Pelitanusantara.com Marco Kartodikromo yang biasa disapa dengan Mas marco, lahir di Cepu, pada tahun 1890.
Berbeda dengan kebanyakan tokoh zaman itu yang berdarah priyayi, bapaknya walaupun seorang keturunan priyayi, akan tetapi hanya memiliki pangkat rendah sebagai seorang kepala desa dan sehari-hari mencari nafkah dengan bertani.
Marco merupakan salah satu dari 7 bersaudara, di mana kakaknya Kartosoewirjo adalah seorang mantri candu. Kartosoewirjo merupakan ayah dari Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, pencetus gerakan DI/TII di masa kemerdekaan. Kakek Marco dan Kartosoewirjo dari pihak ayah adalah lurah Merak, Panolan, Cepu yang bernama Ronodikromo, yang masih keturunan Arya Penangsang, adipati Jipang di abad ke-16.
Pada usia lima belas tahun, ia mulai bekerja di Nederlandsch-Indische Spoorweg, yaitu perusahaan kereta api nasional Hindia Belanda, di Semarang. Pada tahun 1911 ia memilih untuk meninggalkan perusahaan karena ia muak dengan kebijakan rasis, termasuk penggunaan ras sebagai dasar untuk jumlah upah yang dibayar.
Kartodikromo kemudian menuju ke Bandung, Keresidenan Priangan, tempat ia mendapat pekerjaan di Medan Prijaji, surat kabar yang dikelola oleh Tirto Adhi Soerjo pada tahun 1911 selama satu tahun. Di tempat ini, ia diajari Tirto profesi kewartawanan. Ketika media tersebut ditutup oleh Belanda,pada tahun 1912 Kartodikromo pergi ke Surakarta. Di sana, ia bergabung dengan Sarekat Islam, organisasi pedagang Muslim, dan mendapat pekerjaan di Sarekat Islam yang didukung Saro Tomo. Pada tahun 1914 ia memimpin majalah Doenia Bergerak. Makalah ini adalah corong dari Grup Wartawan Lokal Indonesia (Inlandse Journalisten Bond), yang dipimpin Kartodikromo dan dalam pembangunannya dibantu bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Darnakoesoemo. Pada tahun yang sama, ia menerbitkan tiga volume karya Mata Gelap; hal ini menyebabkan polemik panjang antara Doenia Bergerak dan pemilik Tionghoa Tjoen Tjioe di Surabaya karena dirasakan berbau rasisme.
Sementara saat bersama Doenia Bergerak, Kartodikromo menulis serangan terhadap penasihat Belanda R.A. Rinkes; dalam editorialnya, ia menulis bahwa Belanda mencintai diri mereka sendiri jauh lebih banyak daripada penduduk asli yang mereka kuasai. Pada tanggal 26 Januari 1915, Kartodikromo berada di bawah penyelidikan oleh Kantor Kehakiman Hindia Belanda karena menerbitkan beberapa editorial anti-Belanda yang berkelanjutan. Para wartawan gagal untuk mencoba mengumpulkan uang yang berguna untuk memprotes masalah ini pada parlemen Belanda di Den Haag. Dia dihukum karena aktivitas revolusioner dan dihukum sembilan bulan di penjara Mlaten; Namun, karena kemarahan publik dia dibebaskan setelah 100 hari. Ketika Doenia Bergerak bangkrut, Kartodikromo kemudian memimpin Saro Tomo.
KEHIDUPAN DAN KARIR MARCO
Kartodikromo segera dipilih oleh Goenawan, pemimpin redaksi harian Pantjaran Warta, untuk pergi ke Belanda sebagai koresponden. Dalam lima bulan itu pada akhir 1916 dan awal 1917, wartawan menerbitkan Boekoe Sebaran Jang Pertama. Setelah kembali ke Indonesia, ia menjadi editor untuk Pantjaran Warta dan dirinya bermarkas di Batavia (sekarang Jakarta). Dalam sebulan ia dipenjarakan lagi karena tulisannya.
Pada 21 Februari 1918 Kartodikromo dibebaskan dari penjara. Dia pindah ke Semarang dan menjadi komisaris Sarekat Islam bersama Semaun; ia juga bergabung dengan surat kabar Sinar Djawa (kemudian Sinar Hindia). Dalam konferensi tahun itu, Kartodikromo menyatakan bahwa ada dua jenis pers di Indonesia. “pers hitam” (pers item) yang berjuang melawan imperialis Belanda; dan “pers putih”, yang bekerja untuk menaklukan rakyat Indonesia.
Pada tahun 1918 ia menerbitkan Student Hidjo, yang menceritakan tentang seorang mahasiswa muda Indonesia yang jatuh cinta selama belajar di Belanda meski sudah memiliki tunangan di Indonesia. Karya ini, awalnya diterbitkan sebagai serial, bagian dari novel pada tahun 1919. Juga pada tahun 1918 ia menerbitkan kumpulan puisi, Sair-Sair Rempah.
