Ayub TAK Sempurna..!

  • Bagikan

 

Kota Bekasi | Ayub 42:5-6, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.

KASIH TUHAN TAK PERNAH HABIS
Pengakuan dosa ini menyeimbangkan keluhan Ayub (Pasal 3). Di dalamnya terdapat pengakuan akan pemberontakan penuh dosa yang diawali dengan keluhan itu. Ini bukan pengakuan dosa sebelum penderitaannya sebagaimana dikemukakan oleh para sahabatnya. Dengan pernyataan setia tanpa syarat kepada Tuhannya mil, sebuah komitmen yang dibuat ketika ia masih menderita, dengan belum memperoleh penjelasan tentang misteri penderitaannya maupun janji untuk masa depan, Ayub membuktikan diri sebagai hamba perjanjian yang sejati, siap untuk melayani Allah tanpa pamrih. Pengakuan Ayub dengan demikian menandai keberhasilan Ayub untuk mengalahkan Iblis, pembenaran final tentang kuasa penebusan Allah.


Di dalam terang yang baru ini Ayub menemukan kembali jalan hikmat. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu (Ayub 42:6).

Pengalaman digugat balik oleh Allah merupakan pengalaman indah bagi Ayub. Saat itulah Ayub bertemu dan mengenal Allah secara pribadi (Ayub 42:5).

Seluruh cakrawala pengertian Ayub direntang-luaskan Allah, maka dilihatnya betapa tak terperikan kebesaran, keajaiban, kesetiaan dan kemuliaan Allah. Respons Ayub kini adalah menyembah hingga akhirnya mengakui kepicikannya yang telah bersalah menuduh Allah. Mengakui kebesaran Allah membuat Ayub mampu menerima realita hidup yang sedang dijalaninya. Ia mencabut gugatan yang pernah dilontarkannya kepada Allah (Ayub 42:6). Saat Ayub mengaku salah di hadapan Allah, maka saat itu pula pembenaran Allah berlaku atas Ayub. Haleluyah, kekudusan Allah tak cemari oleh pendapat manusia tentang diriNya. Namun kasih dan pengampunan Tuhan masih menjadi bagian bagi manusia. Amen.  Pst.harts – Pelitanusantara.com

  • Bagikan