Semarang, Pelitanusantara.com – Sebuah simposium yang membahas pelayanan penanaman jemaat akan digelar oleh Ikatan Alumni STTII Yogyakarta Wilayah Semarang Raya di GBT Ngesrep, 12-13 Juni 2025 mendatang. Simposium yang diharapkan dihadiri oleh berbagai perwakilan Ikatan Alumni STTII yang tersebar di berbagai wilayah nusantara ini akan membagikan pengalaman-pengalaman dan strategi untuk tetap menghidupi visi yang pernah dikerjakan saat menjadi mahasiswa STTII.
Pdt. Samuel Basri H (65) yang menyelesaikan program S1 di tahun 1985 di STTII Yogyakarta mengatakan bahwa simposium yang membahas visi didirikannya STTII ini penting untuk dihadiri dan alumni perlu berpartisipasi dalam pemikiran.
“STTII Yogyakarta terjadi dan ada oleh Tuhan yang menggerakkan hati seorang Chris Marantika dan visi misi dibagikan sehingga orang menjadi percaya. Saat itu, terjadilah suatu movement yang melanda desa-desa di Jawa dan pulau-pulau di Indonesia terbangun gereja dan pemimpinnya,” demikian kenang Samuel Basri saat masih menjadi mahasiswa S1 dan terlibat dalam penanaman jemaat.
Menganalogikan dengan perjalanan umat Israel di padang gurun, Samuel basri melanjutkan,”Usia pergerakan itu telah melewati usia sekitar 45 tahun, ketika di padang gurun 40 tahun orang Israel dan Musa mati, tanah perjanjian belum diduduki. Kepemimpinan Yosua dan Kaleb perlu dibangkitkan untuk memimpin generasi yang lahir di padang gurun dan yang tidak pernah alami pergerakan di Mesir.”
“Simposium akan merefresh ulang memikirkan pemimpin yang membawa generasi mencapai visi misi awal Tanah Perjanjian. Simposium ini penting untuk tetap mempertahankan, mengaktualkan movement supaya tidak jadi monumen,” ujar Samuel Basri yang menggembalakan Jemaat JKI Injil Kerajaan Satelit Citarum dan mendirikan sebuah sekolah TK, SD di daerah Citarum, Semarang Timur serta tengah mempersiapkan ujian disertasi program doktornya di STTII Yogyakarta ini.
Belajar dari Generasi Pertama
Menurut Pdt. Agus Santoso, S.Th (64), salah seorang anggota panitia mengatakan bahwa penyelenggaraan simposium ini untuk menggali pengalaman-pengalaman alumni generasi pertama dalam penanaman jemaat. Oleh karenanya dalam simposium yang bertemakan “Sinergi Wujudkan Visi” akan dihadirkan alumni yang memiliki pengalaman dalam pelayanan penanaman jemaat dan saat sekarang ini masih melakukannya. Agus Santoso yang saat ini menjadi seorang gembala jemaat di Gereja Isa Almasih (GIA) jalan dr. Cipto Semarang ini berharap, hasil simposium itu nanti dapat menjadi sebuah motivasi bagi STTII yang tidak saja berada di Yogyakarta tetapi sudah tersebar di berbagai wilayah di nusantara untuk konsisten dengan usaha penanaman jemaat, karena berdasar visi seperti itulah STTII, awalnya ETSI (Evengelical Theology Seminary Indonesia) kemudian menjadi STII (Seminari Theologia Injili) berdiri.
“Generasi pertama sebagai buah sulung telah berhasil mewujudkan visi tersebut. Saat ini sebagian besar telah menggembalakan jemaat rintisannya dengan tekun dan setia. Kini giliran generasi kedua STTII yang akan melanjutkan visi tersebut. Ternyata ada berbagai macam pandangan tentang apa itu visi satu satu satu dan bagaimana mewujudkannya. Hasilnya terkesan melambat berbeda dengan generasi ke satu,” demikian ujar Agus Santoso alumni angkatan 1982 dan lulus S1 1986, saat mengamati perkembangan almamaternya sekarang ini.
“Jangan sampai saat giliran generasi ketiga visi penanaman jemaat itu hanya tinggal kenangan masa lalu. Mumpung para tokoh pendiri dan pelaku visi satu satu satu generasi pertama masih ada dan tetap setia melayani sampai saat ini dan menghidupi visi tersebut,” tambah Agus Santoso menjelaskan urgensi diadakannya simposium itu.
