Romo Benny: NU Memerlukan Kepemimpinan yang Dapat Membaca Tanda Zaman

Han_up2000
BENNY Soesetyo
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Jakarta, pelitanusantara.com. Kriteria Ideal Pemimpin Nahdatul Ulama (NU), menurut Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo adalah membaca tanda-tanda zaman dan mampu menjadi jawaban atas masalah yang terjadi dalam bangsa maupun dunia. Pernyatan tersebut diutarakan Romo Benny, sapaan akrabnya, pada Sabtu (16/10/2021) dalam acara Webinar dengan tema “Sosok Ideal Pemimpin NU menjelang satu abad”.

Webinar ini dihadiri Rektor Unisma, H. Noor Shodiq Askandar,S.E., M.M. serta menyampaikan sambutan pembukaan dengan menyatakan bahwa tujuan webinar ini adalah membuka diskusi antara Unisma bersama Narasumber dan peserta Webinar tentang cara membangun profil pimpinan ideal NU dalam segala bidang, karena NU tidak saja membutuhkan pemimpin matang, namun juga penuh dedikasi, berpandangan jauh ke depan, moralitas baik dan penerimaan tinggi di tengah tengah masyarakat.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Melalui webinar ini diharapkan mendapat kajian akademik terkait profil dan formula pimpinan NU yang dapat menjadi pencerah sekaligus penyejuk di tengah umat. Hasil webinar ini diharapkan dapat memberikan formula yang tepat sebagai kado buat Nahdatul Ulama (NU) menjelang usia yang ke-100 tahun sekaligus menyambut hari santri nasional.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka Lustrum ke-8 Universitas Islam ini. Hadir diantaranya Gus Miftah Maulana Habiburrahman, sebagai narasumber. Gus Miftah menyatakan bahwa “Pemimpin yang paling ideal memiliki tiga kriteria, yaitu memiliki aspek manajerial yang harus dikuasai, harus memiliki networking yang luas di segala bidang, tidak hanya agama saja, juga memiliki visi yang jelas dan terukur tentang masa depan organisasi, umat, bangsa, Negara dan Dunia. Ketua tahnfidz ke depan harus paham dan mengerti tehnologi, adaptif terhadap perubahan zaman, serta dapat masuk ke kaum milenial, karena mereka yang nanti menguasai Negara dan pasar pada masa depan dalam era digital”, terang Miftah.

Webinar ini dihadiri lebih dari 400 orang partisipan melalui daring (dalam jaringan/online). Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP menyatakan bahwa “NU kedepannya akan menghadapi banyak tantangan. Dengan demikian siapapun nantinya yang akan memimpin NU, maka dia harus mampu membaca sekaligus menjawab tanda-tanda zaman”, pungkas Benny.

Benny memberi contoh dalam kepemimpinan K.H. Abdurrahman Wahih atau yang akrab disapa Gusdur, pada ujung pemerintahan Order Baru dalam menghadapi kerepresifan dan kediktatoran Presiden Suharto, Gusdur mampu membangun tatanan masyarakat sipil melalui pembuatan dan pengkoordinasian NGO-NGO, serta mampu memupuk para generasi muda hingga dapat menjadi tokoh-tokoh besar yang berperan penting pada kemajuan. Tidak hanya pada umat Islam, tetapi bangsa Indonesia seluruhnya. Visi yang luar biasa Ini membuat nama Gusdur harum. Tidak hanya dikancah dalam negeri, tetapi juga dunia.

Pada masa pandemi ini, sistem-sistem dan kekuatan besar telah banyak yang tumbang dan runtuh, hendaknya NU dapat mengambil kesempatan ini dengan memperkuat diri dalam dunia digital. Sekaligus melakukan konsolidasi dengan berbagai unsur masyarakat. Untuk saling membantu dan bersatu menjaga rasa persatuan di Indonesia. Hal ini dibutuhkan karena pada era digital, sekat-sekat Negara dan wilayh telah runtuh hingga berbagai macam paham atau ideologi masuk dan merusak tatanan masyarakat. Opini dapat mudah dan cepat dibangun dalam media sosial hingga merusak suatu sistem yang telah lama tertata. Ini dibuktikan dalam kasus arab spring.

Kemampuan persuasi dalam era digital merupakan hal yang utama dimiliki oleh mereka yang ingin bertahan dan berkembang, termasuk NU dan pemimpinnya, karenanya NU perlu memenuhi ruang publik dan ruang digital dengan berita-berita dan informasi tentang NU hingga NU dapat tetap menjadi jangkar perdamaian negara. Bahkan lebih jauh, yaitu jangkar perdamaian dunia.

NU sebagai Jangkar Perdamaian, khususnya sangat dibutuhkan saat saat ini dalam menghadapi ekslusifitas dan ekstrimisme kelompok yang makin meluas dan berkembang dengan memanfaatkan pandemi sebagai alasan bahwa Eksklusifitas dan Ekstrimisme adalah satu-satunya jalan penyelamat. NU diharapkan mampu memberi sumbangan bagi perdamaian dunia dengan menjaga dan menghormati inklusivitas di seluruh dunia, sehingga nilai-nilai Islam yang damai dan universal, serta ideologi Pancasila sebagai identitas Bangsa dan NU mampu terbumikan dengan baik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dunia hingga semangat Gusdur sebagai bapak demokrasi dan bapak pluralisme Indonesia mampu dapat diteruskan oleh Pemimpin Baru NU.

Pemimpin baru NU dalam membaca tanda-tanda zaman diharapkan tidak hanya sekedar dengan menghargai perbedaan pendapat dan Pandangan, namun juga dapat berperan sebagai pemimpin yang dapat memperkuat ekonomi masyarakat bawah dengan memaksimalkan jaringan kemasyarakatan NU dan mengembangkannya secara digital dan modern, sehingga warga NU dapat memaksimalkan potensinya dalam mengembangkan ekonomi, sehingga kesejahteraan seluruh warga NU dapat dicapai dan karenanya kita semua dapat berkontribusi aktif dalam membangun peradaban Indonesia dan dunia.

Pada akhirnya, menjaga kesatuan NU juga berarti menjaga negara dan menjaga dunia. Jangan karena perbedaan visi menjadikan NU terbelah, NU harus menjawab kebutuhan dunia tentang pemimpin spiritiual yang mampu berpikir global. “Ambil kembali ruang dunia yang telah dirintis Gusdur menjadi kekuatan untuk memperkuat NU dan Indonesia di mata masyarakat dunia, karena eksistensi NU dibutuhkan oleh Indonesia dan dunia” ujar Benny menutup penjelasannya.

APM