Menentukan Pilihan yang Bijak dan Bertanggung Jawab dalam Pilkada

Kefaspelita
IMG 20241116 WA0076

Salatiga – “Penting sekali memahami visi politik kebangsan Tuhan Yesus. Dengan demikian ada landasan untuk menentukan pilihan yang bijak dan bertanggung jawab,” demikian Pdt. Dr. Agus Supratikno di hadapan peserta saresehan, November 2024 beberapa waktu yang lalu di aula pertemuan lama GKJ Salatiga dalam acara Saresehan Diakonia Gereja dan Pilkada 2024.

“Berbeda dengan politik kebangsaan Farisi yang mengembangkan identitas nasional yang tertutup atau eksklusif, visi kebangsaan Yesus tentang identitas nasional Israel bersifat inklusif, merangkul semua orang terutama yang termarginalkan, meretas batas etnisitas, ras, dan agama,” tutur Agus Supratikno yang adalah dosen di Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga .

Visi Politik yang Inklusif

Bagi Agus Supratikno yang menyelesaikan S1 di Sekolah Tinggi Teologi Indonesia (STII) Yogyakarta, meraih gelar Magister Teologi Publik dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, dan gelar Doktor dari Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Diponegoro, Semarang yang memiliki bidang minat pada teologi politik/agama dan politik, studi perdamaian dan rekonsiliasi ini mengatakan bahwa visi politik kebangsaan Yesus similar dengan dasar negara kita Pancasila, yang menjamin pengakuankesetaraan bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa memandang latar belakang etnis, budaya, agama, bahkan ideologi. Menurutnya lebih lanjut, Pancasila juga menjadi dasar tanggungjawab etis setiap warga negara, untuk membangun kerukunan sesama warga negara Indonesia tanpa memandang latarbelakang sosial, agama, dan orientasi politiknya.

Bagi Agus Supratikno kepemimpinan Yesus menunjukkan sifat yang inklusif karena merangkul semua orang, meretas batas etnisitas, ras, dan agama- tidak menegasikan mereka yang berbeda. Selain itu menurut Agus, kepemimpinan Yesus bersifat “preferential option for the poor and vulnerable” yakni memiliki jiwa-yang mengutamakan yang miskin dan rentan serta termarginalkan.

“Tuhan Yesus juga memiliki visi yang menyatukan karena Yesus berkata ‘Rumahku akan akan disebut rumah doa untuk segala bangsa.’ Selain itu juga disebutkan bahwa Yesus menunjukkan kepemimpinan yang bersifat ‘servant leadership’, pemimpin yang menjadi pelayan bagi masyarakat dan kepemimpinan yang bersifat ‘friendship leadership’ yakni pemimpin yang mau menjadi sahabat bagi rakyat,” demikian Agus menambahkan penjelasannya.

Dasar-dasar itulah yang harusnya kemudian menjadi landasan bagi warga gereja untuk memilih pemimpinnya baik Walikota dan Wakilnya, Bupati dam Wakilny, serta Gubernur dan Wakilnya pada Pilkada 27 November 2024 yang akan datang.

Wawasan Kebangsaan Berdasar Perspektif Kristiani

Drs. Tritjahjo Danny Soesilo, M.Si yang pada saat acara menjadi moderator menyampaikan pendapatnya bahwa acara sarasehan tersebut membekali warga gereja tentang wawasan kebangsaan.

IMG-20241116-WA0075
“Tujuan sarasehan adalah untuk membekali warga gereja tentang wawasan kebangsaan berdasar perspektif kristiani atau wawasan kebangsaan Kristus dalam Pilkada. Banyak tantangan atau godaan yang dihadapi warga saat ada Pilkada. Oleh karena itu, penting pemahaman wawasan kebangsaan berdasar iman kristiani agar dapat menghadapi tantangan-tantangan selama Pilkada.” Demikian Drs. Tritjahjo Danny Soesilo, M.Si yang kesehariannya adalah Kaprogdi BK FKIP UKSW.

Pdt. Dr. Agus Supratikno belum lama ini membuat buku berjudul Agama dan Politik yang diterbitkan oleh Yayasan Taman Pustaka Kristen Yogyakarta di tahun 2023. Buku Agama dan Politik ini merupakan suatu upaya membedah berbagai isu berkaitan dengan peran agama dalam politik. Beberapa isu yang coba dibedah adalah berkaitan dengan relasi agama dan politik, agama dalam demokrasi liberal dan demokrasi Pancasila, peran agama di ruang publik dalam perspektif Habermas, nasionalisme agama dalam politik modern, serta pergulatan bangsa Indonesia mengatasi bangkitnya politik identitas berbasis agama, melalui penguatan identitas nasional berdasarkan Pancasila. Buku ini secara khusus juga mencoba mengulik visi kebangsaan kaum Farisi dan Yesus berkaitan dengan identitas nasional Israel di Abad 1.

Oleh: Suyito Basuki