Agus Santoso kemudian menyebut tokoh pendiri yang akan menyampaikan materi dalam simposium, yakni Pdt. Dr. Petrus Maryono dan Pdt. Dr. Sutoyo L. Sigar, keduanya saat ini tinggal di Yogyakarta. Sebagaimana yang tertulis dalam buku “I Cannot Dream Less” karya Ray Wiseman bahwa pencetus dan pendiri STTII adalah Pdt. Dr. Chris Marantika almarhum. Pdt. Dr. Petrus Maryono dan Pdt. Dr. Sutoyo L. Sigar adalah mahasiswa Pdt. Dr. Chris Marantika saat mengajar di Seminari Theologia Baptis Indonesia di Semarang. Atas rekomendasi Chris Marantika Petrus Maryono direkomendasi kuliah program doktor di Dallas Theological Seminary Texas USA dan Sutoyo L. Sigar direkomendasi kuliah program doktor di Talbot Seminary California USA. Setelah keduanya lulus, maka mengajarlah di STTII Yogyakarta mewujudkan visi Chris Marantika dalam mewujudkan visi penanaman jemaat. Di lingkungan STTII visi itu dikenal dengan Visi 1.1.1 Indonesia bagi Kristus.
Menjadikan Perintis sebagai Model
Mewujudkan visi penanaman jemaat di desa-desa bukanlah hal yang mudah. Chris Marantika pada awal pendirian STTII merekrut buah dari pelayanannya yang telah menjadi para pelayan gereja untuk terlibat dalam visi tersebut dengan menjadi perintis yang akan menjadi model bagi para mahasiswa.
Dalam buku “I Cannot Dream Less” karya Ray Wiseman dijelaskan proses adanya para perintis tersebut.
“Gerakan penanaman jemaat atau church planting adalah sebuah program yang dilakukan oleh para mahasiswa STII sejak awal kuliah hingga semester akhir. Mungkin istilah kurikulum yang terbaru adalah PKL atau Praktek Kerja lapangan. Kegiatan ini dilakukan oleh mahasiswa pada waktu weekend atau akhir Minggu. Kegiatan church planting ini menjadi syarat kelulusan mahasiswa STII.”
Ternyata konsep awal dilakukannya church planting ini pergumulannya sebagai berikut:
“Agar konsep siswa-perintis gereja dapat berhasil, Chris perlu menampilkan prinsip-prinsip tersebut dalam tindakan. Beliau tidak akan meminta mahasiswa untuk mendirikan gereja berdasarkan ide atau mimpi, beliau menginginkan sebuah ‘demonstrasi” – sebuah model kerja yang dapat mereka lihat dan tiru. Dia akan membutuhkan model tersebut dan bekerja sebelum siswa tiba.”
“Chris menulis surat kepada beberapa orang yang menjadi Kristen di bawah pelayanannya. Banyak di antara mereka yang bekerja sebagai pendeta di gereja-gereja kecil yang tidak mampu mendukung mereka, sebuah faktor yang sangat membatasi kemampuan mereka untuk melayani secara efektif. Ada pula yang tidak mempunyai pelayanan sama sekali. Pesan Chris sederhana; dia berkata: “Saya kembali. Saya ingin memulai program perintisan gereja.” Sepuluh orang akhirnya menjawab panggilan tersebut.”
“Chris berkata, “Jika kalian masing-masing mau mendirikan satu gereja per tahun, saya akan mendapatkan sponsor untuk kalian. Anda harus memenangkan 30 orang percaya baru di setiap desa baru setiap tahunnya. Anda akan mendaftar sebagai siswa paruh waktu STII, tetapi Anda tidak akan memberikan apa pun kepada sekolah. Anda akan mencontohkan konsep penanaman jemaat di hadapan seluruh siswa.” “
Dimulainya Dukungan
Tahun 1979 sekolah theologia yang direncanakan dimulai. Ray Wiseman dalam bukunya “I Cannot Dream Less”
kembali menulis:
“Ketika para perintis gereja mendirikan pelayanan baru mereka, lamaran mahasiswa pun berdatangan. Dari 100 orang yang mendaftar, Chris menerima 71 orang.”
“Sekitar bulan Juni dia mulai khawatir. Dia tidak punya ruang kelas; maksimal 30 orang bisa duduk di lantai di ruang tamunya. Pada saat itu, Partners International telah mulai memberikan dukungan rutin dan dengan cermat memantau kemajuan sekolah yang masih baru ini. Mereka juga menyimpan cerita yang sedang berlangsung di hadapan umat Kristen di Amerika Serikat dan Kanada.”
“Pada awal Juli, hanya satu bulan sebelum sekolah dimulai, seorang wanita dari Carolina Utara menelepon Allen Finley di Partners International, menanyakan tentang Chris. Finley menjelaskan kesulitan Chris; dia siap untuk memulai tetapi tidak memiliki kampus. Wanita itu segera menyumbangkan $10.000 dari harta warisan ibunya.”
“Chris benar-benar melompat-lompat kegirangan saat menerima teleks. Dengan hanya empat minggu tersisa sebelum siswanya tiba, dia menyewa sebuah rumah besar untuk asrama selama empat tahun. Saria dan Chris berlomba-lomba dalam persiapan, perencanaan, pembelian, dan pemasangan peralatan, tempat tidur, kasur – semuanya.”
“Dengan setiap surat kepada para pendukungnya, Chris mengungkapkan aspek baru dari rencana induknya:
Dua asrama telah disewa untuk mempraktikkan konsep “asrama desentralisasi” atau “asrama tersebar” di kota.”
[÷]
