Tulungagung,- Poli rehabilitasi RSUD dr. Iskak Tulungagung merupakan poli yang secara khusus menangani pasien dengan gangguan fungsi berupa motorik maupun sensorik dari anak anak hingga lanjut usia.
Poli ini bisa diibaratkan sebagai pusat terapi bagi pasien guna mengembalikan fungsi tubuhnya yang mengalami masalah. Misal gangguan beraktivitas karena saraf terjepit, cedera, patah tulang, dan kelumpuhan akibat stroke.
Rehabilitasi medik juga biasanya diperlukan setelah pasien menjalani operasi tertentu. Di poliklinik ini, pasien dapat berkonsultasi dan melakukan perawatan seputar masalah fisik hingga dapat beraktivitas tanpa bantuan orang lain.
“Di Poli Rehabilitasi Medik ini, fokusnya adalah mendukung proses pemulihan dan melatih kemampuan tubuh pasien agar bisa kembali bergerak dan beraktivitas seperti sedia kala,” kata Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Wahyu Sita Wardani , M.Ked.Klin, Sp.KFR.
Terdapat dua dokter spesialis rehabilitasi medik di poliklinik ini. Selain dr. Sita ,terdapat dokter spesialis rehabilitasi medik lain yang tak kalah mumpuni, yakni dr. Bambang Suhadi, Sp.KFR.
Saat melakukan pelayanan, dua dokter spesialis rehabilitasi medik andalan RSUD dr. Iskak ini biasanya dibantu oleh satu tenaga terapis okupasi, satu tenaga terapis wicara, satu tenaga ortotis prosthetis dan sembilan fisioterapis.
Pelayanan di Poli Rehabilitasi Medik secara umum hampir sama dengan poli-poli lain di RSUD dr.Iskak Tulungagung.
Menempati ruangan berukuran sekitar 4 x 7 meter, di Poli Rehabilitasi Medik terdapat meja dokter untuk layanan konsultasi, meja-meja perawat dan administrasi, serta bed untuk pasien yang menggunakan alat-alat terapi.
Selain itu, juga terdapat sejumlah peralatan modaitas terapi panas, elektrik dan mekanik dan ruangan gymnasiun untuk terapi pasien.
Pasien yang berkunjung ke Poli Rehabilitasi Medik ini beragam, mulai dari usia anak, dewasa hingga lanjut usia.
Mereka umumnya adalah rujukan dari poli lain seperti Poli Saraf, Poli Bedah Tulang, Poli Tumbuh Kembang dan poli-poli lainnya yang membutuhkan terapi fisik, maka dirujuklah ke Poli Rehabilitasi Medik ini.
Jam operasional layanan di Poli Rehabilitasi Medik ini adalah hari Senin hingga Jum’at mulai pukul 08.00 WIB – 12.00 WIB atau sampai selesai.
Poliklinik yang berlokasi di depan Ruang Hemodialisa ini setiap harinya dapat melayani 70-an pasien yang didominasi oleh pengguna BPJS. Meskipun begitu juga terdapat pasien umum yang berobat di Poli Rehabilitasi Medik ini.
Sita menambahkan, setiap pasien biasanya membutuhkan waktu konsultasi dan terapi kurang lebih 30-40 menit. Dalam sepekan, pasien rehabilitasi medik mendapat jadwal latihan dua kali, misal dijeda Senin – Kamis, Selasa – Jumat, Rabu – Jumat dan seterusnya.
Jadwal ini diatur menyesuaikan kepadatan jadwal layanan atau bisa juga menyesuaikan kesiapan pasien untuk datang pada hari kerja dan jam operasional layanan Poli RM.
Selain terapi pasien juga harus tetap mengimbangi konsumsi obat serta mengikuti anjuran dan perintah dari dokter, sebab kuncinya agar dapat beraktivitas kembali seperti biasa adalah telaten dan mengikuti anjuran dokter.
Pelayanan yang diberikan di Poli Rehabilitasi Medik ini mencakup terapi latihan berjalan, terapi anak berkebutuhan khusus, terapi membantu melatih gangguan komunikasi, terapi mengurangi nyeri, terapi mengurangi otot kaku dan terapi fisik lainnya untuk membantu pengoptimalan fungsi fisik agar dapat menjalani aktivitas kehidupan sehari hari minimal untuk dirinya sendiri.
“Proses terapi ini umumnya berlangsung dua minggu hingga enam bulan tergantung kondisi dari pasien. Selain itu, dalam terapi juga ada dosisnya yakni dua kali dalam seminggu,” lanjutnya.
Sita melanjutkan, “Ke depannya kami berharap agar dapat memberikan pelayanan yang lebih maksimal lagi dengan harapan ruangan gymanasium lebih luas dan lebih lengkap untuk alat-alatnya dan adanya ruangan gymnasium pada Poli Eksekutif serta fasilitas yang belum ada agar nantinya dapat segera kita miliki”.
Selain terapi dan mengonsumsi obat yang tidak kalah penting adalah dukungan dari keluarga. Sebab yang mengetahui kondisi keseharian pasien di rumah, yaitu keluarganya sendiri. “Memberikan pelayanan terbaik kepada pasien dan kita di Poli Rehab ini tidak hanya menambahkan kesempatan hidup pasien. Tetapi bagaimana dapat memberikan kualitas hidup agar dapat beraktifitas kembali seperti sediakala, minimal untuk dirinya sendiri dan meskipun harus dengan proses dan telaten,” pungkasnya. ( E W )
