Rakerda Pewarna DIY, Wakil Walikota Yokyakarta : “Hoaks Tumbuh Subur, Wartawan Nasrani mesti Redam

Kefaspelita
WhatsApp Image 2021 09 17 at 11.41.58 675x360
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Yokyakarta Pelitanusantara.com Kalangan masyarakat saat ini dinilai terbagi dua kelompok dalam hal penerimaan arus informasi. Ada kalangan yang menerima informasi dengan sangat deras, tapi di sisi lain juga tidak sedikit kalangan di masyarakat yang aksesnya terbatas menerima informasi. Ironisnya, kedua kelompok tersebut dinilai menjadi tempat subur berita bohong atau hoaks berkembang, sekalipun akses yang dimiliki untuk menjangkau informasi terbatas.

Hal tersebut disampaikan Wakil Walikota Yogyakarta Heru Purwadi saat membuka Rapat Kerja Daerah I Pengurus Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna) Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 17 September 2021, di Balai Kota Yogyakarta. Turut hadir dalam pembukaan rakerda Ketua Dewan Penasihat Pewarna DIY Albert Yusuf Langke beserta anggota dewan penasihat Jacky Latuperissa dan Daniel Damaledo (Radio Sasando Yogyakarta), serta Philipus Setiyanto.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Heru mengatakan wartawan Nasrani diperlukan hadir di semua kelompok untuk meredam hoaks yang hari-hari ini masih tumbuh subur. “Wartawan Nasrani harus hadir di tengah semua kelompok agar semua informasi yang diserap masyarakat dipahami dengan benar,” kata Heru.

Menurut Heru, apabila kekurangan informasi karena akses yang terbatas, maka masyarakat akan mudah terhasut. Sebaliknya, ketika arus informasi sangat deras bahkan berlebihan, maka Heru tak heran bila masyarakat menjadi bingung.

“Masyarakat jadi bertanya-tanya, mana (informasi) yang benar mana yang hoaks,” tambah Heru yang sebelumnya pernah berprofesi sebagai jurnalis selama 15 tahun.

Secara khusus, Heru juga menyoroti aktivitas masyarakat di sosial media. Menurutnya, semua pribadi saat ini bisa bicara macam-macam. Masalahnya, kadang kala informasi yang disampaikan atau diterima hanya berawal dari obrolan saat kongkow yang belum tentu benar.

“Awalnya mungkin hanya sekadar analisis masing-masing agar mengobrol saat kongkow menjadi lebih segar. Tapi, berubah menjadi hoaks ketika disampaikan melalui media sosial,” papar Heru.