena kelompok rentan benar-benar difasilitasi dan didengar aspirasinya.
“Kita paham Musrena Keren ini merupakan inovasi yang luar biasa dari Kabupaten Trenggalek. Bahkan di tahun 2021 mendapatkan terbaik pertama di Tingkat Provinsi Jawa Timur Kompetisi Inovasi Publik (KOVABLIK),” ucap Andriyanto.
Selain itu sambungnya, “masuk nominasi di United Nation Public Service Award (UNPSA) yang mudah mudahan nanti bisa kita dapatkan. Namun masuk nominasi itu sudah sangat luar biasa,” lanjutnya.
Kita paham Super Keren ini adalah Wujud dari suara perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan. Artinya kalau duper Keren ini berjalan dengan bagus, maka suara- suara dari perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan itu menjadi terfasilitasi. “Dengan itu maka Kabupaten Trenggalek akan jauh lebih bagus dan branding Trenggalek Meroket bisa terlaksana,” terang lanjut penjabat sekda itu.
Andriyanto berharap praktik-praktik baik yang sudah dilakukan ini bisa dikenalkan dan diviralkan melalui media sosial. Sehingga dengan begitu orang lebih mengenal potensi Trenggalek. “Ini salah satu contoh bahwa wilayah itu tidak akan mungkin bisa didengar potensi alamnya maupun potensi-potensi suara dari perempuan dan anaknya kalau tidak dipublikasikan. Atau diviralkan melalui media sosial,” imbuhnya.
Sehingga kita inginkan kepada seluruh stake holder yang ada di Kecamatan Munjungan terutama untuk memviralkan ke media sosial dan juga kecamatan kecamatan yang lain. Harus banyak banyak mengenalkan ke dunia luar bawasannya Trenggalek punya potensi yang sangat luar biasa dan layak jual, tutup pria yang juga menjadi Dosen Pasca Sarjana Universitas Airlangga itu. (mj pelitanusantara.com)
Berita Terkait
KETUM GWI: DUGAAN PENYADAPAN PRESIDEN PRABOWO HARUS DIUNGKAP TUNTAS, HUKUM TAK BOLEH TAJAM KE BAWAH PenaTrisula.Com: Jakarta, 6 November 2026 — Ketua Umum Gabungnya Wartawan Indonesia (GWI), Syamsul Bahri, S.H., menegaskan bahwa dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara harus diusut secara menyeluruh, transparan, dan tanpa pandang bulu. Ia mendesak Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto agar memastikan proses penegakan hukum berjalan profesional, independen, serta tidak berhenti pada pengungkapan pelaku di lapangan, tetapi juga menelusuri pihak-pihak yang diduga berada di balik praktik tersebut. Pernyataan itu disampaikan Syamsul Bahri, S H., saat ditemui di Kantor Sekretariat DPD GWI Provinsi Banten, Jalan Veteran Blok D12/14, RT 005/RW 008, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Kamis (5/11/2026). Menurut Syamsul, dugaan penyadapan tanpa dasar hukum terhadap kepala negara bukan persoalan biasa. Jika terbukti terjadi, tindakan tersebut berpotensi menjadi ancaman serius terhadap keamanan nasional, kerahasiaan komunikasi kenegaraan, serta kedaulatan informasi Indonesia. “Negara tidak boleh bersikap permisif terhadap segala bentuk tindakan ilegal yang berpotensi mengganggu keamanan dan kedaulatan nasional. Siapa pun yang terbukti terlibat harus dimintai pertanggungjawaban hukum. Tidak boleh ada perlakuan istimewa, apalagi perlindungan terhadap pihak tertentu,” tegas Syamsul. Tiga Agenda Penting yang Harus Diungkap Syamsul menilai terdapat sedikitnya tiga aspek mendasar yang harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum dalam menangani perkara tersebut. Pertama, mengungkap aktor dan motif di balik dugaan penyadapan. Penyelidikan harus mampu menelusuri siapa pihak yang diduga menjadi pengendali, apa kepentingannya, serta apakah terdapat keterlibatan jaringan atau pihak lain. Kedua, mengusut perkara hingga ke akar persoalan. Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku teknis semata. Apabila ditemukan indikasi keterlibatan pihak lain, seluruh rangkaian peristiwa harus diungkap berdasarkan bukti dan ketentuan hukum yang berlaku. Ketiga, menjamin keamanan dan keutuhan bukti digital. Seluruh bukti elektronik yang relevan harus diamankan, diverifikasi, dan diuji secara forensik agar tidak terjadi penghilangan, perubahan, ataupun manipulasi barang bukti yang dapat menghambat proses penyidikan. Lebih jauh, Syamsul menekankan bahwa independensi aparat penegak hukum merupakan prasyarat penting dalam menjaga kepercayaan publik. Namun, ketegasan penindakan harus tetap berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap asas praduga tak bersalah dan prinsip supremasi hukum. “Teknologi semestinya menjadi instrumen kemajuan bangsa, bukan alat untuk kepentingan kelompok tertentu, apalagi jika digunakan dengan cara melanggar hukum dan berpotensi merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya. Ia juga mengajak masyarakat dan insan pers untuk turut mengawal perkembangan perkara tersebut secara kritis dan bertanggung jawab. Publik diminta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, sekaligus menolak penyebaran berita bohong yang dapat memperkeruh situasi. Bagi GWI, persoalan ini bukan semata menyangkut siapa yang menjadi korban, melainkan menyangkut prinsip fundamental bahwa hukum harus berdiri di atas segala kepentingan. “Jangan sampai hukum hanya terlihat tegas kepada masyarakat kecil, tetapi kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuasaan atau pengaruh. Semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Tidak boleh ada seorang pun yang kebal hukum,” pungkas Syamsul Bahri. (Red)