OASIS PIM “Revitalisasi Jati Diri Bangsa”

Han_up2000
Screenshot 2022 0217
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Jakarta-Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang murah senyum, ramah dan memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi terhadap sesama sepertinya sudah mulai luntur. Dikatakan demikian karena dari beberapa peristiwa yang terjadi hampir diseluruh daerah di Indonesia, terdapat hal-hal yang mengejutkan yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa yang sesungguhnya. Misalnya beberapa berita atau aksi biadab pengeroyokan terhadap seseorang yang tidak bersalah hingga meninggal dunia karena diteriaki maling. Kejadian serupa lainnya adalah seorang Kakek yang dituduh mencuri yang pada akhirnya berujung maut atau meninggal dunia. Dan masih terdapat peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi di seluruh daerah di Indonesia tentang aksi kebiadaban tersebut.

Melihat hal demikian sebagai tindakan yang merusak jati diri bangsa, Persatuan Indonesia Mandiri (PIM) mengadakan tayang bincang dengan nama “OASIS PIM” yang disiarkan secara langsung melalui saluran Tirta TV, pada hari Selasa (15/02/2022). Pada tayang bincang perdana ini, OASIS PIM mengusung tema “Revitalisasi Jati Diri Bangsa” dengan nara sumber yaitu Dwi Urip Premono selaku Ketua Umum PIM, Ashiong P. Munthe sebagai Kepala Balitbang PIM, dan di luar studio (online) Antonius Benny Susetyo selaku Staf Khusus Dewan Pengarah Ideologi Pancasila.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Pada kesempatan pertama ini, Romo Benny menyatakan bahwa terjadinya kekerasan di bangsa ini karena hilangnya trust masyarakat terhadap aparat keamanan, sehingga kekerasan menjadi pilihan utama dalam persoalan yang terjadi di masyarakat.

“Kalau kita berbicara tentang revitalisasi jati diri bangsa, sebenarnya bangsa Indonesia itu adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi kalau sudah menjunjung tinggi nilai itu, maka kemanusia, kesatuan, kerakyatan, dan keadilan itu harus menjadi jati diri utama.  Tetapi diakhir-akhir ini bahwa kekerasan terus terjadi di masyarakat, bahkan kekerasan itu kerapkali menjadi pilihan utama, baru kemudian keputusan kebijakan karena masyarakat kehilangan trust terhadap aparat keamanan. Hilangnya trust itulah sehingga masyarakat menjadi bar-bar, seolah-olah kekerasan menjadi solusi. Maka kemudian, para korban yang tidak berdosa pun menjadi korban karena hilangnya trust itu, sehingga kekerasan yang komunal itu selalu terhindar dari hukum” jelasnya.

Lanjutnya, Romo Benny juga berharap bahwa setiap peristiwa kekerasan yang terjadi di masyarakat menjadi perhatian bagi KAPOLRI untuk melakukan sebuah refleksi dalam penegakkan hukum yang berlaku.

“Saya berharap persoalan-persoalan kekerasan yang sudah menuntut itu seharusnya menjadi perhatian bagi KAPOLRI  sebagai penegak hukum untuk melakukan sebuah refleksi. Maka saat penegakkan hukum itu harus menjadi pilihan dalam pengambilan kebijakan, maka kasus-kasus kekerasan hanya bisa selesai kalau kita memutus tali kekerasan”, tandasnya.

Untuk memutus tali kekerasan yang dimaksudkan tersebut, Romo Benny menyatakan bahwa itu bisa dilakukan dengan membangun rekonsiliasi budaya atau dengan membangun dialog, ataupun juga dengan memberikan pengecualian-pengecualian untuk menunjukkan bahwa sejarah masa lalu itu bertumbuh di dalam kehidupan berbangsa. Dalam penjelasannya, Romo Benny menyatakan bahwa ada jalan baru yang dipertahankan oleh masyarakat yaitu “dendam tidak menjadi masalah lagi, tetapi sesuatu yang lumrah.

Berkaitan dengan topik pembahasan dan juga peristiwa kekerasan yang terjadi di kalangan masyarakat tersebut, Dwi selaku Ketua Umum PIM beranggapan bahwa sebenarnya itu sangat bertolak-belakang dengan jati diri bangsa yang sesungguhnya. Untuk itu dalam penjelasasannya, setidaknya ada 8 karekteristik yang sering digaungkan yang sebenarnya menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa yang menggambarkan sifat atau watak sebagai masyarakat Indonesia.

Adapun ke-8 karakteristik yang dimaksudkan ialah 1) sangat ramah; 2) sering tertawa dan terlihat bahagia; 3) bergaya hidup santai; 4) pekerja keras; 5) kreatif; 6) suka menolong; 7) terbuka kepada siapa saja; dan 8) percaya kepada hal-hal yang supranatural. Karakteristik tersebut sebenarnya menjadi jati diri bangsa Indoneisa yang seharusnya patut untuk terus dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada kenyataannya bahwa karekteristik tersebut mulai mengalami kelunturan dalam praktik kehidupan masyarakat Indonesia.

