Pelitanusantara.com Adipati Warga Utama I, yang memiliki nama asli Raden Warga dan juga dikenal sebagai Adipati Paguwan, adalah keturunan bangsawan Majapahit yang memerintah Kabupaten Wirasaba sekitar tahun 1568-1582. Wilayahnya meliputi Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap.
Cerita tentang Adipati Warga Utama I ini berdasarkan pada beberapa sumber sejarah dan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Sumber-sumber tersebut antara lain Babad Banyumas, tradisi lisan, dan catatan sejarah.
Kisah Adipati Warga Utama I
Pada suatu ketika, Sultan Hadiwijaya memerintahkan kepada seluruh Adipati di wilayah kekuasaannya untuk menyerahkan seorang puteri untuk dijadikan pelara-lara (sebagai selir atau penari kerajaan). Sebagai tanda kesetiaan, Adipati Warga Utama I dengan tulus hati mempersembahkan puterinya sendiri, Raden Rara Sukartiyah, yang sebelumnya pernah menjadi isteri Bagus Sukra, anak Ki Demang Toyareka, namun masih suci hingga saat itu.
Pada hari Sabtu Pahing, mereka berangkat ke Kerajaan Pajang. Setelah menyerahkan puterinya, Adipati Wirasaba kembali pulang ke Wirasaba. Kemudian, Anak Demang Toyareka menyusul ke Pajang, mengaku sebagai suaminya. Padahal permintaan Sultan Hadiwijaya adalah yang masih gadis.
Karena putri dari Adipati Warga Utama I sudah menikah, Sultan Hadiwijaya marah. Sang raja merasa direndahkan. Merasa dihina oleh adipati bawahan. Diberi persembahan perempuan yang bukan perawan.
Sultan Hadiwijaya memerintahkan tiga orang prajurit mengejar Adipati Warga Utama I yang sudah pulang, para prajurit diperintahkan langsung membunuhnya.
Adipati Warga Utama I, dalam perjalanan pulang sampai di Desa Bener (sekarang masuk Wilayah Purworejo) dan singgah di rumah Ki Ageng Bener. Di sana, beliau disambut dengan baik dan dijamu suguhan pindang banyak (hidangan berupa angsa).
Selagi Adipati beserta para pengiringnya menikmati jamuan makan siang, tiba-tiba datanglah utusan Sultan Hadiwijaya yang mengemban tugas untuk membunuh Adipati. Namun, mereka tidak langsung menjatuhkan hukuman karena yang bersangkutan sedang makan. Mereka mempersilahkan Adipati Warga Utama menyelesaikan makan lebih dulu.
Belum selesai makan, ternyata datang rombongan utusan kedua. Melihat utusan pertama sudah berdiri di depan adipati, mereka utusan kedua melambaikan tangannya kepada utusan pertama. Lambaian tangan tersebut sebagai tanda bahwa Sultan Hadiwijaya telah membatalkan keputusannya. Mereka merintahkan agar utusan pertama jangan membunuh Adipati Warga Utama I.
Begitu melihat lambaian tangan itu, utusan pertama justru langsung mencabut kerisnya, kemudian menghujamkan ke dada Adipati Warga Utama.
Sebelum ajalnya tiba, Adipati Wirasaba memberikan pesan-pesan penting kepada orang-orang di wilayah kadipaten Wirasaba, yang turun-temurun dipegang hingga sekarang. Pesan-pesan tersebut adalah:
- Aja lelungan ing dina setu pahing (Jangan bepergian di hari Sabtu Pahing).
- Aja ngingu djaran wulu dhawuk abrit (Jangan memelihara kuda berwarna abu-abu merah).
- Aja mangan pindang banyak (Jangan makan daging angsa).
- Aja manggon ing bale malang (Jangan berdiam di balai melintang).
Adipati Warga Utama I digantikan oleh anak menantunya, Raden Jaka Kaiman yang bergelar Adipati Warga Utama II atau Adipati Mrapat. Jaka Kaiman adalah keturunan Majapahit dan Pajajaran. Karena kemurahan hatinya, Adipati Warga Utama II membagi wilayahnya menjadi empat bagian dan dibagi dengan seluruh saudara iparnya, anak-anak Adipati Warga Utama I.
Jenazah Adipati Warga Utama I dimakamkan di Pekiringan, Desa Klampok, Kecamatan Purwareja, Banjarnegara. Setelah kematian Adipati Warga Utama I, beliau digantikan oleh anak menantunya, Raden Jaka Kaiman yang menjadi bupati [÷]
