Pelitanusantara.com Paulus Tosari menjadi tokoh gerakan keagamaan Kristen Jawa yang mengabarkan Injil dengan tembang dan wayang.
Paulus Tosari memiliki nama asli Kasan. Penambahan nama ‘Jaryo’ diberikan setelah 15 tahun khitan sebagai bentuk tradisi yang berkembang pada saat itu. Ia lahir di Kedungturi, Surabaya, pada tahun 1812.
“Kasan Jaryo itu lahir dari orang tua Madura yang sudah di Surabaya. Ibunya taat sekali. Bapaknya cukup hedonis. Dia menikmati kehidupan mewah di masanya.
Bagi Kasan muda, uang dipegang, cari hiburan buat hati senang adalah kegiatan sehari-hari. Status anak muda yang lahir di Desa Kedungturi, Surabaya pada 1813 adalah suami dengan pekerjaan sebagai pedagang. Tapi, lebih banyak waktu yang dia buang untuk berjudi ketimbang mengurus usaha dagang dan bersama istri di rumah.
Habis waktu untuk berjudi. Habis pula uang yang seharusnya dia gunakan untuk menghidupi keluarganya. Berakhir pula perkawinan yang baru berumur dua bulan. Kedoyanan akan judi jadi penyebab Kasan yang mendapat nama tambahan Jariyo setelah dikhitan, memasuki derita dalam hidupnya.
Kasan sadar, Tuhan tengah menjatuhkan hukuman. Agaknya, ilmu mengenai agama sudah pernah dia terima semasa kecil. Kedua orang tua yang berasal dari Pulau Madura, pernah menyekolahkan Kasan di pesantren pilihan. Mereka berharap, Kasan menjadi pribadi yang paham dan mau menjalani ajaran agama Islam.
Tapi, dia memilih untuk berhenti belajar di pesantren. Kegemaran berjudi dan menyaksikan pertunjukan wayang begitu menarik perhatian Kasan, jadi sebab dia meninggalkan pesantren.
Dia merasa terpuruk dan mulai mencari jalan spiritual untuk keluar dari kegelapan dalam hidupnya. Harap itu menuai jalan. Satu hari dia mendengar kabar ajaran tentang pengampunan dosa. Hati Kasan terbetot untuk mengejar orang mengajar akan hal itu. Tak perlu berpikir panjang lagi, dia berangkat dari Surabaya ke Ngoro (di wilayah Mojokerto) pada 1840. Jarak kedua tempat itu dipisahkan 60 kilometer. Tujuannya adalah berguru pada Coenrad Laurens Coolen.
Di wilayah Ngoro itu Coolen mendirikan sebuah desa yang berjalan dengan nilai-nilai kekristenan. Tapi, penduduk yang beragama Islam tak dia larang mendirikan masjid.
Di desa ini pula Kasan mulai mengenal tentang Yesus. Kasan takjub pada “Kotbah di Atas Bukit” yang tertulis dalam Injil. Perkataan Yesus dalam Matius 5:3 yang menyebutkan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” menjadi pegangan hidupnya.
Setelah berguru pada Coolen inilah nama Kasan berubah menjadi Tosari, yang berasal dari kata ‘tusara’ berarti embun. Dia merasa bagaikan menerima embun di padang gurun yang kering kerontang.

Saat menjadi pengikut Coolen ini, Tosari melihat bagaimana gurunya itu gemar melantunkan tembang yang diterima oleh masyarakat di desa tersebut. Jan S Aritonang dalam bukunya berjudul Sejarah perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia menyebut bahwa Tosari ikut menyenandungkan tembang bernuansa dzikir yang dibuat oleh Coolen, yang lahir dari ayah Belanda dan ibu dari keraton Solo.
Nyanyian itu disenandungkan Tosari selama bertahun-tahun bersama keluarganya setiap pagi dan malam. Disebutkan bahwa hal tersebut memberi kepuasan tertentu pada Tosari yang pernah menjalani kehidupan sebagai santri.
Sebagai murid Coolen, Tosari telah meninggalkan kebiasaan lama dan memulai hidup baru. Dia mendapat kepercayaan memimpin kumpulan-kumpulan pada hari Kamis dan Minggu. Kegiatan Hal tersebut terungkap dalam tulisan Th van den End dalam bukunya yang berjudul Ragi Carita 1: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860. Di sinilah Tosari mulai menjalani kehidupan awalnya sebagai orang Kristen, namun masih tetap mengadopsi nilai-nilai Jawa. Karena memang di desa Ngoro, Coolen tidak antipati terhadap nilai-nilai budaya Jawa, bahkan termasuk nilai-nilai Islam yang menebar di tempat itu.