Selanjutnya Dwi juga menyatakan bahwa dari sekian karakteristik tersebut, ada juga sifat-sifat buruk yang memang sudah melekat di dalam masyarakat Indonesia seperti yang disampaikan oleh Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan yang kemudian ditulis dalam bukunya. Adapun sifat-sifat buruk masyarakat Indonesia yang dimaksudkan ialah munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhayul, berbakat seni, dan lemah karakternya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Romo Benny, bahwa serangkaian peristiwa terjadi dikalangan masyarakat adalah karena hilangnya trust masyarakat terhadap penegak hukum. Jadi kalau trust kepada penegakan hukum itu sudah hilang maka akan terancam dan membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menanggapi hal tersebut, Ashiong selaku host dalam tayang bincang ini memberikan suatu pertanyaan, apa yang harus dilakukan dalam situasi kondisi seperti ini untuk merevitalisasi jati diri bangsa yang sesungguhnya?

Ketua Umum PIM ini menyatakan bahwa perlakukan ketidakadilan dalam penegakan hukum perlu menjadi perhatian bersama dari berbagai pihak.

“Lemahnya penegakan hukum memang ini menjadi satu hal yang sangat disayangkan dan ini sangat membuat kecewa dan frustrasi ketika seseorang mendapatkan ketidakadilan. Ini menjadi satu hal yang perlu menjadi pehatian kita bersama bagaimana sisi penegakan hukum dari para aparat penegak hukum. Jadi mungkin ada satu langkah komprehensif untuk membicarakan hal itu” pungkasnya.

Ashiong menyatakan bahwa “cerminan sebuah bangsa sebenarnya apa yang terjadi di masyarakatnya bukan di dalam konstitusinya. Tetapi dari mana masyarakatanya itu menampilkan citra dirinya. Bukan dari konstitusi, peraturannya bisa baik tetapi masyarakatnya ketika bertindak atau berperilaku tidak sesuai dengan konstitusinya itu menjadi cerminan dari sebuah bangsa tersebut”.

Untuk terjadinya revitalisasi jati diri bangsa yang sesungguhnya, Romo Benny menyatakan bahwa pendidikan harus berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus yang dimulai dari TNI dan POLRI.

“Saya sih harus lewat pendidikan yaitu bagaimana pendidikan itu sejak awal membuat aktualisasi penanaman nilai mulai dari tubuh TNI dan POLRI dulu yang menjadi role model. Yang terpenting bagi revitalisasi itu bukan hanya sekedar omongan, tetapi dibuatkan suatu program yang terpadu dan terprogram yaitu pendidikannya ditata ulang, kemudian pendekatan-pendekatannya ditata ulang sehingga polisi itu betul-betul mengedepankan dialog” tegasnya.

Romo Benny juga menyampaikan bahwa “Dewan Pembina Ideologi Pancasila juga sudah mendorong Keputusan Presiden untuk mengembalikan pendidikan pancasila, karena pendidikan pancasila tidak lagi diajarkan sejak era reformasi, sehingga menjadi salah satu penyebab jati diri bangsa hilang. Sekarang jati diri bangsa hilang karena anak-anak sejak era reformasi tidak mengenal ideologi bangsanya”.

Menurut Ashiong bahwa untuk membumikan Pancasila menjadi PR bersama karena ada ormas-ormas tertentu yang tidak mau untuk berideologi Pancasila dan itu menjadi tantangan. Menanggapi hal tersebut, Romo Benny menegaskan bahwa Negara harus hadir untuk menindak ormas-ormas tersebut yang melakukan perlawanan terhadap ideologi bangsanya yaitu dengan penegakan hukum.

Untuk membumikan ideologi Pancasila secara strategis, terstruktur dan massif harus bersinergi diantara semua lembaga terkait, baik itu organisasi masyarakat maupun mahasiswa. BPIP membangun 5 pilar yaitu dengan pemerintah, took-tokoh kampus, tokoh-tokoh media pers, tokoh-tokoh komunitas bisnis, dan tokoh-tokoh masyarakat sipil. Ke-5 pilar tersebut harus menjadi salah satu metode untuk membumikan Pancasila di kalangan masyarakat umum.

 Menanggapi pernyataan dari salah satu komentator tentang kearifan lokal sebagai salah satu yang dapat memperkokoh karakter bangsa, Dwi menyatakan bahwa “kearifan lokal itu modal sebetulnya yang diberikan oleh Tuhan kepada sebuah bangsa atau sebuah komunitas yang harus terus menerus dirawat, dilestarikan, dan diturunkan kepada generasi penerus sehingga tidak terputus”.

Tantangan lain yang dihadapi oleh bangsa ini ialah adanya superioritas tertentu yang menganggap bahwa budayanya itu lebih penting, lebih maju, lebih ideologis, atau filosofinya itu lebih hebat dibandingkan dengan budaya yang lain.

“Itu mungkin sifat manusiawi “egoisme”, saya piker ya kalau bisa itu dikendalikan. Tetapi saya lebih melihat bahwa namanya kearifan lokal itu ya arif adalam hal menjalani kehidupan, ada cara-cara, ada nilai-nilai yang dianut suatu suku bangsa bagaimana menjalani kehidupan dengan baik” tandas Dwi.

Cara yang paling efektif dalam menanamkan nilai Pancasila bagi generasi penerus bangsa menurut tanggapan dari Ketua Umum PIM adalah harus ada sosialisasi atau marketing, harus memiliki cara-cara yang inovasi agar tujuan pendidikan itu bisa sampai, dan yang paling penting kontennya yaitu apa yang mau diajarkan, apa yang mau diinternalisasikan kepada masyarakat dan itu akan menyangkut pada pendidikan karakter bangsa. (A. L. Malo)