Berhasil Evakuasi 26 WNI dari Afganistan, IMO-Indonesia Apresiasi Pemerintah RI

  • Bagikan

JAKARTA – PELITANUSANTARA.COM | Ikatan Media Online (IMO-Indonesia mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengevakuasi 26 warga negara Indonesia (WNI) di Afganistan.

Ketua umum IMO-Indonesia, Yakub Ismail mengatakan, aksi cepat pemerintah bersama Tim Evakuasi Indonesia yang terdiri dari Kementerian Luar Negeri, TNI Angkatan Udara, dan Badan Intelijen Negara (BIN) serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kabul, Afghanistan dalam menyelamatkan WNI di negara tersebut merupakan sebuah keputusan yang patut diacungi jempol.

“Ini membuktikan kalau pemerintah sangat sigap dalam menyikapi setiap persoalan yang ada, terutama menyangkut keselamatan warga negara,” kata Yakub melalu keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (22/8).

Apalagi, kata dia, dalam aksi tanggap cepat itu, pemerintah tidak hanya menyelamatkan WNI, namun atas permintaan pemerintah Filipina, pemerintah juga turut membantu mengevakuasi warga Filipina yang berada di Afghanistan.

“Kita tahu, dalam upaya penyelamatan itu, pemerintah berhasil menyelamatkan sebanyak 16 yang terdiri atas dari Kedutaan Besar RI (KBRI) di Kabul dan 10 non-staf KBRI di Kabul,” terangnya.

“Kemudian turut mengevakuasi 5 warga negara Filipina dan 2 warga negara Afghanistan yang masing-masing suami dari WNI dan staf lokal KBRI di Kabul,” sambungnya.

Dengan begitu, menurut Yakub, keberhasilan evakuasi tersebut menandakan bahwa pemerintah Indonesia sangat serius dalam mengamankan dan menyelamatkan warga negara Indonesia.

Tidak hanya itu, ia juga menyebut meski proses evakuasi dihadapkan dengan berbagai rintangan, seperti proses perizinan pendaratan pesawat yang tidak mudah karena bandara Kabul berada dibbawah pengelolaan NATO, tidak menyurutkan semangat dan keseriusan dalam misi kemanusiaan itu.

“Tim Evakuasi Indonesia tetap bekerja keras dan tidak pantang menyerah hingga akhirnya berhasil mengevakuasi para WNI,” tandasnya.

Bahkan, kata dia, Kementerian Luar Negeri Indonesia harus berkomunikasi dengan berbagai pihak seperti pejabat NATO, Amerika Serikat, Turki, Norwegia, dan Belanda guna memuluskan upaya penuh resiko tersebut. Tutup (RK/RED)

  • Bagikan