Haedar Nashir, Sampaikan Pandangan Muhammadiyah Soal Rezimentasi Agama.

IMG 20221108 WA0068

JAKARTA – Muktamar ke-48 Muhammadiyah digelar tanggal 18-20 November 2022 di Surakarta-Jawa Tengah, akan fokus memperkuat dua program yaitu dakwah komunitas serta konsep tadayun atau pandangan keagamaan dan materi isu-isu strategis aktual, demikian yang disampaikan Haedar Nashir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara virtual , pada acara Media Gathering , bertempat di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin,(7/11/2022)

Haedar Nashir menuturkan bahwa, Muktamar Muhammadiyah dilakukan secara sistematis, materi-materi yang dibahas dalam Muktamar 48 sudah dikirimkan tiga bulan sebelum pelaksanaan.

Guru Besar Sosiologi ini menuturkan, bahwa penguatan program dakwah komunitas di muktamar ini kemanfaatannya bukan hanya dirasakan oleh warga Muhammadiyah dan umat Islam saja, tetapi juga bagi bangsa di tengah dinamika yang dihadapinya.

Menurut Prof.Dr.Haedar Nashir di abad 21 dengan kemajuan teknologi dan modernitas, akan terjadi perubahan landskap dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya bangsa.

Indonesia yang masyarakatnya punya budaya gotong royong dan relasi sosial masyarakatnya yang kuat akan tercerabut jika komunitas ini rentan, maka Muhammadiyah akan memperkuat komunitas ini baik di pedesaan, perkotaan sampai tempat-tempat terjauh, ujarnya.

Muhammadiyah, saat ini mungkin menjadi satu-satunya organisasi yang memiliki jaringan yang luas, kuat dan akuntabel, jaringan yang terstruktur dengan rapi mulai dari pusat sampai ranting ini menurutnya merupakan modal besar dalam memperkuat dakwah komunitas.

Selain itu, Muktamar ke-48 Muhammadiyah juga akan memperkuat konsep tadayun atau memperkuat basis, jiwa atau alam pikiran dan praktek beragama yang menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan, maka di Muktamar ini kita menyusun konsep besar sebagai tindak lanjut dari Islam berkemajuan yang disebut dengan Risalah Islam yang Berkemajuan.

Haedar , menyadari bahwa terdapat masalah-masalah tertentu di umat beragama, sebagai mana masalah-masalah yang ada di entitas lain dengan berbagai afiliasi, adanya politik identitas, kekerasan yang dikaitkan ke agama menjadi salah satu alasan disusunnya Risalah Islam yang Berkemajuan.

Kita ingin energi positif itu jauh lebih dikembangkan ketimbang energi negatif, dan agama itu punya kekuatan dahsyat, dan dia merupakan sesuatu yang sakral untuk kita jadikan sebagai energi konstruktif, dan itulah Islam Berkemajuan, lanjut Haedar.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak kepada seluruh warga bangsa memenuhi ruang publik dengan energi positif, dalam memajukan peradaban, negara harus bersatu dengan berbagai latarbelakang berbeda, dibalut dengan kekuatan agama, makan Indonesia akan menjadi kekuatan besar.

Terkait isu strategis, Muhammadiyah bukan hanya mencoba melihat secara objektif dan jernih, tapi sudah menawarkan solusi, tidak hanya menemukan masalah.

Satu diantaranya adalah tentang rezimentasi agama, atau rezimentasi paham agama, Ini mungkin sesuatu yang baru ketika isunya tentang radikalisme agama, ekstrimisme agama, identitas politik agama dan lain sebagainya.

Rezimentasi agama, kata Haedar Nashir merupakan masalah di mana agama secara bias dan subyektif lalu ingin disenyawakan dengan negara dan menjadi kekuatan negara, menurutnya, hal itu berlawanan dengan ide dan cita-cita Indonesia sebagai Negara Pancasila Darul Adhi Wa Syahadah.(Ome)