Kartodikromo menerbitkan novel lain, Matahariah, pada tahun 1919. Ini didasarkan pada kehidupan Mata Hari sebagai mata-mata Belanda.
Mulanya novel itu terbit sebagai cerita bersambung mulai Agustus 1918. Kisah itu berlatar di Den Haag, dan alur ceritanya dipandang Henri Chambert-Loir cepat terseret dalam “kecengengan yang berlebihan”, dan padanya juga maktub sebuah teks lengkap sebuah lakon sandiwara tentang kisah seorang asisten wedana yang memihak rakyat Jawa yang tertindas.
Pada 15 Desember 1919, Kartodikromo meninggalkan Sinar Hindia dan mengambil posisi sebagai kepala Soero Tamtomo, yang diterbitkan oleh staf Serikat Kehutanan Wono Tamtomo. Dia dipenjarakan selama enam bulan untuk salah satu tulisannya yang berjudul Sjairnja Sentot. Pada tahun 1921 Kartodikromo pindah ke Salatiga dan terlibat dengan pers di sana. Dia dijatuhi hukuman dua tahun penjara di Batavia untuk tulisan-tulisan lainnya.
Pada tahun 1924, Kartodikromo menerbitkan Rasa Merdika (A Sense of Independence), yang berurusan dengan seorang pemuda yang bertentangan dengan ayah priyayinya, alat pemerintah kolonial Belanda, dan mencoba untuk menemukan kemerdekaan pribadi, di bawah bimbingan guru. Novel lain, Cermin Buah Keroyalan, dan drama panggung, Kromo Bergerak, diterbitkan tidak lama setelah itu.
Kartodikromo atau akrab dipanggil Mas Marco pindah ke Surakata merupakan kiprah awalnya terjun ke dunia politik. Mas Marco bergabung bersama Sarekat Islam. Namun ketika Sarekat Islam mulai goyah, ia memutuskan rehat dari perpolitikan. Dan kembali lagi pada 1924 dengan Sarekat Islam Merah yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Rakyat. Sarekat Rakyat sendiri didirikan oleh Semaoen dan Darsono dengan aliran sosialisme-komunisme.
Mas Marco yang bergabung bersama Sarekat Rakyat menjalin hubungan dengan komunis tanpa menjadi komunis. Hal itu diutarakan oleh bahwa Mas Marco tak pernah menjadi komunis. Menurut Darsono, Mas Marco lebih condong kepada nasionalisme daripada komunisme. Malah ia sering disandingkan dengan Misbach sebagai penganut sosialisme religius.
Kartodikromo dibuang ke Boven-Digoel, Papua, pada tahun 1926 karena tulisan-tulisan dan keterlibatan dalam pemberontakan 1926 yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia. Ia meninggal di sana karena malaria pada tanggal 18 Maret 1932.
Sebagian besar karya fiksi Kartodikromo ditulis di Bandung atau Surabaya. Dia adalah contoh awal gerakan sosial realis Indonesia.
Seperti kebanyakan penulis nasionalis pada saat itu, Kartodikromo menyukai menulis dalam bahasa Melayu (pendahulu bahasa Indonesia modern) daripada bahasa Jawa asalnya;. Namun, ia juga menulis beberapa potong dalam bahasa Jawa. Sedangkan penerbit milik negara yaitu Balai Pustaka berusaha untuk membakukan bahasa Melayu, Kartodikromo justru bereksperimen dengan bahasa, menggunakan kata-kata, frasa, dan adegan yang belum pernah digunakan.
Kritikus sastra sosialis Bakri Siregar menulis bahwa Kartodikromo menggambarkan berdasar pengalamannya saat mengunjungi Belanda yang secara tertulis di Studen Hidjo. Dalam tulisannya, tidak seperti penulis yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, Kartodikromo menitik beratkan terhadap “superioritas kulit putih”di mana Belanda kagum atas pribumi; ini dicapai dengan menampilkan “kebejatan moral borjuis dan kolonial Belanda.”
Karya-karya yang dihasil dari tangan seorang Marco :
- Mata Gelap, yang terdiri dari tiga jilid yang diterbitkan di Bandung pada 1914
- Student Hidjo diterbitkan tahun 1918
- Matahariah diterbitkan tahun 1919
- Rasa Mardika diterbitkan tahun 1918 kemudian dicetak ulang pada tahun 1931 di Surakarta.
- Sair Rempah-rempah terbit di Semarang pada 1918
- Sair Sama Rasa Sama Rata terbit di surat kabar Pantjaran Warta tahun 1917
- Babad Tanah Djawi yang dimuat di jurnal Hidoep, tahun 1924-1925.
- Kromo Bergerak (1924; drama panggung)
Dari Berbagai Sumber
