...“Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”…Yoh 14:23
Pelitanusantara.com | “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”…1 Yoh 3:22…“Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.”…Ul 5:9-10
Ketika kita dapat perhatikan Yoh 14:23 terdapat kata “jika” dan kata “dan”. Jika orang mengasihi Yesus, ia akan menuruti firman-Nya, DAN sebagai hasilnya, Bapa akan mengasihi dia dan Bapa beserta dengan Anak-Nya akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Juga dalam 1 Yohanes, dikatakan bahwa apa saja yang kita minta, kita memperolehnya daripada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Juga dalam Ulangan, dikatakan bahwa kasih setia Allah ditunjukkan kepada orang-orang yang mengasihi Dia dan berpegang pada perintah-perintah-Nya. Jadi ada kaitan yang jelas antara kasih dan kebaikan Allah dengan melakukan kehendak-Nya. Dengan kata lain, janganlah kita berpikir bahwa tidak masalah bila kita tidak menaati Allah serta mengabaikan Firman dan perintah-Nya karena toh Allah sangat mengasihi kita. Jangan juga kita berpikir bahwa karena kita mengatakan kita mengasihi Allah, kita benar-benar mengasihi-Nya.
Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Allah atau tidak, terlihat dari jawaban kita atas pertanyaan sederhana ini: Apakah kita melakukan Firman-Nya, atau perintah-Nya, atau apa yang menyenangkan hati-Nya? Jika jawabannya ya, maka kita memang mengasihi Allah. Jika jawabannya tidak, maka kita tidak mengasihi Allah. Sesederhana itu. Perhattikan Kasus dua Orang Saudara, ada area yang membingungkan lainnya yang berkenaan dengan melakukan kehendak Allah adalah gagasan bahwa kita perlu melakukan kehendak Allah hanya apabila kita merasa ingin melakukannya. Tetapi jika kita merasa tidak ingin, kita boleh untuk tidak melakukannya karena Allah tentu tidak ingin kita melakukan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan. Tetapi apakah kita pergi bekerja selalu dikarenakan kita merasa ingin melakukannya? Apakah kita bangun di pagi hari dan berpikir apakah kita merasa ingin pergi bekerja atau tidak, dan tergantung pada perasaan kita apakah mau bangun atau mau tidur lebih lama? Apakah seperti itu? rasanya tidak. kita tetap MELAKUKAN pekerjaan kita apa pun perasaan kita tentang hal itu! Sayangnya dalam hal melakukan kehendak Allah, kita terlalu banyak menekankan pada perasaan kita.
Tentu saja, Allah ingin agar kita melakukan kehendak-Nya SAMBIL kita pun merasa ingin melakukannya, tetapi bahkan jika kita merasa tidak ingin melakukannya, jauh lebih baik untuk kita tetap melakukannya daripada tidak melakukannya sama sekali! Sebuah contoh dari ucapan Tuhan Yesus: “Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu….” Matius 18:9… Dia tidak berkata, “Jika matamu menyesatkan engkau, dan engkau merasa ingin mencungkilnya, maka lakukanlah itu. Tetapi jika engkau merasa tidak ingin melakukannya, ya tidak apa-apa. Engkau boleh membiarkan mata itu tetap di tempatnya dan terus menyesatkan engkau.” Mata yang busuk itu harus dicungkil, entahkan kita merasa ingin melakukannya atau tidak! Demikian halnya dengan kehendak Allah: yang terbaik adalah melakukannya dan merasa ingin untuk melakukannya, namun jika kita merasa tidak ingin melakukannya, tetaplah melakukannya, daripada kita tidak menaati-Nya!..Tuhan Yesus memberkati.(Pelitanusantara.com)
