Menggambarkan perebutan tahta di dalam dinasti (wangsa) Barata yang berakhir dalam perang saudara di Kurusetra.
Perang saudara ini diawali dengan perjudian yang membuat keluarga Pandawa harus rela kehilangan istana, bahkan istri Yudhistira, sulung Pandawa, yaitu Dewi Drupadi harus menanggung aib juga, dipermalukan oleh Burisrawa.
Diusir dari istana oleh Kurawa, Pandawa hidup menyamar di negara Wirata. Sebab jika ketahuan keberadaan mereka, hukuman buang ditambah lebih lama lagi. Setelah selesai masa pembuangan, Pandawa menuntut kembali tahta mereka.
Tentu saja, Kurawa tidak mau memberikannya begitu saja. Karena sama-sama saling bersikeras, akhirnya perang pun tak terelakkan. Perang saudara antara Kurawa dan Pandawa yang berasal dari leluhur yang sama yaitu Bhisma, akhirnya tumpah.
Pandawa dibantu oleh Kresna sebagai penasehat perang, sedangkan Kurawa dibantu oleh Durna yang merupakan guru ilmu perang dari mereka semua, baik Kurawa maupun Pandawa.
Salah satu tokoh yang membela mati-matian tindakan para Kurawa adalah Karna. Ia sebenarnya anak dari Kunti, ibu para Pandawa, yang dilahirkan karena Kunti merapal mantra untuk mendatangkan Dewa Surya, Dewa Matahari.
Diberkati oleh Dewa Surya, Kunti hamil. Padahal dia belum bersuami. Untuk menjaga kesuciannya, bayinya dilahirkan melalui telinga. Sebab itulah bayi dinamakan Karna.
Karna kemudian dilarung ke Sungai Gangga. Dari sana, ia diambil dan diangkat anak oleh pasangan Radha dan Adhiratha Nandana, seorang sais kereta istana. Karena kepandaiannya dan kesetiaannya, Karna mendapat tempat di hati Duryudana, sulung Kurawa. Bahkan ia menemani Duryudana saat menjalankan upacara Waisnawayaga, upacara pengangkatan dirinya sebagai raja di Indraprasta.
Upacara itu adalah satu-satunya jenis upacara yang bisa dilakukan oleh Duryudana untuk mengangkat dirinya sebagai raja, mengingat Yudhistira lebih dahulu melakukan upacara Rajasuya ketika dinobatkan sebagai raja Indraprasta. Duryudana tidak bisa melakukan upacara Rajasuya karena Yudhistira masih hidup meskipun ia terusir dari istananya.
Waisnawayaga adalah upacara yang dilakukan oleh raja dengan berkeliling wilayah kerajaannya dan memberikan sejumlah besar sumbangan kepada para resi dan orang-orang miskin. Dan karena Karna bisa diandalkan untuk melindungi dirinya selama berkeliling ke seluruh wilayah kerajaan, Duryudana percaya.
Dalam sebuah sayembara, Karna berhasil mengimbangi permainan panah Arjuna. Namun sebelumnya, supaya bisa ikut dalam sayembara tersebut, Karna dianugerahi jabatan sebagai raja di kerajaan kecil, Anga, oleh Duryudana. Dan oleh sebab itu, Karna bersumpah setia terhadap Duryudana dan Kurawa.
Akhirnya, Karna mengetahui bahwa ibu yang dianggap telah menelantarkannya adalah Kunti, ibu dari para Pandawa. Namun sebagai seorang satria, pantang ia membatalkan kesetiaannya. Meski ia paham benar bahwa Kunti membuangnya karena kedudukannya sebagai seorang putri raja yang belum bersuami yang mustahil akan memelihara bayi dari Dewa Surya itu.
Dalam perang Baratayuda, Karna berhasil membunuh Gatotkaca, putera Bima, yang sakti luar biasa dengan panah Wasawisakti, atau Konta. Ia pun turut andil dalam pengeroyokan terhadap Abimanyu, putra Arjuna, sampai mati. Bahkan, pada hari keenam belas, Karna sudah bisa menaklukkan Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa.
Karna tidak membunuh mereka, adik-adiknya, karena sudah berjanji kepada Kunti, tidak akan pernah membunuh saudara kandungnya sendiri. Hal ini diucapkan karena ia tidak bisa menerima permintaan Kunti untuk bergabung bersama saudara-saudara kandungnya untuk merebut kembali tahta mereka.
Tinggal Arjuna yang belum dikalahkan oleh Karna. Raja Salya, yang menjadi kusir Karna membantu Arjuna dari panah yang dilepaskan oleh Karna. Sementara itu, Arjuna, sebenarnya tidak pernah tega untuk membunuh kakak sulungnya itu.
Pada peperangan hari ketujuhbelas, kereta kuda yang dinaiki Karna terperosok rodanya. Karna pun turun untuk mengangkat roda kereta itu. Ia meminta Arjuna menghentikan sementara pertarungan mereka. Saat itulah, Kresna mengatakan kepada Arjuna bahwa Karna telah berlaku curang hingga mengakibatkan kematian Abimanyu, anaknya.
Etika perang yang tertanam sejak dini dalam diri Arjuna, bahwa tidak boleh membunuh lawan yang turun dari kereta perangnya pun, akhirnya dia abaikan. Panah Pasupati milik Arjuna melesat dan memenggal kepala Karna.
Tokoh Karna, meski memihak pada Kurawa, dianggap sebagai tokoh yang memiliki kesetiaan yang tinggi. Memegang teguh janji-janjinya, serta menaruh hormat kepada orang-orang tua. Sebagai satria, ia juga bersikap adil. Ia bahkan mau memaafkan ibu yang telah membuang dirinya sewaktu bayi.
[÷]