Diusir Sang Guru
Th van den End juga mengungkapkan dalam bukunya bahwa Selain Desa Ngoro, ada sebuah desa bernama Wiung, yang letaknya tidak jauh dari Surabaya. Di desa tersebut terdapat suatu kelompok orang yang taat beragama. Informasi mengenai keberadaan desa dan orang-orang Kristen di dalamnya sampai kepada masyarakat Desa Ngoro, termasuk Tosari.
Orang-orang Desa Ngoro mengetahui bahwa masyarakat Desa Wiung menerima pembaptisan, yang tidak diwajibkan dalam ajaran Coolen. Masyarakat Desa Wiung dibaptis di Surabaya oleh Johannes Emde (1774-1859) yang merupakan seorang penginjil dari Jerman.
Sejumlah masyarakat Desa Ngoro pun merasa kurang lengkap jika dirinya tidak dibaptis seperti orang-orang dari Desa Wiung. Hal inilah yang kemudian mendorong beberapa orang masyarakat dari Desa Ngoro, termasuk Tosari mendatangi Emde ke Surabaya untuk menerima pembaptisan. Tosari dibaptis oleh Johannes Emde pada 12 September 1844 dengan nama baptis Paulus. Sejak itulah namanya menjadi Paulus Emde.
Menurut Th van den End, memang ada perbedaan pemahaman antara Coolen dengan Emde. Bagi Emde, mereka yang telah dibaptis dan menerima kekristenan juga harus menerima adat-kebiasaan Eropa.
Mereka diharuskan memotong rambut, menggantikan sarungnya dengan celana, melepaskan keris-kerisnya. Tak boleh lagi menonton wayang, mendengarkan gamelan, menyelenggarakan selamatan, dan sebagainya. Bagi Emde hal-hal itu dipandang sebagai kekafiran. Sedangkan Coolen mengabarkan Injil dengan memberi wujud kehidupan Jawa.
Perbedaan antara keduanya sedikit banyak memberi dampak terhadap sikap Coolen ketika mengetahui murid-muridnya dari Desa Ngoro menerima baptisan serta adat orang Eropa. Akhirnya mereka diusirnya dari Ngoro, dan dalam kawasan hutan yang angker, mereka mendirikan sebuah desa yang diberi nama Mojowarno (1844).
Di Desa Mojowarno ini kemudia Tosari menjadi guru jemaat mereka. Selama beberapa tahun, jemaat ini berjalan dengan pimpinan yang hanya terdiri dari orang-orang Jawa saja. Tetapi dalam tata-kebaktian dan dalam hal-hal lain mereka ini memakai bentuk-bentuk dari Eropa.
Saat Tosari mulai menjalankan kehidupan di Mojowarno, di tempat terpisah Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) atau Serikat Misonaris Negeri Belanda mendapat izin dari pemerintah Hindia Belanda untuk memulai pekerjaan di Pulau Jawa. Diutuslah Jellesma (1817-1858) yang awalnya menetap di Surabaya. Belakangan Jellesma pindah ke Mojowarno, tepatnya pada 1851.
Di sana dia bertemu dengan Paulus Tosari dan ikut dalam pekerjaan misi mengabarkan Injil. Meski Jellesma dikirim oleh lembaga misi dari Belanda, dia tidak mengambil-alih pimpinan dalam jemaat Mojowarno. Tosari tetap menjadi pemimpin di sana.
Jellesma yakin bahwa kegiatan jemaat dan penyiaran Injil harus diselenggarakan oleh orang-orang Jawa, dengan cara yang sesuai dengan lingkungan Jawa. Dalam hal ini ia mengambil garis-tengah antara Emde dan Coolen.
Kerjasama antara Tosari dan Jellesma berlangsung dalam suasana baik dan memberi hasil yang baik. Selama Jellesma di Jawa, ia membaptis dua ribu orang lebih. Jellesma juga menyelenggarakan sekolah rakyat, dan di samping itu mendidik sejumlah pemuda menjadi guru sekolah merangkap guru jemaat. Paulus Tosari mengambil peran sebagai pemberita Injil dan Jellesma mendirikan pendidikan kader pemimpin-pemimpin jemaat.
Cikal Bakal Gereja di Jombang
Hingga saat ini berdiri sebuah gereja di Desa Mojowarno, Jombang, yakni Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno. Melalui prasasti yang ada di sini diketahui bahwa gereja tersebut didirikan berdasarkan gagasan Paulus Tosari.
Abdul Rasjid dalam Cahaya Itu Terbit dari Mojowarno menceritakan bahwa gagasan tersebut dilontarkan Tosari, pada 1871. Kala itu, menurut Tosari, gedung gereja yang ada saat itu sudah tak lagi memadai lantaran semakin banyaknya jumlah jemaat.
