76 Tahun Indonesia Merdeka: REFLEKSI DAN PROYEKSI POLITIK DALAM DAN LUAR NEGERI

  • Bagikan

Jakarta- pelitanusantara.com. Pada Rabu (18/08/21), PEWARNA Indonesia kembali menghadirkan talkshow “60 Menit bersama dengan PEWARNA Indonesia” dengan tema “Refleksi dan Proyeksi Setelah 76th Indonesia Merdeka Dilihat dari Perspektif Dalam dan Luar Negeri”. Talkshow ini menggunakan media zoom meeting conference dengan narasumber Prof. Aleksius Jemadu, Ph.D., Dosen Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, Partogi Samosir, Ph.D., Direktur Center of European Union Studies, Prof. M. Yudhie Haryono, Ph.D., Direktur Eksekutif Nusantara Centre Indonesia dengan moderator Ashiong Munthe.

Refleksi setelah 76th Indonesia Merdeka, menjadi hal yang perlu dilakukan karena seiring perkembangan jaman, banyak hal berubah dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika belajar dari sejarah, ada organisasi besar dengan kekuatan tentara besar bisa bubar karena korupsi. Sehingga refleksi dan belajar dari sejarah supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama sangat diperlukan agar kedepannya Indonesia dapat semakin lebih baik dan berkembang.

Indonesia sebenarnya lahir dari mimpi untuk bebas dari penjajah dan berkembang untuk mewujudkan cita-cita menjadi lebih baik dan semakin maju. Adanya kesadaran sejarah, memunculkan penggalian secara mendalam mengenai pandangan-pandangan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Menurut Yudhi, berdasarkan refleksi dan proyeksi tersebut, Indonesia belum menemukan penggalian secara mendalam terutama dari segi gagasan. Yudhi memberi contoh “Di masa pandemi seperti sekarang, muncul istilah PPKM dan istilah lain” sedangkan seharusnya patuh terhadap konstitusi.

Ashiong menimpali pernyataan Yudhi, “Namun, semua negara belajar menangani pandemi ini, tidak satupun negara yang langsung berhasil menangani pandemi ini”. Lanjut Yudhi, “konstitusi tetap yang menjadi utama yaitu sistem lockdown yang telah ditetapkan dimana disesuaikan dengan kondisi dan aturan-aturan yang ada”.

“Negara tidak cukup kuat secara dana untuk memberlakukan lockdown, sehingga kebijakan tersebut tidak diterapkan di Indonesia” Timpal Ashiong. Menurut Yudhi, “Di masa lalu sistem ekonomi dengan konstitusi yang digunakan adalah sistem hutang kepada negara lain. Namun, di masa sekarang memang menjadi hal yang cukup sulit apabila harus berhutang dengan negara lain. “Penting untuk negara punya pemikiran untuk mengajukan ide atau gagasan lain yang istilah sekarang disebut pemikiran out of the box“, jelas Yudhi.

Aleksius menyatkan bahwa “Kita punya waktu yang cukup panjang untuk mencapai mimpi besar. Jadi, mereka tidak berdebat pada tataran ide besar. Dimana Indonesia belum secara serius mengenai mimpi besar itu,” ungkapnya.

Berkaitan dengan politik luar negeri dalam hal ini berbicara mengenai Taliban yang kini menguasai Afghanistan, tentu akan memberikan pengaruh terhadap kelompok-kelompok tertentu di Indonesia, Aleksius sebagai Akademisi Hubungan Internasional menanggapi hal tersebut bahwa, “Tantangan kita bagaimana membangun stabilitas dengan keragaman seperti ini dan memperkuat identitas kebangsaan kita supaya pengaruh itu tidak sampai mempengaruhi kelompok-kelompok tertentu,” jelasnya.

“Internal Afghanistan penuh dengan konflik kekerasan yang sudah ada sejak 1978 dan statistik 2019 menyatakan bahwa Afghanistan merupakan negara yang paling rawan konflik kedua di dunia ini. Jadi memang konflik yang terjadi sangat kompleks dan berkepanjangan,”  papar Partogi Samosir.

Refleksi setelah 76th Indonesia merdeka di masa pandemi seperti sekarang adalah penting dan perlunya pemikiran atau ide gagasan yang out of the box  untuk mewujudkan cita-cita dan mimpi Indonesia yang besar. Pada saat ini, perlu bergandeng tangan untuk menghentikan pandemi COVID-19.
Agata

  • Bagikan