[Elia] tiba dan duduk di bawah sebuah pohon arar. Ia memohon supaya ia mati, katanya, “Cukuplah sudah! .…”
1 Raja-raja 19:4
Elia mempermalukan Raja Ahab dan Ratu Izebel. Takut nyawanya terancam setelah Izebel bersumpah membalas dendam, Elia melarikan diri. Dalam lelahnya, ia berdoa “Cukuplah sudah, Tuhan!”
Aku dapat membayangkan kelegaan yang membuncah dalam hatinya ketika ia tiba di gunung Allah setelah perjalanannya yang panjang dan melelahkan. Namun, sebelum ia sempat beristirahat, Allah bertanya, “Mengapa engkau ada di sini?”
Pada satu sisi, pertanyaan itu mengisyaratkan bahwa Elia seharusnya berada di tempat lain, menyelesaikan misi Allah. Di lain sisi, pertanyaan itu mendorongnya merenungkan motivasi hatinya.
Seperti Elia, terkadang aku juga ingin berteriak, “Cukuplah sudah!” saat menghadapi tantangan dalam pelayanan. Kritik tidak membangun terhadap cara mengajar di Sekolah Minggu atau memandu musik. Pelayanan kepada kaum remaja yang diusik. Sukarelawan yang tidak berkomitmen.
Pada momen-momen itu, aku pun harus menjawab pertanyaan Allah, “Mengapa engkau ada di sini?” Aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa aku melakukan apa yang aku lakukan?
Melalui evaluasi motivasi pelayanan kita dan menyelaraskannya dengan kehendak Allah, kita dapat menemukan semangat baru dalam pelayanan kita kepada Allah dan sesama.
Pokok Pikiran:
Apa motivasiku melayani Allah?
Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami menyelaraskan motivasi kami dengan kehendak-Mu agar kami dapat diperbarui dan dikuatkan saat kami bekerja bersama Engkau. Amin.
Doa Syafaat: Para pelayan Tuhan yang sangat kelelahan.
Penulis: Megan L. Anderson (Indiana, Amerika Serikat)
Sumber : Saat Teduh
