TRENGGALEK – Kupatan merupakan tradisi turun temurun warga masyarakat Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, tradisi Bodho Kupat yang tenar dengan istilah kupatan itu terjadi sejak puluhan tahun yang silam yang dulunya hanya dilaksanakan diwilayah Durenan.
Sekarang, tradisi Lebaran Ketupat (riyoyo kupat/Kupatan) tidak hanya diperingati di daerah Durenan saja. Di wilayah Trenggalek, tradisi Kupatan bisa dibilang umum dilakukan.
Untuk dibeberapa daerah disebagian wilayah Trenggalek, seperti di Kampak, Kupatan (Bodo Kupat) digelar oleh sebagian warga justru dihari ke7 Syawal pada malam hari, Minggu 8/5/2022 berketepatan 7 Syawal th 1443 Hijriah.

Selain menyajikan menu ketupat dan aneka jajanan juga diselingi dengan berbagai hiburan, sembari bersilaturrhokhim juga berwisata diarea wisata kupat disepanjang jalan kawasan kampung.
Berbagai hiburan dalam acara malam kupatan ini juga disuguhkan untuk memanjakan para pengunjung, live music, music angklong, barongsai dan beberapa jenis atraksi yang terakselerasi dengan panorama kerdip lampu yang tertata apik membuat malam kupatan menjadi daya tarik tersendiri.

Tanpa mengurangi kesakralanya, dalam merayakan kupatan walaupun digelar malam hari berkolaborasi dengan berbagai hiburan, justru mampu merubah wajah kampung menjadi wisata tahunan yang digandrunge oleh berbagai kalangan.
Selain sebagai bentuk ikatan ukuwah atar sesama, ketua panitia Jhon saat ditemui awak media menuturkan, ada hal yang bisa kita jadikan sebagai bahan pembelajaran bersama, kupatan merupakan media untuk menumbuh kembangkan kesadaran dan keihklasan.

“Dilihat dari sudut pandang ekonomi ternyata ada perputaran uang yang cukup mengagetkan dalam pembiayaan wisata malam kupat, total biaya yang dikeluarkan dalam kupatan malam ini kisaran 75jt, yang semua bersumber dari keihlasan warga setempat dan juga sumbangan dari warga sekitar dan para kawula muda,” jelas Jhon.
Dalam tradisi Lebaran Ketupat malam, masyarakat yang berkunjung kearea tanpa terkecuali bisa langsung mencicipi kutupat dengan hidangan lain sepuasnya diarea yang telah dipersiapkan.

“Ada hal yang unik dan menarik dalam Kupatan Malam yang digelar disebagian wilayah Trenggalek, utamanya di Kampak, Karangrejo dimana dalam menyajikan hidangan ketupat tidak didalam rumah warga namun hidangan semua disajikan dipingir jalan kampung yang telah dipersiapkan sedemikiyan rupa dan dirias seindah mungkin,” jelas Jhon ketua panitia.
Dan Kupatan malam ini sama halnya dengan warung gratis dalam satu malam, siapapun yang datang tanpa terkecuali bisa singah diarea wisata kupat malam dan menikmatinya.
Jhon juga menambahkan, arti dari ketupat secara menyeluruh adalah nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.
Jika merujuk pada asal mulanya di Durenan, masyarakat di sana menjaga tradisi Lebaran Ketupat ini hingga sekarang sebagai wujud nilai luhur silaturahmi, sedekah, dan memuliakan tamu.
“Dari situ, diharapkan bahwa sebagai manusia, kita mampu bersikap arif dengan cara mudah memaafkan kesalahan orang lain,” jelasnya.
Tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan ini, juga ditafsirkan dari bahasa Arab kaffatan, yang artinya kesempurnaan, dalam konteks kembali ke fitrah di momen Idul Fitri.
Dengan logat lidah orang Jawa, kaffatan terucap menjadi Kupatan.
(mj pelitanusantara.com)
