Gangguan Gagal Ginjal Akut pada Anak dan Informasi tentang Obat Sirup Anak Mengandung Zat Kimia.

IMG 20221021 WA0180

SLEMAN-Maraknya penyakit gagal ginjal misterius pada anak yang disinyalir akibat mengonsumsi obat sirup tertentu, berdampak di Indonesia dan khususnya DIY.

Daerah Istimewa Yogyakarta kini terdapat 13 kasus yang dilaporkan, namun 3 kasus tersebut dinyatakan bukan penyakit gagal ginjal akut dan 10 kasus dinyatakan positif gagal ginjal akut,
dari 10 kasus tersebut, terdapat 3 kasus yang berasal dari Sleman, dengan rincian 2 penderita dinyatakan sembuh dan 1 meninggal.

Sejauh ini telah dilakukan investigasi oleh pemerintah melalui Kemenkes dan BPOM terkait kasus tersebut, Obat sirup yang disinyalir menyebabkan penyakit gagal ginjal akut ini mengandung pencemaran zat kimia berbahaya yaitu ethylene glycol, diethylene glycol, dan ethylene glycol butyl ether (EGBE).

Penyakit gagal ginjal akut pada anak ini ditandai dengan gejala kurangnya produksi urine. Bahkan sampai tidak bisa buang air kecil sama sekali.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama, M.Kes, mengatakan di gudang farmasi Sleman atau di Gedung Pengelolaan Obat dan Alat Kesehatan (POAK), tidak ditemukan obat-obat sirup yang terindikasi bahan kimia tersebut. Bahkan obat-obatan yang diberikan di Puskesmas di Kabupaten Sleman juga tergolong aman dan tidak tercemar oleh bahan kimia ethylene glycol, diethylene glycol, dan ethylene glycol butyl ether (EGBE).

Di Gudang farmasi Sleman atau di Gedung Pengelolaan Obat dan Alat Kesehatan (POAK), tidak ada obat-obat sirup yang terindikasi, sendangkan yang kita pakai itu ialah generic, jadi hanya satu, termasuk di layanan di Puskesmas menggunakan layanan esensial dari POAK atau dari distribusi yang kita berikan dari Kabupaten. Sehingga sampai sekarang belum ada sirupnya yang teridentifikasi, jelasnya pada Confrence pers di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (21/10/2022).

Sementara itu, Direktur RSUD Sleman. Dr. Novita Krisnaeni M.P.H, pada kesempatan yang sama memaparkan beragam upaya telah dilakukan RSUD Sleman sebagai rumah sakit rujukan tipe B dalam menangani kasus tersebut, mulai dari preventif, promotif, maupun kurotif.
Kegiatan preventif (pencegahan) upaya yang dilakukan merujuk pada surat edaran Kemenkes maupun dari IDAI yaitu untuk sementara tenaga kesehatan tidak memberikan pengobatan dalam bentuk sirup dengan merek apapun. Dengan kata lain untuk sementara penggunaan obat sirup dihentikan.

Kemudian promotive, yakni menyampaikan segala informasi terkait penyakit tersebut. kepada masyarakat melalui media ataupun secara langsung kepada pasien. Informasi yang disampaikan seputar gejala, cara pencegahan, hingga Langkah yang diambil oleh orangtua jika anaknya menderita panas, batuk, pilek maupun diare.

Lalu upaya kurotif dengan cara menyediakan dokter spesialis anak di RSUD Sleman sebanyak 4 orang, selain itu sarana dan prasarana untuk ICU NICU juga dipersiapkan dengan baik, namun perlu digaris bawahi meski RSUD Sleman menjadi rumah sakit rujukan tipe B, namun tetap harus merujuk pada rumah sakit rujukan utama. Di Yogyakarta rumah sakit rujukan utama yang menangani kasus gagal ginjal akut ialah RS Sardjito.

Selain itu, Dokter Spesialis Anak RSUD Sleman, Dr.Raden Yuli Kristianto Sp.A, pada kesempatan yang sama kepada wartawan mengatakan bahwa sampai saat ini masyarkarat Indonesia pada umumnya masih menunggu informasi lebih lanjut dari Kemenkes RI, BPOM serta instansi-instansi pemerintah lainnya terkait kondisi gagal ginjal akut atipikal pada anak dan penggunaan obat-obatan sirup.

Artinya masih aka nada kebijakan-kebijakan yang berubah dalam menangani kondisi tersebut.Oleh karenanya IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) merekomendasikan beberapa hal mengenai gangguan gagal ginjal pada akut anak, sebagai berikut:
1. Berdasarkan keputusan Kementerian Kesehatan serta rekomendasi dari IDAI, untuk tenaga kesehatan saat ini direkomendasikan untuk tidak meresepkan obat-obatan cair terlebih dahulu. Oleh karena itu apabila terdapat penggunaan obat-obatan cair secara rutin, dimohon segera berkonsultasi kepada dokter anak kebih lanjut.
2. Tenaga Kesehatan saat ini disemua tempat diseluruh Indonesia diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus gagal ginjal. Bila ada anak yang sakit dengan gangguan penurunan jumlah urine atau tidak buang air kecil sama sekali, maka harus segera dikonsultasikan kepada dokter.

Jika anak tersebut terindikasi mengalami gagal ginjal akut, maka akan dilakukan rujukan ke RS rujukan khusus. Di Yogyakarta yang menjadi rumah sakit rujukannya ialah RS Sardjito.
3. Obat-obatan sirup, yang menyebabkan gagal ginjal dengan mengonsumsi obat sirup sebenarnya bukan komponen di dalamnya, tetapi pelarutnya yang menggunakan ethylene glycol dan diethylene glycol.

Di Indonesia saat ini BPOM melakukan penyelidikan obat-obat apa saja yang mengandung ethylene glycol dan diethylene glycol, telah keluar hasil sementara bahwa ada beberapa obat di Indonesia yang mengandung ethylene glycol dan diethylene glycol.

4. Meningkatkan kewaspadaan orangtua pada kondisi anak sakit, dengan memantau urine. Jika produksi urinenya turun atau bahkan tidak buang air kecil selama 6 jam, orangtua diminta untuk tidak cemas, dan tidak panik, namun segera konsultasikan kepada dokter. (Ome)