SLEMAN – PN NEWS, Dukungan terhadap peningkatan kesehatan jiwa dan psikis, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyatakan di Kabupaten Sleman telah menyiapkan kader hingga tingkat kapanewon.
Hal ini disampaikan Bupati saat hadir mendampingi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, saat meresmikan Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum, Gedung ini diberi nama Gedung Pringgodani Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia, diresmikan Gubernur DIY, Rabu (22/2/2013).
Bupati Sleman,Kustini Sri Purnomo, menyampaikan selamat kepada Rumah Sakit Jiwa Grhasia atas diresmikannya Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum, harapannya penambahan fasilitas layanan kesehatan di RSJ Grhasia, menambah daya dukung layanan kepada masyarakat.
Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum ini diharapkan dapat menjadi unit yang terbaik dan bisa menjadi rujukan kerjasama Pemerintah Kabupaten Sleman, dalam menyelesaikan masalah psikis yang berdampak khususnya pada kekerasan perempuan dan anak, ujarnya.
Bupati menambahkan, Pemerintah Kabupaten Sleman terus melaksanakan pelatihan mediasi bagi para kader dan jejaring yang ada di Kabupaten Sleman.
Pelatihan tersebut dimaksudkan agar kader dapat melakukan tindakan mediasi pada kasus yang terjadi sampai di tingkat Kapanewon.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga merespons positif peresmian Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum.
Menurut Sri Sultan HB X, pelayanan trauma healing menjadi sebuah urgensi, seiring dengan terjadinya kecelakaan, bencana alam, kekerasan seks dan kekerasan dalam rumah tangga.
Begitu juga dengan layanan Visum Et Repertum yang berperan strategis dalam mendukung implementasi regulasi, seperti pemerikasaan kerjadian tindak kekerasan.
Terkait dengan hal itu, Gubernur mengimbau agar fasilitas tersebut dapat didukung dengan pelayanan ramah tanpa membedakan status sosial pasien.
Selain itu, harus mengadaptasi sistim menajemen dengan standar pelayanan yang sama bagi setiap pasien di berbagai kelas, untuk itu layanan baru di Gedung Pringgodani harus dijiwai dengan moto Rumah Sakit Grhasia yaitu melayani dengan senyum,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembajun Setyaningastutie melaporkan, pada semester pertama tahun 2022, tercatat sebanyak 654 kasus keskerasan pada perempuan dan anak, hal ini yang menjadi salah satu latar belakang lahirnya Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum RSJ Grhasia.
Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum dibangun agar Rumah Sakit Jiwa Grhasia memberikan pelayanan trauma healing bagi korban kekerasan , khususnya perempuan dan anak dengan memenuhi standar profesi dan standar prosedur operasional.
Selain itu, Direktur RSJ Grhasia, Akhmad Akhadi, menjelaskan, gedung baru itu telah di lengkapi dengan fasilitas lengkap, seperti ruang perawatan masa krisis, ruang observasi anak, ruang terapi keluarga, ruang dokter, ruang psikolog, hingga ruang observasi visum et repertum.
Harapannya Rumah Sakit Jiwa Grhasia ini dapat berperan lebih besar pada penanggulangan korban kekerasan, sehingga korban hanya berhenti pada peristiwa kekerasan saja, tidak sampai menimbulkan post trauma stress disorder serta tidak mengakibatkan gangguan jiwa yang lebih berat,tambahnya. (Ome)
