TRENGGALEK – Petani Kelurahan Ngantru, Kec/Kab Trenggalek pasca banjir bandang melanda, mengolah lahan pesawahanya menjadi sentra tanaman bawang merah dengan penggunaan biji botani atau true shallot seed (TSS), merupakan sumber benih alternatif dalam budidaya bawang merah.
Ndaru warga Kelurahan Ngantru,Kec/Kab Trenggalek mengatakan, bawang merah merupakan salah satu komoditas strategis penyumbang inflasi nasional. Harga bawang merah yang berfluktuatif salah satunya disebabkan terbatasnya umbi benih bawang merah yang berkualitas.
“Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah yang diseleksi dari hasil panen. Bawang merah umumnya diproduksi dengan menggunakan umbi sebagai bahan tanam atau sumber benih,” ujarnya saat ditemui di lokasi penaman (25/10/2022).
Penyediaan benih bawang merah yang bermutu secara kuantitas sangat terbatas setiap tahunnya, yaitu sekitar 15% hingga 16% per tahun. Untuk mendapatkan benih dengan hasil tinggi semakin banyak petani yang menggunakan benih umbi dari bawang konsumsi asal impor yang harganya relatif mahal.
“Selain itu, penggunaan umbi secara terus menerus oleh petani juga dapat menyebabkan semakin menurunnya mutu umbi karena akumulasi penyakit tular benih yang berakibat menurunnya produktivitas bawang merah,”terangnya.
Salah satu cara untuk memecahkan masalah ketersediaan bibit berkualitas adalah melalui inovasi teknologi budidaya bawang merah dengan menggunakan TSS,
metode yaitu varietas Trisula.
“Dibandingkan dengan benih umbi tradisional, penggunaan dengan metode TSS mempunyai beberapa keunggulan yakni kebutuhan benih lebih efisien sekitar 7,5 kg/hektare dibandingkan dengan umbi yaitu sekitar 1,5 ton/hektrae, menghasilkan tanaman yang lebih sehat, serta tingkat produktiivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan benih umbi,”jelas Ndaru.
Dalam rangka pengembangan bawang merah dengan metode TSS akan diproduksi umbi bawang merah yang bisa digunakan untuk konsumsi dan produksi umbi mini sebagai model perbenihan bawang merah selanjutnya.
Hasil dari panen bawang merah di lahan ini diperkirakan yaitu 3,5 ton untuk luas lahan demplot 1.500 m² yang terdiri dari 10 petak lahan setara dengan 24,5 ton/hektare. “Selisih biaya produksi dari bibit besar, Rp30 juta/hektare. Jadi sangat menguntungkan bagi petani.”tegasnya
Penanaman bawang merah itu, kata Ndaru dilakukan pada off season (musim sepi) dan hasilnya sangat baik, bisa mencapai 24,5 ton/hektare, jauh lebih tinggi daripada penggunaan bibit umbi yang mencapai 13 ton/hektare pada on season, musim penghujan.
“Keunggulan lain selain lebih besar produksinya dan umbinya lebih besar, juga penggunaan bibit dari TSS dapat memutus rantai penyakit tanaman bawang merah,”tandasnya.
(MJ Pelita Nusantara)
