Tari Gandrung Banyuwangi Dalam Pergolakan Budaya Wong Kulonan (Mentaraman) dan Wong Etanan ( Osing)

Kefaspelita
IMG 20210831 WA0021

Banyuwangi – Pelitanusantara.com Bahasa (sastra) Osing di Banyuwangi tidak bisa dipisahkan dari kesenian tari Gandrung yang berakar dari kesenian Seblang. Tarian ini diselenggarakan setahun sekali sebagai upacara ritual bersih desa dalam rangka keselamatan warga desa dan mengusir roh-roh jahat.

Meskipun dalam perkembangannya saat ini Gandrung bermetamorfosa sebagai tari pergaulan yang mirip dengan seni tayub, gambyong, atau ledhek di masyarakat Jawa, namun pada awalnya tari Gandrung sebenarnya mengandung nilai-nilai simbolis perjuangan wong Blambangan dengan identias “Osing”-nya. Gandrung mempresentasikan karakter Osing yang aclak, ladal, dan bingkak (sok tahu, penuh percaya diri, dan tak mau mencampuri urusan orang lain) dengan memakai lirik lagu berbahasa Osing.

Menurut cerita lisan, gandrung muncul bersamaan dengan peristiwa “Puputan Bayu” (perang habis-habisan di Bayu) sebelum Blambangan jatuh ke tangan VOC yang dibantu oleh Mataram (Amangkurat II). Perang ini memakan korban sekitar 60.000 orang Blambangan. Padahal jumlah keseluruhan warga Blambangan saat itu hanya berjumlah 65.000 orang.

Peperangan ini melegendakan tokoh Sayu (Mas Ayu) Wiwit, pejuang wanita tanah Blambangan yang menjadi inspirasi lahirnya tarian seblang sebagai bagian dari Gandrung. Bahkan sebagian masyarakat Banyuwangi mempercayai arwah Sayu Wiwit akan hadir menuntun penari Seblang pada saat melantunkan gending SUKMA ILANG pada bagian akhir pertunjukan Gandrung.

Akibat perang Puputan Bayu ini masyarakat Blambangan menyingkir ke pedalaman dan dalam waktu panjang bertahan dan bergerilya di hutan-hutan. Komunikasi antarprajurit (pasukan) dijalin dengan menggunakan media tarian Gandrung yang membawakan lagu-lagu perlawanan dan berita-berita rahasia dari bahasa sandi yang kemudian populer dengan nama bahasa Osing.

 

Fungsi tari Gandrung dengan bahasa Osing nya sebagai simbol perlawanan tampak dengan tampilan gandrung yang cenderung bebas, menafikan keteraturan, kecanggihan, dan kerumitan yang menjadi ciri khas kebudayaan keraton Mentaraman. Melalui gandrung dan bahasa Osing nya, kebudayaan keraton Mentaraman (yang oleh orang Osing disebut sebagai wong kulonan) bersama-sama dengan kekuatan VOC yang notabene melahirkan budaya kraton dianggap menghegomoni budaya dan sosial politis masyarakat Blambangan dilawan habis-habisan.

Apabila budaya kraton produk wong kulonan (baca, Mentaraman) membuat benteng kebudayaan kraton yang penuh dengan aroma pensakralisasian, serba kehalusan, ketertutupan, perumitan, penghalusan, keselarasan dan kecanggihan sehingga menutup peluang improvisasi (semisal tari bedhoyo, serimpi, dlsb), masyarakat Osing justru membuat gandrung yang penuh dengan kebebasan, improvisasi, kesederhanaan dan ke ekspresifan yang sekaligus menjadi simbol identitas budaya sebagai wong etanan (“orang Timur”) yang berada pada posisi berseberangan dengan wong kulonan (“orang Barat”).

Apabila kesenian wong kulonan hadir sebagai produk budaya yang menganggap dirinya sebagai produk budaya “adi luhung” karena itu harus memisahkan diri dan mengambil jarak sedemikian rupa dengan masyarakat luar kraton, Gandrung hadir sebagai kesenian produk dari sistem masyarakat akar rumput yang membongkar standar estetika kraton dengan meleburkan diri pada kebudayaan massa.

Secara tersirat, melalui Gandrung masyarakat Banyuwangi dengan identitas mereka sebagai wong etanan menyindir dan mengkritik produk kesenian (budaya) wong kulonan yang meskipun tampak serba halus, selaras, dan penuh kerumitan sejatinya di dalamnya penuh dengan aroma kekuasaan, ambisi penaklukan, penindasan dan peperangan. Bagi mereka sebagai wong etanan, kebudayaan kraton wong kulonan (mentaraman) yang serba harmoni dan penuh cita rasa kehalusan itu hanyalah simbol kekuasaan feodal yang tidak berdaya di bawah kendali kekuasaan kolonial.(Kang Bandri.)