Namun saat itu yang menjadi penanggung jawab adalah Karolus Wiryoguno yang juga sejak awal merupakan murid Coolen dan bersama-sama dengan Tosari berpindah dari Ngoro ke Mojowarno. Saat itu diketahui Karolus juga menginginkan juga didirikan rumah sakit, sekolah pertukangan, jalan besar, rumah kepanditaan, dan gagasan lain.

Peletakan batu pertama gereja tersebut pada tanggal 24 Februari 1879 dan selesai serta diresmikan pada tanggal 3 Maret 1881. Sayangnya, setelah gereja tersebut diresmikan, Paulus Tosari tidak lama menjalani pelayanannya di gereja yang baru. Pada 21 Mei 1882, atau sekitar setahun setelah gereja berdiri, Tosari meninggal dunia pada usia 70 tahun.
Dalam Reformata Edisi 82 yang menceritakan tentang GKJW Mojowarno, kini gereja tersebut masih berdiri dengan mempertahankan kesederhanaannya, termasuk dalam tata ibadah mereka. Hal ini terlihat dari busana yang mereka kenakan saat mereka datang ke gereja untuk beribadah. Kaum wanita yang sudah berusia lanjut umumnya mengenakan kebaya, sedangkan laki-laki mengenakan sarung, layaknya warga muslim pedesaan.
Liturgi di gereja tersebut pun tidak serupa dengan kebanyakan gereja modern. Jemaat di gereja ini masih melestarikan kidung pujian yang dilantunkan dalam bahasa Jawa halus. Bahkan khotbah yang disampaikan pendeta pun menggunakan bahasa Jawa kromo (halus) dengan nada suara yang halus dan tenang.
Wayang dan Tembang
Dalam sejumlah literasi, disebutkan bahwa Paulus Tosari tetap mengajarkan Injil ala Coolen. Budaya Jawa tetap dia bawa dalam penyebaran Injil yang dia lakukan. Namun dia tetap mempraktikkan sakramen. Dia memakai wayang untuk menyebarkan ajaran Kristen, dan hal tersebut membuat pengajarannya mudah diterima.
Emmanuel Gerrit Singgih dalam Mengantisipasi masa depan: berteologi dalam konteks di awal Milenium III mengungkapkan bahwa Tosari memakai sastra tembang untuk berteologi. Dia juga disebut sebagai pelopor penulisan teologi di Indonesia.
Salah satu karya teologisnya yang terkenal adalah bait tembang Rasa Sejati atau yang juga dikenal dengan Serat Rasa Sejati. Emmanuel mengungkap bahwa tembang karya Tosari tersebut berpuluh-puluh tahun beredar dalam bentuk salinan-salinan. Barulah pada 1925 ada pemikiran untuk mencetaknya. Generasi tua di Jawa Timur disebut masih gemar melantunkan tembang-tembang yang ada pada Rasa Sejati.
Rasa Sejati sendiri berisi kumpulan kidung pujian yang berisi tembang-tembang Jawa dengan syair-syair puitis. Sedikitnya ada 23 syair dalam bahasa Jawa yang disusun dalam berbagai langgam yang erat dengan masyarakat Jawa. Lagi-lagi cara yang dia pakai ini membuatnya mudah diterima dan pengajarannya mudah dipahami oleh masyarakat Jawa.
Tim Pencatat Sejarah GKJW Mojowarno membuat sebuah karya tulis berjudul Sejarah Riyaya Undhuh–Undhuh Jemaat Mojowarno. Tersebut dalam karya tersebut, semasa hidup pelayanannya, Paulus Tosari menulis tembang, sebagai bagian dari penghayatannya terhadap pengajaran iman kekristenan.
Disebutkan bahwa sebagai orang Jawa, tembang merupakan sarana dalam menghayati hubungan yang begitu intens dan personal dengan Sang Pencipta Semesta. Hal ini tak terelakkan, sebab masa lalu Paulus Tosari adalah seorang yang begitu dekat dengan ajaran spiritualitas lokal (kejawen).
Serat Rasa Sejati ditulis dalam bentuk tembang macapat dengan tulisan huruf Jawa. Macapat Jawa adalah puisi dalam sastra Jawa yang dinyanyikan sehingga berbentuk tembang.
Buah cipta Tosari ini menjadi sebuah karya yang dapat digolongkan sebagai upaya penghayatan ajaran iman Kristen yang bertemu dengan religiusitas Jawa. Selain karya tersebut ia mengarang kitab gambar dengan tulisan Jawa yang dibuat pada zaman kepemimpinan Pendeta Hoezoo. (dari berbagai sumber)
