Saat Nafsu Merasuk dalam Ketaatan

Kefaspelita
1743322531

Pelitanusantara.com Di akhir Ramadan, saya sengaja angkat tema ini. Sekian banyak orang yang melaksanakan ibadah dan amal kebaikan di bulan suci ini karena motivasi pahala berlipat. Apakah salah? Jelas tidak, karena memang telah dijanjikan Al-Qur’an dan hadis Nabi saw.

Hal yang perlu digali dan ditelusuri hingga sampai hati terdalam adalah adakah unsur hawa nafsu yang merasuk dalam ketaatan kita selama ini? Apakah pada saat kita salat, bersedekah, berumrah, maupun amal ibadah lainnya ada motivasi duniawi yang sangat tipis?

Ada beberapa ungkapan saran yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, seperti: menjadilah manusia yang humble, jangan “sok suci”! Bersikaplah hati-hati untuk tidak mudah menilai orang lain. Seringlah evaluasi diri sendiri, sebelum menghukumi orang lain. Introspeksilah dirimu, jangan pernah menjadi polisi akhlak dan keyakinan orang lain. Itulah contoh-contoh pesan moral kepada kita agar kita bisa menjadi pribadi yang “waspodo” (waspada).

Kriteria menjadi “pribadi waspodo” adalah ketika kita memiliki kendali melalui mata batin. Bukan hanya terhadap sesuatu yang nampak, tetapi mampu membaca terhadap hal-hal tersembunyi. Ibnu Athaillah As-Sakandary dalam kitabnya, Al-Hikam, menuturkan, andilnya hawa nafsu dalam maksiat, seperti zina itu sangat dan amat jelas, yaitu bagaimana pelakunya menikmati kemaksiatan tersebut. Nafsu pasti mengarahkan pelaku maksiat hingga ia akan mengalami bencana dan hukuman.

Sementara itu, peran hawa nafsu dalam ketaatan itu sangatlah samar dan tersembunyi. Ia tak bisa dilihat, kecuali oleh para pemilik mata batin. Kenapa? Karena ketaatan merupakan sesuatu yang amat berat bagi hawa nafsu. Jika hawa nafsu menyuruh kita melakukan ketaatan, kita tidak akan pernah mengetahui perannya di dalamnya, kecuali setelah diteliti dan diamati dengan seksama. Dibutuhkan perenungan mendalam.

Secara kasat mata, ada dorongan seakan-akan niat itu berperan menggiring kita untuk dekat dengan Allah. Namun di balik itu, sebenarnya ada hawa nafsu yang ingin membuat kita berharap pada penghargaan manusia dan membanggakan kesalehan kita di hadapan orang banyak. Karenanya, sesiapa yang menilai diri sendiri, mengevaluasi, dan memerhatikan suara hatinya, akan tampak baginya kebenaran menghilangkan pengaruh nafsunya.

Untuk mengobati sesuatu yang tersembunyi, amatlah susah karena dibutuhkan kedalaman ketelitian, pemahaman, dan pengetahuan. Para pemilik mata batin, menurut Ibnu Athaillah, mencela diri mereka sendiri jika ada dorongan samar yang cenderung kepada salah satu ibadah. Kemudian, mereka meneliti sebab mengapa mereka cenderung kepada ibadah itu. Jika itu dikarenakan peran nafsunya, mereka akan meninggalkannya atau mengobati nafsu mereka saat melakukannya agar benar-benar tulus dan ikhlas karena Allah.

Ada satu contoh mudah yang bisa diungkap. Seseorang yang sangat “bernafsu” ingin pergi berperang di jalan Allah. Namun kemudian, setelah ditelitinya melalui mata batin, ternyata ada dorongan nafsu yang sangat lembut agar keiikusertaannya agar dianggap oleh orang lain sebagai pemberani dan tidak pengecut. Meskipun tidak nampak secara langsung, di dalam hatinya ada ruang ingin dipuji oleh orang lain.

Dalam konteks yang lebih faktual, saat kita rajin datang ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah, masih ada niat yang terbersit bahwa dirinya adalah sosok yang sholeh di lingkungan tempat tinggalnya. Meskipun tidak pernah diungkapkan secara lisan, tetapi ada sisa relung batinnya merasa banggsa dan senang jika dipuji orang lain sebagai orang yang sholeh dan rajin beribadah. Bukankah ketaatan kita kepada Allah harus bebas berharap terhadap pujian dari makhluk?

Terkadang juga, seseorang memiliki semangat dan merasa nikmat pada satu macam ibadah yang tidak didapatnya pada jenis ibadah lain. Hal itu tak lain karena keuntungan nafsu di dalam ibadah itu lebih besar daripada dalam ibadah lainnya. Jika orang itu memiliki mata batin, ia akan beralih dari kecenderungan nafsunya kepada hal lain. Jika nafsu mengalahkannya, dalam kesibukannya beribadah itu, nafsu tidak memiliki andil apapun, kecuali untuk keuntungannya sendiri.

Oleh sebab itu, di akhir Ramadan ini, saatnya kita introspeksi diri, adakah ruang-ruang batin kita saat menjalankan ibadah dan kebaikan lainnya masih berharap pujian dari sesama. Setidaknya muncul kepuasan psikologis yang semuanya terasa tidak 100% karena Allah berdasarkan sinyal mata batin. Memang tidak mudah, tetapi pembiasaan rasa akan mampu membacanya denga jernih.

Semoga kita mampu menjadi hamba Allah yang tetap “waspodo”. Wallahu a’lam.

Thobib Al-Asyhar (Dosen Psikologi Islam SKSG Universitas Indonesia, Direktur GTK Madrasah, Kemenag RI)