Peran Gereja dalam Pedagogi: Tantangan dan Solusi

IMG 20220125 WA0105
Ilustrasi foto - PN

 

Tangerang – Hubungan erat antara gereja dan pedagogi dalam hal ini pendidikan agama Kristen tidak akan dapat dilepaskan dari peran sentral penggagasnya yaitu Thomas H. Groome. Konsepsi Groome bermula dari kenyataan bahwa pelayanan pedagogi gereja masih banyak mengalami kegagalannya atau dikatakan berjalan dengan lamban. Kebanyakan mereka yang terjun dalam tugas pedagogi gereja tidak memiliki arah dan tujuan yang dapat menuntun arah bidang pelayanan ini. Akibatnya pelayanan pendidikan dalam gereja seperti mengalami hambatan yang berarti.

Kurangnya pemahaman terhadap tujuan akhir/ the ultimate of purpose menjadi masalah yang serius. Bahkan ketidaktahuan terhadap tujuan yang ultimate ini dapat menghancurkan manajemen dan tata kelola. Ini jelas sekali, visi misi yang tidak jelas akan membawa pada praksis yang kacau dan tanpa arah. Padahal, visi misi memberikan tuntunan akan apa yang hendak dikerjakan dan diterjemahkan dalam setiap area, khususnya pedagogi gereja. Dengan demikian, tujuan jangka panjang harus menjadi kunci dalam pengembangan pedagogi gereja.

Pendidikan Kristen harus menolong orang menemukan arti Tuhan dalam kehidupannya. Dengan itu, hidup manusia akan menjadi berarti dalam perspektif Allah.Tim kerja dalam pedagogi gereja harus menolong mempertahankan suatu pelayanan yang berpusat pada Kristus.Apapun yang dikerjakan sebesar apapun atau sekecil apapun akan berarti dalam menolong peserta didik dalam menemukan kebermaknaan hidup/the meaning of life yaitu pemuliaan Tuhan di sepanjang hidup manusia. Inilah inti dari pelayanan gereja dalam segi pendidikan.

Pelayanan pedagogi gereja harus berangkat dari pandangan /keyakinan meneyeluruh tentang hakikat kekristenan. Dengan demikian, hal itu harus berangkat dari filsafat Kristen yaitu bahwa Allah pencipta sebagai sumber dari segala sesuatu di dalam Kristus. Kristus sumber kebenaran, moral, estetika, pengetahuan, dan seluruh dimensi kehidupan.

Gereja harus mendatangkan hadirnya kerajaan Allah bagi dunia. Gereja dengan pelayanan pedagogi harus mendatangkan shalom/damai bagi bumi. Gereja yang tidak menghadirkan anugerah Allah dalam kerendahan hati akan menciptakan kerisauan atau kekacauan di bumi dan bagi komunitas. Di sinilah tantangan pendidikan agama Kristen agar dapat menghadirkan Allah dan kerajaan damainya di bumi.

Menurut Thomas H. Groome, hasil belajar adalah menghasilkan keluaran berupa kebijaksanaan. Pernyataan Groome yang sangat menarik dan foundational adalah bahwa “pendidik harus mempromosikan pengenalan pribadi proses reflektif yang kritis, dialektis dan dialogis dan meningkatkan hubungan yang benar antara yang mengetahui dan yang diketahui. Ini berarti bahwa pengetahuan itu bersifat relasional. Relasi yang baik antara pendidik dan yang dididik akan menghasilkan proses pembelajaran yang terbaik. Tanpa relasi timbal balik antara pihak yang memberikan pengetahuan dan yang diberi pengetahuan,proses pendidikan atau pembelajaran akan kehilangan maknanya. Dengan demikian, pndidikan juga bersifat mentransformasi kehidupan secara menyeluruh baik dimensi pengetahuan, karakter, budi pekerti, emosi, mental, spiritual, dan keterampilan.

Dalam wacana pedagogi gereja,kita diperluas bahwa segi yang diimplementasikan tak sebatas pada kognitif namun pada sikap keprihatinan yang lebih luas. Prinsip inkarnasi Kristus yang berpusat pada kekristenan menuntut suatu pedagogi yang membentuk identitas dan agen bagi dunia.Pedagogi dalam hal ini tidak sekadar mengetahui konsep keadilan atau kasih namun dapat menjadi adil dan menerapkan kasih itu.

Thomas H. Groom dengan demikian tidak mendasarkan pada pengertian ontology yang kaku pada arti kata itu tetapi dalam konteks pedagogi. Keberadaan kita yang eksis ini berhubungan dengan historis dan antropologis. Keberadaan pendidik harus terlibat, ada di dalam, dan mengubahkan bagi dunia. Inilah landasan pedagogi Groome. Dengan itu, tataran epistemologis, ontologis disatukan sebagai landasan filosofis pedagogis gereja.

Tujuan pedagogis gereja adalah menghasilkan kebijaksanaan/wisdom.Inilah yang menjadi simpulan untama Groome. Dengan itu maka aspek shalom bagi dunia pun tercapai melalui peran aktor pendidik sebagai agen-agen transformasi.

Pedagogi dalam area kegerejaan akan mendorong peran gereja di dalam mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan unggul. Kontribusi pedagogi gereja bagi jemaat akan memberikan sumbangsih bagi kemajuan kehidupan jemaat dari segi iman, kultural, sosial, dan kehidupan yang lebih luas. Di samping itu, pedagogi gereja diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi terbentuknya insan yang mencintai dan mengimplementasikan semangat toleransi, hidup dalam perbedaan dan keragaman sehingga aspek kesatuan bangsa pun dapat diwujudkan. Toleransi merupakan salah satu hasil atau tujuan pendidikan yang tertinggi.

(Dr. Maya Malau dan Dr.Yusak Tanasya adalah dosen pada Program Doktoral Sekolah Tinggi Teologi Moriah, Tangerang. Abednego Tri Gumono, M.Pd. adalah dosen pada Universitas Pelita Harapan)