Bandung-Pesta demokrasi yang akan diselenggarakan pada tahun 2024 semakin ramai diperbincangkan diberbagai kalangan. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh pemerintah bahwa pemilihan umum kali ini akan menjadi yang terbesar dalam sejarah pesta demokrasi di Indonesia. Dikatakan demikian karena tahun 2024 ini akan berlangsung pemilihan anggota legislatif baik itu DPR, DPD, dan DPRD Tingkat I dan II, selain itu juga akan ada pemilihan kepala daerah dan paling tinggi yaitu pemilihan presiden untuk masa jabatan 2024-2029.
Dari sekian banyaknya pemilihan tersebut, pemilihan presiden merupakan yang paling menghebohkan dikalangan masyarakat Indonesia. Beberapa partai politik telah membentuk koalisi dan bahkan ada yang telah mendeklarasikan calon presiden dan calon wakil presidennya.
Menanggapi hal tersebut, Dulur Ganjar Pranowo (DGP) mendorong agar Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024 cukup dua poros atau dua pasangan calon untuk menghemat anggaran dan juga mengurangi potensi terjadinya politik identitas. Hal ini disampaikan dalam Konferensi Pers oleh DGP di kota Bandung, Jumat (11/11/2022).
Dalam Konferensi Pers ini, pihak DGP merekomendasikan Ganjar Pranowo sebagai salah satu kandidat Calon Presiden. DGP meyakini bahwa Ganjar Pranowo saat ini mulai bermunculan dukungan dari sejumlah kalangan di berbagai daerah, termasuk para ulama.
Selain merekomendasikan Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden, pihak DGP juga merekomendasikan 12 Calon Wakil Presiden yang cocok untuk mendampingi Ganjar Pranowo pada pergelaran Pilpres tahun 2024 mendatang.
Djasarmen Purba, selaku Pembina DPP DGP menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan 12 nama yang cocok menjadi calon wakil presiden (Cawapres) untuk mendampingi Ganjar Pranowo.
Adapun ke-12 kandidat Cawapres yang akan direkomendasikan ialah Erik Thohir, Budi Waseso, Ridwan Kamil, Andika Perkasa, Anton Charliyan, Yenny Wahid, Susi Pudjiastuti, KH Marsudi Syuhud, Muhaimin Iskandar, Mahfud MD, Luhut Binsar Pandjaitan dan TB Hasanuddin.
“Jadi, siapa pun Cawapresnya, Ganjar Pranowo Presidennya. DGP akan menyuarakan itu di mana-mana, harga mati,” tegas Djasarmen.
Menurut Djasarmen, kandidat untuk Cawapres bisa dipilih berdasarkan kebutuhan dan tujuan pembangunan Indonesia ke depan, baik politik, ekonomi, maupun pertahanan. Misalnya dari bidang ekonomi, Menteri BUMN Erick Thohir memiliki kekuatan logistik, bahkan paham tentang ekonomi makro dan mikro.
“Sekarang untuk membangun Indonesia ke depan apa yang paling penting, apakah bidang ekonomi, politik, atau pertahanan. Kalau kami yang menentukan, ga ada gunanya 12 (nama) ini, silakan dipilih,” pungkasnya.
(A. L. Malo)
